Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
bodyguard beraksi


__ADS_3

Marissa segera menyelesaikan administrasi setelah sampai sekolah. Ia tak ingin menunda nundanya. Ia tak ingin mengecewakan Davy.


Perempuan mana yang tidak bahagia jika sang kekasih memperlakukan nya layaknya ratu. Selalu memperhatikan semua kebutuhan dan keinginan nya.


Marissa merasa beruntung walaupun ia kehilangan sosok sang ayah yang lebih memilih hidup bersama keluarga barunya, ada lelaki lain yang tak memiliki hubungan darah sama sekali yang mau berkorban untuk nya.


" Terimakasih ka... " di genggam nya kartu tanda lunas administrasi dari sekolah. Kartu itu sangat berharga bagi Marissa.


" Ternyata pepatah semua pasti ada hikmahnya itu benar. Kini aku merasakan sendiri berkat kamu ka Davy. " Marissa terus tersenyum melihat kartu itu sambil membayangkan wajah Davy yang selalu memberinya ketenangan.


" Woy Ca..." Yogi langsung merangkul Marissa.


" Sialan. Bikin kaget aja." ketus Marissa langsung melerai rangkulan Yogi.


" Santai... galak bener. Lagian lo gue panggil dari tadi juga. Eh malah senyum senyum sendiri kaya orang gila."


" Enak aja lo tuh yang gila. Main rangkul rangkul gue aja. Gue tabok juga lo... " Marissa mengankat tangan nya hendak memukul Yogi.

__ADS_1


" Santai kaka.... " Yogi mundur beberapa langkah " Ayo kalo berani atau lo mau gue pecat jadi calon ipar gue? "


" Heeeehhhh.... " geram Marissa pagi pagi harus bertemu sodara Davy yang super duper nyebelin.


" Oh iya Ca. Gue tadi denger dari bi Yati katanya Davy mecahin celengan. Apa itu buat lo? " sambil terus berjalan beriringan menuju kelas.


" Mungkin? Soalnya tadi Ka Davy ngasih gue duit. Katanya buat bayar ke sekolah. Gue udah berusaha nolak tapi dia kekeh maksa gue supaya terima tuh duit. "


" Lo beruntung, gue harap lo ga bakalan ngecewain dia. Asal lo tau itu celengan sengaja dia isi buat dia kuliah. Tapi gue yakin saking sayang nya dia sama lo dia rela ngorbanin masa depan nya. "


" Gue beneran ga enak tau Yog. "


" Iya gue sadar diri... " pasrah Marissa. " Lo pikir gue cewe apaan. Asal lo tau yah gue itu cewe super beruntung. "


" Nah itu lo tau... "


Saking asiknya mereka mengobrol hingga mengabaikan seseorang yang dari tadi memanggil Marissa.

__ADS_1


" Ca... bisa ngobrol sebentar. " Seorang lelaki datang menghampiri Marissa dan Yogi yang sudah di ambang pintu kelas.


" Ada apa? " bukan Marissa yang menjawab melaikan Yogi dengan nada ketus nya.


" Gue bicara sama Marissa bukan sama lo. " sinis lelaki itu. " Bisa gue ngobrol sebentar Ca. "


" Ada apa? bicara di sini aja? " Yogi kembali menjawab. Malah kini Yogi sudah merangkul pundak Marissa. Tak hanya Yogi bahkan Deni dan Jaka pun sudah mendekati Marissa. Mereka merasa bertanggung jawab menjaga Marissa jika di sekolah. Itu semua tak lain dan tak bukan atas perintah Davy.


" Sorry Rik. Lo bisa ngomong di sini aja. " Marissa ta enak hati apalagi melihat gelagat teman teman cowok nya yang sudah tak bersahabat.


" Gue cuma mau ngajakin lo jalan nanti pylang sekolah? lo mau ga? "


" Sorry Rik gue ga bisa cowo gue pasti langsung jemput. Lo tau sendiri kan gue udah punya cowok. "


" Oh gitu ya. Ya udah lain kali aja ya. "


" Eh lo denger ga barusan Marissa ngomong apa? budek kali lo yah. Sana pergi... " Jaka mengibas ngibaskan tangan nya mengusir Riki.

__ADS_1


" Hebat ya lo Ca punya banyak bodyguard. Emang ga aneh si cewek cantik dan baik kaya lo banyak yang lindungin. Kalo suatu saat lo berubah pikiran hubungin gue. " Riki langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan tatapan tajam tiga cowok bersama Marisaa.


" Udah ah gerah tau... " Marissa langsung pergi masuk ke kelas. Seperti itu lah Marissa kebanyakan temannya adalah laki laki karena ia merasa jika anak lelaki tak seribet anak perempuan. Ia hanya memiliki dua teman dekat perempuan. Namun sayang mereka harus terpisah kelas.


__ADS_2