
Entah mengapa Adit merasa sedikit kesal mendengar ucapan Davy yang terlihat tak ingin mengajak Marissa. Ia penasaran kenapa saat bersama Davy Marissa bisa membuka diri.
Memang tak pernah ada yang mengetahui jika Adit pernah mendekati Marissa dulu. Karena dulu ia pun tak ingin jika Marissa malah menyukai salah satu teman nya.
Kenyataan itu tak bisa ia tolak saat ia berpapasan dengan Davy saat bersama Marissa.
" Lo kenapa kaya yang ga mau gitu ajak dia kesini. Semua cewe cewe kita udah pada pernah di bawa kesini malah ga jarang ikut nongkrong di sini. " pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Adit.
Sejak dulu memang Davy dan Adit sering bertaruhan untuk mendapatkan gadis yang mereka incar. Namun semenjak bertemu Marissa Davy berubah tiga ratus enam puluh derajat. Yang biasanya ia memiliki pacar hanya sebuah status karena tak pernah serius bahkan ia sama sekali tak pernah memperdulikan pacar pacarnya, lain hal nya saat ini dia seolah melupakan segalanya demi Marissa.
" Justru gue yang tanya sama lo, lo kenapa kaya ngebet banget pengen cewe gue di baea kesini? Jangan bilang lo suka sama Marissa? " tuduh Davy yang begitu ngena ke jantung Adit.
" Udah sih ah. Kalian kenapa sih ko malah ribut mulu heran. Ingat woy jangan cuma gara gara cewe kalian berantem. " Arif lagi lagi angkat suara geram dengan kedua sahabatnya itu.
" Iya lagian mau di bawa atau ngga ya terserah Davy bro. Dia pasti punya alasan kan. Apalagi kalo cewenya yang ngerasa ga nyaman. " kini Lutfi ikut menimpali.
__ADS_1
Perdebatan kecil itu ahirnya berahir saat Davy memutuskan untuk pulang. Entah mengapa tempat nongkrong yang biasanya terasa nyaman kini terasa menyebalkan untuk Davy.
Sebelum ia pergi ia menyempatkan menelpon Marissa. Berharap sang kekasih masih terjaga agar bisa mendengar suara nya. Telpon baru di angkat saat sudah dering ke tiga.
(Hallo ka... )suara Marissa serak khas orang bangun tidur.
(De.. kamu udah tidur ya? Maaf kaka ganggu ya. )
(Ngga aku tadi cuma ketiduran. Kaka dimana ko rame banget itu suaranya. )
(Ga usah ka. Udah malam juga lebih baik kaka langsung pulang aja. )
(Yah padahal pingin ketemu. Walaupun sebentar de, kaka kangen)
Mereka tertawa bersama. Semua pembicaraan Davy tak lepas dari penglihatan Adit. Ia merasa sedikit kesal melihat kedekatan teman nya itu.
__ADS_1
Walaupun Marissa tak meminta apa pun Davy tetap kekeh membelikan nya martabak telor kesukaan Marissa. Rasa rindunya terlalu besar. Davy merasa tak akan bisa tidur jika tak bertemu Marissa.
Waktu menunjukan pukul duapuluh satu tiga puluh. Jadi ia memilih bergegas sebelum semakin malam. Setelah sampai di depan gerbang ia memilih menelpon Marissa lagi.
Tak butuh waktu lama nampak Marissa keluar dengan terburu buru. Ia sedikit berlari kecil kearah Davy.
" Kaka udah aku bilang ga usah. Ini udah malam kasian. " Marissa tak membukakan gerbang karena tak enak hati dengan tetangga apalagi orang tua nya tidak ada di rumah.
" Maaf ka aku ga bisa kasih kaka masuk. "
" Iya sayang ga papa, nih di makan ya biar cepet besar. " Davy menyelipkan keresek martabak di sela sela gerbang. " Kaka kangen de sama kamu biarpun baru beberapa jam ga ketemu. "
" Ih gombal.. "
" Ngga kaka serius. Kalo kaka ga kesini sekarang kaka ga yakin bisa tidur nanti. " ia terkekeh kecil akan tingkah konyol nya.
__ADS_1
" Kaka jauh jauh kesini cuma buat liat wajah kamu loh de, biar bisa mimpi indah. "