Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
kekesalan Marissa


__ADS_3

Bu Yati jadi semakin heran dengan perkataan Davy. "Keterpaksaan karena keadaan?"


" Iya bu, jika aku menikahinya sekarang itu seolah hanya karena menjadi pelarian untuk Marissa. Aku ngga mau itu terjadi. "


" Ya sudah terserah kamu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu dan Marissa. Semoga kalian sama sama bisa menjaga hati kalian. "


*


*


*


Hari ini Marissa sudah resmi menyandang sebagai mahasiswi baru. Kegiatan penerimaan mahasiwi baru telah berlangsung satu minggu kemarin. Davy yang juga sibuk bekerja tetap membantu Marissa di sela kesibukan nya.


Walaupun tak bisa seratus persen ada bersama Marissa ia selalu menyempatkan diri untuk saling bertukar kabar. Beruntung ketiga bodyguard abal abal Marissa ikut kuliah di universitas yang sama hanya beda fakultas. Sehingga membuat Davy sedikit tenang.


Ketiga ponakan Davy itu selalu siap sedia mengantar atau pun menjemput Marissa jika Davy tengah berhalangan karena bentroknya jadwal kerja.


Perasaan was was yang awalnya Davy rasakan kini hilang seiring berjalan nya waktu. Iya sangat percaya pada Marissa.

__ADS_1


Seperti hari ini Davy tak bisa mengantar Marissa ke kampus karena ia memiliki banyak pekerjaan di kantornya. Davy yang kini bekerja di salah satu koperasi yang cukup ternama di kota itu akhirnya mendaulatkan Yogi untuk menjemput sang kekasih.


" Ca... buruan napa? ribet banget lo. Gue ada kelas pagi nih. " gerutu Yogi. Ia sengaja mengbil fakultas hukum karena ingin menjadi seorang pengacara.


" Iya pa pengacara! " ledek Marissa sambil bergegas naik ke motor Yogi. " Pengangguran banyak acara. " kekeh Marissa lagi.


" Enak aja lo! " Yogi segera menjalankan motornya karena ia buru buru hari ini sang dosen killer lah yang bagian mengajar di kelas nya. Telat satu menit saja ia tak akan bisa mengikuti mata kuliah nya itu.


Walaupun sudah kuliah penampilan Marissa tetap sama tak ada yang berubah darinya. Sikap cuek nya kadang membuat Yogi dan kedua teman nya geleng geleng kepala. Bukan cuek sih malah terkesan tomboi.


" Gue heran sama lo Ca. Ga ada girly girly nya heran. Dandanan udah kaya cowo aja. " memang Marissa hanya mengenakan celana jeans dengan kaos yang di padukan kemeja kotak kotak. Sesimpel itulah dia. Namun sama sekali tak mengurangi kadar kecantikan nya yang alami.


" Buset pede amat lo! berarti cowo itu ga normal suka cewe modelan kaya lo. "


" Enak aja, gue bilangin ka Davy lo baru tau rasa. Lo pikir ka Davy ga normal apa? " ketus Marissa ia menggeplak helm milik Yogi hingga sang empunya tertawa terbahak bahak.


Hanya berselang sekitar dua puluh lima menit mereka sudah sampai di kampus. Yogi tak bisa mengantar Marissa sampai ke kelas karena ia buru buru. Mereka berpisah di parkiran.


Marissa yang asik berjalan sendiri tiba tiba di kagetkan oleh seorang mahasiswa yang Marissa tau jika laki laki itu kaka tingkatnya. Entah dari fakultas apa Marissa tak tau.

__ADS_1


" Hey... lo Marissa kan? kenalin gue Gavin yang waktu itu ketemu pertama kali di parkiran lo inget kan. " Ia menyodorkan tangan pada Marissa ingin bersalaman. Marissa hanya diam ia terus melangkah tanpa memperdulikan Gavin.


Terserah mau di cap sombong atau apa Marissa tak perduli. Menurut Marissa itu tak penting. Yang ia inginkan saat ini belajar sungguh sungguh agar tak mengecewakan Davy.


" Hey.. ko lo diem aja. " Gavin tiba tiba menarik tangan Marissa. Ia gereget sendiri karena selama ini ia tak pernah di abaikan oleh perempuan malah dia lah yang selalu mengabaikan perempuan.


" Lo apa apaan? jangan ganggu gue. " geram Marissa. Yang justru membuat Gavin semakin penasaran ini pengalaman pertamanya di abaikan perempuan di universitas itu.


Marissa sudah semakin kesal karena Gavin tak juga melepas tangan nya. Semenjak bertemu Marissa beberapa hari lalu Gavin selalu mengganggu Marissa. Namun gadis itu tetap cuek seolah menganggapnya tak ada.


" Ca... " suara Jaka dan Deni terdengar berbarengan mendekat ke arah Marissa. Jaka langsung menarik tangan Marissa.


" Apa apaan lo? main tarik tarik tangan sodara gue. " ketus Jaka. Ia sudah menyembunyikan Marissa di balik punggung nya. Tubuh Marissa yang mungil tertutup sempurna di balik tubuh Jaka yang jangkung.


" Oh jadi dia sodara lo. Gue ga ganggu cuma pengen kenalan aja. " terang Gavin.


" Ga usah ga perlu. " ketus Deni. Gavin mengernyit bingung.


" Kenapa? "

__ADS_1


" Gue udah punya suami. " terang Marissa di balik punggung Jaka. Sontak membuat Jaka dan Deni menatap ke arahnya. " jadi tolong jangan ganggu gue. Gue cuma mau belajar dengan tenang. Gue ga mau suami gue salah paham. " Marissa sangat jengkel pada Gavin karena ini bukan pertama kalinya Gavin mengganggu Marissa.


__ADS_2