Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
tanda perkenalan


__ADS_3

Acara begitu cepat berlalu. Semua keluarga besar sudah kembali pulang termasuk Davy. Kini hanya nenyisakan keluarga inti saja.


Pa Hendra memperkenalkan kedua anaknya. Anak pertamanya laki laki bernama Dani seumuran Silvy namun belum berkeluarga. Dan yang satunya perempuan seumuran Marissa bernama Ruby. Mereka bercakap cakap hingga larut malam.


Keesokan harinya Pa Hendra membawa bu Rina dan Marissa untuk tinggal di rumah Pa Hendra. Pa Hendra bu Rina dan anak anak pa Hendra berada di satu mobil sedang Silvy bersama galih dan Marissa bersama Davy.


" Ka apa aku harus ikut? "


" Tentu sayang. Jika kamu ga ikut maka ibu mu pasti akan sedih. Kaka janji kaka akan sering berkunjung. Kamu ga usah hawatir. Kamu ga bakal kesepian. "


" Ka... Jangan tinggalin aku ya. " Marissa semakin mengeratkan pelukan nya pada Davy. Posisi nya memang mereka tengah naik motor jadi memudahkan Marissa untuk memeluk Davy.


" Insyaalloh kaka ga akan ninggalin kamu. Semoga hanya maut yang bakal memisahkan kita. " Davy mengelus tangan Marissa yang bertengger di perutnya. " Apa sebaiknya kita tunangan dulu ya dek? nanti setelah kamu lulus kita nikah. "


" Terserah kaka saja. " Marissa bahagia mendengar ucapan Davy. Secinta apa pun seorang lelaki jika ia tak menunjukan sebuah keseriusan untuk menuju jenjang yang lebih jauh untuk apa di pertahankan.


Saking asiknya mengobrol mereka hingga tidak sadar telah sampai di sebuah rumah yang lumayan besar.

__ADS_1


" Apa ini rumahnya...? " tanya Marissa.


" Mungkin. "


Pa Hendra segera mempersilahkan istri dan anak anak sambungnya untuk masuk. Karena tak enak hari Davy memilih pulang setelah mengantar Marissa.


" De kaka pulang ya. Ga enak ini kan acara keluarga. Besok kaka kesini lagi jemput kamu."


" Tapi ka... " Davy menggeleng ia tak mau Marissa memaksanya tetap tinggal ia cukup tau diri.


" Baiklah... tetap bersamaku ya ka apa pun yang terjadi." Davy mengangguk mantap.


Setelah Davy pergi barulah Marissa masuk. Ia langsung di tunjukan kamar tidurnya oleh kaka tiri laki laki nya. Sedang yang lain tengahasik bercengkrama bersama di ruang keluarga.


" Ca ini kamarmu simpanlah baju baju mu di dalam. "


" Ya ka. "

__ADS_1


Selesai dengan urusan baju Marissa pun ikut bergabung bersama keluarga yang lain. Malam ini Silvy memutuskan untuk menginap disini ia akan menemani Marissa.


Putri kecil Silvy selalu ingin di gendong Marissa. Saat Silvy tengah sibuk memasak bersama sang ibu Marissa harus menjaga nya. Gadis kecil yang sedang aktif aktifnya. Marissa hampir kewalahan akan keaktifan gadis kecil itu.


" Ca boleh kaka bantu? " sapa Dani yang berhasil mengagetkan Marissa dia entah dari mana datangnya.


" Ah ka Dani bikin kaget aja. " Marissa tersenyum hambar.


" Aktif banget ya Ca ponakan nya. " tanpa segan ia langsung mengambil gadis kecil itu kedalam gendongan nya. Dani seperti sedang mendekati Marissa. Mungkin dia ingi lebih dekat karena kini mereka adalah saudara. Dani memang pribadi yang ramah berbeda dengan Ruby yang lebih pendiam dan terlihat acuh akan sekitar.


Sesekali Dani tertawa bersama Marissa mereka menertawakan tingkah gadis kecil yang begitu menggemaskan. Sedikit demi sedikit rasa canggung keduanya aga berkurang. Usaha Dani membuahkan hasil.


" yah.. yah... basah... " Dani langsung mengangkat tubuh gadis kecil itu dari pangkuan nya celana juga kaos nya sudah nampak basah kena ompol.


" Wah ngompol ya? " Marissa tertawa. " loh padahal pake diapers ya ko bocor. " Marissa mengambil alih gadis kecil dari gendongan Dani. " Oh pantesan orang diapers nya ngegeser gini. Udah sana mandi bau jorok ih" geli Marissa. Dani segera bangkit untuk mandi ia terus terusan mengibas ngibaskan kaos nya yang basah.


" Itu tuh tanda perkenalan dari ponakan.. " teriak Marissa

__ADS_1


__ADS_2