
Marissa sengaja mengatakan itu saat tau Galih tengah berada tak jauh dari nya memperhatikan mereka. Galih sengaja menyusul Marisaa untuk minta maaf. Namun posisi Davy yang membelakangi Galih tak membuatnya menyadari kehadiran Galih.
" Ada apa? apa ka Galih memarahi kamu? Maafin kaka de, bukan kaka ga mau tapi kamu masih sekolah. Kamu harus menyelesaikan sekolahmu de jangan buat ibu kecewa. Kalo kamu sudah lulus kaka janji bakal segera nikahin kamu biar bisa bawa kamu pergi." Davy menatap dalam mata Marissa.
" Apa gunanya perjuangan kaka selama ini jika kamu harus putus sekolah hanya karena keegoisan kaka. Kamu harus tetap melanjutkan sekolah de bagaimanapun cara nya. "
Galih termenung di balik pagar. Ia bisa mendengar dengan jelas ucapan Davy barusan. Tuduhan nya benar benar salah. Karena malu ia berbalik dan pergi dari sana.
" Baiklah jika itu mau kaka. Aku akan bersabar. " Marissa tersenyum senang. Ia senang karena Galih bisa mendengar sendiri ucapan Davy.
" Bersabar lah hanya enam bulan lagi de kamu lulus. Setelah itu kamu lanjutkan kuliah masalah biaya biar kaka yang usahakan. " Davy mengelus rambut Marissa.
" Oh... aku kira setelah lulus SMA kaka bakalan nikahin aku. " goda Marissa.
" Nah ituh. Kita nikah dulu saat kamu lulus. Setelah nya kamu bebas de buat lanjutin sekolah. "
__ADS_1
" Udah lah ga usah kuliah juga ga papa. Aku ga mau jadi beban. "
" Stttt... jangan bicara gitu. Kamu bukan beban kaka. Kamu itu sumber kebahagiaan kaka. Udah lah yu makan dulu sayang nih makanan nya mubajir kalo ga dimakan ya walau udah aga dingin. " Mereka pun makan bersama.
Setelah dirasa Marissa cukup tenang Davy memutuskan untuk mengantar Marissa pulang. Ia tak ingin membuat bu Rina hawatir. Terlebih hari sudah mulai sore.
Marissa terkejut saat mendapati Galih dan Silvy berada di rumah Pa Hendra. Namun ia berusaha acuh. Ia segera menyuruh Davy untuk pergi karena ta ingin menambah masalah.
Saat masuk Ia mengabaikan Galih dan Silvy. Ia hanya menyapa mora gadis kecil anak Galih dan Silvy yang berada di pangkuan sang ibu. Mora selalu ingin di gendong Marissa.
" Iya bu, aku mandi dulu ya gerah. " Marissa sengaja mengatakan gerah sambil melihat Galih dan Silvy.
" Ponakan cantik ateu main nya sama nene dulu ya, ateu nya mau mandi dulu. " Ia lalu beranjak pergi.
Silvy yang sudah mengetahui kejadian tadi hanya bisa mengelus tangan sang suami.
__ADS_1
" Biar aku yang bicara dengan Marissa. " bisik Silvy karena ta ingin di ketahui sang ibu.
" Baiklah. "
Silvy menyusul Marissa ke kamar. Ia ingin segera menyelesaikan masalah.
" De boleh kaka masuk. " Silvy berada di ambang pintu.
" Hmm.. ada apa? aku sedang tak ingin berdebat aku lelah. Pergilah ka aku ingin sendiri. Beri aku waktu. " dingin Marissa.
Bukan nya egois atau tak menghargai sang kaka Marissa hanya ingin menenangkan diri. Ia tak ingin berbuat kasar seperti yang dia lakukan tadi pada Galih.
" Pergilah ka."
" Baiklah jiks itu mau kamu, kaka hanya ingin minta maaf sama kamu karena selama ini telah mengabaikan mu. Kami tak pernah mengerti akan kesulitan yang kamu rasakan. "
__ADS_1
" Sudahlah ini bukan sakah kaka. Ku mohon pergilah Ka. Aku tak ingin sampai berbuat kasar pada kaka.