
Kemarahan Davy sudah sampai ubun ubun. Ia begitu kesal. Niat jalan jalan pun ia urungkan.
" De kita pulang aja ya kaka lagi ga mut nih. Kita beli makanan terus pulang ya. Ga papa kan. "
" Ya udah. Gimana kalo kita beli makanan terus makan bareng di rumah kake. Itung itung piknik. Lagian Ada yang harus aku ambil sekalian tadi lupa bilang sama kaka."
Mereka membeli beberapa makanan untuk di bawa ke rumah kake. Davy lebih banyak diam. Emosinya belum juga reda.
Sampai Marissa selesai menyiapkan makanan pun Davy masih diam. Mereka sengaja menggelar tikar di depan rumah kake di bawah pohon mangga yang rindang. Biar berasa piknik beneran katanya.
" Ka diem terus. Aku ga suka ya di diemin gini sama kaka. Kaka marah sama aku? Ayo dong ngomong ka biar aku tuh tau salah aku dimana."
" Kaka ga marah sama kamu de. Kaka cuma lagi kesel aja kamu harus di bentak bentak kaya tadi. Apalagi kaka penyebabnya. " sendu Davy
" Aish... kirain apa ka. Udah ga usah di pikirin. Orang kaka udah belain aku kan. Lagian kalo sendiri pun tadi aku ga takut buat lawan dia. " tengil Marissa.
" Kenapa? "
__ADS_1
" Kaka lupa sabuk hitam ku? kalo soal bicara aku juga bisa bicara lebih pedas dari dia. Malah bisa lebih pedas dari omongan tetangga. " marissa terkekeh.
Davy menepuk jidatnya. " Ah iya kaka lupa. Kamukan jagoan. " Ahirnya Davy pun ikut terkekeh geli akan tingkahnya sendiri.
Davy melihat senyuman Marissa yang terlihat begitu manis.
" De... " Suara Davy tiba tiba serius. Ia memegang kedua bahu Marissa dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Kedua pasang mata mereka beradu saling mengunci. Seolah meminta lebih. Dengan kesadaran nya yang mulai kembali Marissa segera menunduk.
" Boleh kaka c*um kamu de? " Marissa jadi salah tingkah saat Davy semakin mendekat. Antara iya dan tida. Batin nya menolak namun tubuhnya seolah mengiyakan.
Deg
Davy dan Marissa seketika menoleh bersamaan posisi mereka sungguh sangat tidak menguntungkan jika di lihat dari sisi orang itu berdiri.
Sebuah deheman keras berhasil mengalihkan atensi mereka. Tatapan Galih menghunus bagai pedang yang begitu tajam pada Davy. Malu tentu saja. Mereka jadi salah tingkah sendiri.
__ADS_1
" Mau apa kalian?" tegur Galih dengan suara dingin nya.
" Makan. " jawab Marissa cepat.
" oh... " Lalu Galih berlalu pergi masuk ke rumah Kake entah apa yang akan di lakukan nya.
" Astaga de. Jantung kaka rasanya mau copot. "
" Makanya jangan macem macem. " gerutu Marissa. Ia pun jadi tak tenang. Bukan nya makan mereka malah terus kepikiran kejadian tadi. Nafsu makan mereka mendadak hilang.
" Ca ayo pulang. " Ajak Galih tepat di belakang Marissa.
" Tapi ka ini kan lagi makan. " Marissa tak kalah memelas sedangkan Davy hanya diam membisu.
Gawat bisa bisa di pecat nih jadi calon adik ipar.Nasib nasib.
" Pulang sekarang atau kamu ga usah ketemu Davy lagi." tegas Galih. Ia tak ingin adik nya salah langkah seperti gadis seumurnya. Masa depan Marissa masih panjang.
__ADS_1
Dengan tak enak hati Marissa menuruti keinginan sang kaka. Akan sangat berbahaya jika Galih samoai mengadukan nya pada Bu Rina.
" Iya aku pulang. Puas. " ketus Marissa berjalan mendahului Galih masuk ke mobil nya.