
Entah mengapa hari ini Marissa begitu malas untuk pulang ke rumah Pa Hendra. Ia sedang malas berurusan dengan Ruby yang selalu berusaha mencari masalah dengan nya.
Sudah hampir seminggu sejak pernikahan Bu Rina dan Pa Hendra. Namun Ruby dan Marissa selalu tidak akur. Ada saja hal yang selalu di perdebatkan. Semua yang Marissa lakukan selalu salah di mata Ruby. Hal itu membuat Marissa jadi tidak nyaman berada di rumah Pa Hendra.
Hari ini ia memutuskan untuk pulang ke rumah almarhum kakenya. Walaupun harus tinggal sendiri itu akan terasa lebih baik untuk Marissa. Jika ia harus selalu berdebat dengan Ruby ia merasa kasihan pada sang ibu.
Dengan susah payah dia meminta ijin pada Bu Rina. Awalnya penolakan yang ia dapat namun karena Marissa tak henti memberi penjelasan ahirnya ia di ijinkan juga.
" Kamu yakin de mau tinggal disini sendirian? Kamu ga takut? " Davy sedikit ragu akan keputusan Marissa. Ia merasa tak tega jika harus meninggalkan Marissa seorang diri.
" Kaka ga bisa nemenin kamu loh de. Bener kamu yakin mau tinggal disini sendiri? "
" Yakin. Sangat yakin malah. Kaka ga usah hawatir aku kan pemberani. " jika Marissa sudah berkata seperti itu Davy tak bisa berbuat apa apa. Ia hanya bisa pasrah dan mendukung keputusan kekasihnya.
" Ya sudah. Jika ada apa apa langsung telpon kaka. Oke! " Marissa mengacungkan dua jempolnya ke arah Davy. " Kaka pulang ya. "
__ADS_1
Setelah kepergian Davy Marissa langsung masuk kedalam rumah sang kake.
" Asalamualaikum.... " perlahan di bukanya pintu itu. Kenangan kenangan saat sang kake dan nene masih hidup berputar kembali di pikiran nya.
" Ne... ke... ica pulang... " air mata begitu saja menetes dari sudut mata Marissa. Dadanya tiba tiba sesak.
" Andai kalian masih ada. Pasti Ica akan lebih memilih tinggal bersama kalian. " ia terduduk di sebuah kursi tempat sang kake biasanya duduk. Di usapnya lengan kursi itu seolah ia tengah mengusap lengan sang kake.
" Ica tau keputusan Ica untuk tinggal di sini salah.Tapi Ica tak punya pilihan ke.. ne.. saat ini hanya disini tempat ternyaman ica ke.. ne..."
" Sekarang Ica benar benar sendiri Ke.. Ne.. mereka telah memiliki keluarga masing masing. Ica merasa jadi orang asing saat berada bersama mereka. Maafkan ica jika ica egois. Tapi hati ica rasanya sesak saat harus memanggil orang lain ayah dan ibu. " ia menangis sesegukan mencurahkan semua kegundahan hatinya. Walaupun ia sadar tak akan pernah ada jawaban dari semua keluh kesah nya.
Marissa tersadar saat suasana sudah gelap. Dering di hp nya membangunkan nya.
(hallo ka..)
__ADS_1
(Kamu kemana aja dek? dari tadi kaka telpon ga di angkat angkat. Kaka hawatir. )
(maaf ka... Aku ketiduran ini baru bangun. Aku mamdi dulu ya. )
Segera Marissa menyalakan lampu lalu bergegas mandi. Suasana malam yang sunyi sepi tak membuat Marissa takut. Justru kedamaian yang ia rasa.
Baru saja ia selesai mandi suara pintu di ketuk begitu nyaring. Buru buru ia membukanya.
Tampak Davy dengan baju santai nya tengah menenteng beberapa keresek yang Marissa yakini itu adalah makanan.
" Kaka bawa apa? "
" Ya ampun kamu dek. Bukan nya nyapa kaka dulu malah nanya bawa apa. Nih kaka bawa nasi buat kamu pasti kamu laper kan belum makan? " marissa menggangguk.
" Tapi kita makan di teras aja ya ga enak sama tetangga. Takut di grebek... "
__ADS_1
" Bukan nya enak ya biar cepet nikah. " celetuk Marissa.
" Kamu de masih kecil udah mikirin nikah aja. "