
Hari ini Marissa tidak berangkat ke kampus karena dosen nya sedang ada urusan sehingga kelas di liburkan. Setelah Davy berangkat kerja ia memutuskan untuk beres beres rumah. Jarang jarang ia ada di rumah jika bukan hari minggu.
Tengah asik melipat baju, terdengar suara pintu di ketuk begitu kencang.
" Siapa sih pagi pagi udah bikin ribut. " dengan segera Marissa membuka pintu karena orang di luar sana seperti hendak mendobrak pintu bukan mengetuk pintu.
" Lama amat sih. Masa ga kedengeran! " ketus wanita di balik pintu setelah pintu di buka Marissa. Wanita itu langsung saja nyelonong masuk tanpa di suruh.
" Oh bi Ida, ada apa bi? " Marissa mengikuti Bu Ida dari belakang. Dengan sombong nya bu Ida melihat remeh kontrakan Marissa.
" Kamu yakin tinggal di tempat seperti ini? ck ck ck... emang pantas sih ya kamu tinggal di tempat sempit gini. Udah sempit ngontrak lagi. Baru nikah aja udah susah gini kasian. " ini memang kali pertama bu Ida berkunjung ke kontrakan Marissa.
__ADS_1
" Iya bi saya tinggal di sini. Justru saya sangat bahagia walau tinggal di rumah sempit ini karena saya hidup bersama orang yang saya sayangi dan menyayangi saya. Semegah apa pun rumah yang di tempati jika tidak memberi kebahagiaan untuk apa? apa lagi kita harus berbahagia diatas penderitaan orang lain. Semua itu sangat percuma, tak akan ada kebahagiaan batin yang akan di rasakan. Karena walau bagaimana pun hati kecil tidak akan pernah berbohong. Ada apa bibi kesini? "
" Sebenarnya malas juga harus bertemu kamu, jika bukan karena ayah mu yang selalu memaksa. Saya di suruh ayah kamu untuk memberikan uang sama kamu. Tapi saya pikir kamu pasti tidak akan mau menerimanya jika saya minta kamu buat bersujud di kaki saya. " bu Ida berpikir jika Marissa pasti akan mau melakukan nya karena ia dapat melihat kondisi Marissa saat ini.
" Bagaimana? " bu ida tersenyum sinis.
Marissa mendekat " Maaf ya bi, sesusah apa pun saya saat ini pantang untuk saya mengemis. Saya berpikir anda lebih membutuhkan uang itu dari pada saya. Bukan kah anda menikah dengan ayah saya hanya untuk uang? Bagaimana perasaan ayah jika tau seperti apa wanita yang di pilihnya untuk menggantikan ibu ku yang baik hati. Hmmm... pasti ayah sangat menyesal. "
" Hhhhmmm.... kamu! " bu ida menggeram kesal.
Bu Ida pergi dengan kemarahan nya yang memuncak. Niat hati ingin menjatuhkan harga diri Marissa namun malah dirinya yang di permalukan Marissa.
__ADS_1
" Awas kamu ya, saya aduin sama ayah kamu."
" Silahkan."
brak
Marissa menutup pintu dengan kasar. Air mata nya selalu saja keluar jika bertemu bu Ida. Bukan hanya karena perlakuan bu Ida yang begitu menyakiti hati nya, tapi luka lama yang seolah kembali terbuka jika ia bertemu bu Ida membuatnya kembali merasakan sakit.
Kebahagiaan keluarganya yang begitu harmonis harus hancur gara gara wanita itu. Ia selalu membayangkan bagaimana sakitnya menjadi ibu nya yang harus tetap tersenyum di hadapan ia dan kakanya di tengah kesakitan nya di hianati pa Setiyawan.
" Ayah... apa wanita seperti itu yang ayah suka? kenapa cinta bisa begitu membutakan mata ayah. Kurang apa ibuku yah... " Marissa menangis di balik pintu.
__ADS_1
Setiap bertemu bu Ida rasa kecewa nya pada sang ayah semakin bertambah. Luka itu seolah semakin hari semakin menganga.
" Kenapa yah.. kenapa? hanya karena wanita itu ayah meninggalkan kami. Apa kurang nya ibu ku yah. Jika saja saat itu ayah membuka mata ayah pasti ayah tidak akan melakukan itu." Marissa terus menangis terisak sambil memegangi dada nya yang terasa begitu sesak.