
Davy hanya tersenyum mendengar ucapan Marissa. Ia setuju dengan ucapan Marissa.
" Masih bocah udah ngga sopan. Aku tau pasti kamu yang kegatelan kan sama Davy. Aku tau Davy itu susah di dekati apa lagi sama gadis bau kencur kaya kamu. Dasar murahan... " tuding Dwi lantang ia dengan seenak nya menunjuk nunjuk wajah Marissa.
" Maaf mba. Sebelum anda menilai orang lain nilai lah diri anda sendiri. Asal anda tau saat anda menunjukan satu jari anda kepada saya maka empat jari lain menunjuk pada diri anda sendiri." Marissa berbicara sambil berdiri dari duduknya. " Oh iya apa yang di sebut wanita baik baik itu seperti anda yang dengan leluasa memeluk meluk lelaki? "
Keributan yang di ciptakan Dwi dan Marissa mengundang perhatian pengunjung lain. Banyak yang ikut gereget melihat kelakuan Dwi. Banyak yang salut akan ketenangan Marissa menghadapi wanita pengganggu itu.
" Kamu pikir kamu gadis baik baik? mana ada gadis baik baik pulang sekolah langsung keluyuran. Pasti kamu ayam sekolah." tuding Dwi.
" Apa terlihat jelas di wajah saya kalo saya ini gadis seperti itu? Mungkin ibu ibu dan para pengunjung di sini juga bisa menilai. Saya atau anda yang gadis baik baik. " terang Marissa tak mau kalah.
__ADS_1
" Udah Wi lebih baik kamu pergi. Ga enak di lihat orang. "
Dwi berlalu sambil terus memaki maki Marissa. Ia tak terima di perlakukan seperti itu.
" Maaf semuanya telah mengganggu ketenangan kalian dengan keributan barusan." Marissa dan Davy membungkukan badan tak enak hati karena telah mengganggu pengunjung lain.
Davy mengajak Marissa pulang setelah selesai makan baso. Situasi menegangkan tadi sama sekali tak mengganggu na*su makan mereka. Di tengah jalan Davy memberhentikan motor nya.
" De, kaka ga suka kamu diemin gini. " memang sejak tadi Marissa diam. Perasaan nya aga sedikit was was jika mengingat ucapan Dwi tadi.
" Aku ga papa ka. Cuma lagi males ngomong aja. "
__ADS_1
" Kamu marah soal tadi? "
" Tidak, untuk apa aku marah. Aku tau kaka tidak main main pada ku. Kaka emang jarang bilang cinta sama aku. Tapi kaka selalu membuktikan dengan perbuatan kaka. Jadi untuk apa aku ragu akan cinta kaka. Aku tak ingin munafik memang kadang aku juga ingin mendengar kata kata cinta keluar dari bibir kaka...." Marissa menjeda ucapan nya " Tapi aku lebih senang saat kaka mengungkapkan cinta kaka dengan pembuktian semua kasih sayang kaka pada ku begitu jelas terasa. Kaka tak memiliki hubungan darah dengan ku tapi kaka mau berkorban sejauh ini untuk ku. Apa itu tak membuktikan kasih sayang kaka pada ku. Kaka itu kekasih ku. Ayah ku. Kaka laki laki ku. Teman ku. "
" Terimakasih kamu sudah mengerti kaka. Kaka memang tak pandai berbuat dan berkata romantis. Kaka tak ingin mengobral janji kaka ingin memberikan kamu bukti atas kesungguhan kaka. "
" Aku tau. Kalau kaka tak menyayangiku mana mungkin kaka bongkar celengan kaka yang sangat berharga itu untuk ku. "
" Celengan? " Davy pura pura tak mengerti.
" Udah ah ayo pulang udah sore. "
__ADS_1
Davy melihat wajah Marissa dari kaca di motornya. Ia merasa tak pernah puas untuk memandangi Marissa. Gadis yang selalu menghiasi hari harinya. Gadis yang hampir empat tahun bersama nya, banyak suka dan duka yang telah mereka lewati bersama.