Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
kesedihan keluarga Marissa


__ADS_3

Davy yang baru datang dari kota langsung menuju rumah kake Marissa. Ia tau betul kini Marissa pasti tengah bersedih.


Perjalanan seharian naik bus tak membuatnya merasa kelelahan. Yang ada di pikiran Davy sekarang hanya Marissa Marissa dan Marissa.


Tampak beberapa orang sudah berkumpul untuk melaksanakan tahlilan. Bahkan Pa Eko ayah Davy pun sudah ada di sana.


" Eh Davy kamu pulang nak? Ayah kira kamu gak jadi pulang hari ini. " tanya Pa Eko


" Iya yah, Davy khawatir sama Marissa. Maaf Davy ga pulang dulu malah langsung kesini." Davy mencium tangan sang Ayah.


" Ga papa nak, di rumah juga tak ada orang. Ibu kamu juga di dalam mungkin sedang menemani Marissa. "


" Ah iya yah, Davy kedalam dulu. "


¤¤¤¤


" Dek... " panggilan Davy membuat Marissa menoleh seketika. Ia yang tak menyadari kedatangan Davy di buat diam mematung.


" Dek.. ini kaka. "


Marissa segera berhambur memeluk Davy entah bagaimana perasaan nya saat ini. Sedih senang haru bercampur menjadi satu.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Marissa. Ia hanya menangis tersedu sedu. Hanya getaran di tubuh Marissa saja yang terlihat begitu jelas dari remaja itu. Tangisan yang begitu menggambarkan kesedihan mendalam dari Marissa.

__ADS_1


" Dek... kamu yang sabar ya. Kamu harus kuat. Ingat ibu kamu membutuhkan kamu. " Davy terus mengelus lembut punggung Marissa untuk menenangkan nya.


Entah mengapa saat bersama Davy ia tak lagi bisa menyembunyikan kesedihan nya. Ia selalu berusaha bersikap kuat dan tegar di hadapan sang ibu.


Beberapa saat berlalu Marissa mulai tenang. Ia menyadari jika posisinya saat ini sangat tidak sopan. Memeluk seorang lelaki di hadapan beberapa saudaranya yang lain.


" Maafkan Marissa ka. Marissa terbawa suasana. " sambil melepaskan pelukan nya.


" Iya tidak apa apa dek. Kaka faham situasi kamu. Jangan sungkan jika kamu mau, kamu bisa membagi semua kesedihan dan masalah mu pada kaka seperti biasa. "


Tahlil pun di mulai. Lantunan suara ayat suci menggema di setiap sudut rumah kake. Sosok kake yang dermawan dan bersahaja sering menjadi panutan untuk warga sekitar. Sehingga tak heran banyak orang yang berbondong bondong datang mendoakan kake dan turut berbela sungkawa.


Marisaa pun ikut larut dalam Bacaan ayat suci yang menenangkan hati.


¤¤¤


Hanya tinggal bibi Marissa saja yang masih menemani mereka.


" Ca.. mana ibu mu kenapa belum kelihatan sejak tadi? biasanya ibu mu yang bangun duluan. Kita sarapan bersama. "


" Biar Marissa lihat bi, sepertinya ibu masih di kamar. "


" Iya. Coba lihat karena tidak biasanya ibumu bangun siang seperti ini. "

__ADS_1


Dengan terburu buru Marissa segera mendatangi kamar sang ibu. " Bu... Bu... "


Beberapa Kali Marissa memanggil sang ibu namun tak ada jawaban.


Karena begitu hawatir ia pun segera membuka pintu. Tampak sang ibu masih tertidur di balut selimut tebal.


" Bu.... " lirih Marissa sambil mengguncang pelan Lengan sang ibu.


" Hmmm..."


" Ibu sakit? badan ibu terasa panas? "


" Ibu hanya demam Ca, tak usah hawatir. "


Marissa segera bergegas mengambil nasi di dapur dan obat untuk mengobati sang ibu.


"Apa ibu mu sakit Ca? "


" Iya bi badan nya demam. "


Dengan telaten Marissa segera menyuapi ibu nya dan memberi obat.


" Sudah Ca kamu berangkat gih sudah siang biar bibi yang merawat ibu mu. Nanti kamu telat. Nak Davy sudah menunggu di depan. "

__ADS_1


" Iya bi, Marissa titip ibu... "


__ADS_2