Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
kegalauan Marissa


__ADS_3

Marissa sudah tau jika kata kata itu pasti akan dia dengar tapi ia tak pernah membayangkan akan secepat ini. Ia berpikir sejenak.


*Astagfirullah ya alloh.... apa yang harus aku lakukan. Satu sisi aku ingin ibuku bahagia di sisi lain aku begitu takut jika nanti ibu tak menyayangiku lagi seperti Ayah.


Aku harus apa? aku tak ingin membuat ibu kecewa. Aku tak ingin egois ibu juga berhak bahagia*.


Karena melihat Marissa yang hanya bengong tanpa sepatah kata pun ahirnya bu Rina angkat bicara.


" Ca... jika kamu belum siap ga papa nak. Ibu ga akan menikah jika kamu memang tak menginginkan nya." Bu Rina menghela nafas "Maaf mas seper.... "

__ADS_1


"Aku setuju. " potong Marissa cepat walau bagaimana pun ia tak boleh egois. Ibunya sudah terlalu banyak berkorban selama ini.


" Tapi dengan syarat... " Marissa melirik ke arah pa Hendra.


" Syarat apa itu nak? " Tanya pak Hendra.


" Saya akan memberi restu jika om bisa berjanji akan menyayangi dan mencintai ibu saya selamanya. Saya tak ingin sampai ibu saya menangis lagi. Jika om menyakiti ibu saya maka saya tak akan segan membawa ibu saya pergi. " Marissa berkata sambil menatap lekat manik sang calon ayah tiri. Ia ingin melihat kesungguhan nya. Wajah yang biasanya ramah kini terlihat dingin.


Ada sedikit rasa lega di hati lelaki paruh baya itu. Jika Silvy bisa dengan mudah menerima nya dengan baik lain hal nya dengan Marissa selama ini dia selalu terlihat menghindarinya. Bahkan ini lah kali pertama mereka berbicara berhadapan seperti itu.

__ADS_1


Pa Hendra mengerti betul akan pemikiran Marissa. Ia tau jika Marissa sangat menyayangi sang ibu. Ia sudah mendengar dari bu Rina bahwa sudah ada beberapa pria yang mencoba melamar bu Rina namun selalu di tolak Marissa dengan berbagai alasan.


" Terimakasih om. Ingat ya om seorang lelaki itu yang di pegang omongan nya. Karena jika seorang lelaki sudah ingkar pada janjinya apa lagi yang patut di percaya dari dia. Saya harap saya tidak salah memilih memberi restu pada om. " wajahnya masih dingin. Tak ada senyuman sedikit pun dari bibirnya.


Entah mengapa suasana mendadak tegang. Kata kata yang keluar dari mulut Marissa terasa sangat pedas di dengar telinga. Bukan apa apa Marissa hanya ingin memastikan pilihan ibunya kini adalah orang yang tepat.


" Iya. Terimakasih juga kamu sudah memberikan restu pada kami. "


" Saya hanya ingin ibu saya bahagia. Selama ibu mengenal Om saya melihat kebahagiaan dari wajah ibu saya. Saya hanya tak ingin egois om karena saya tau ibu saya juga berhak bahagia. Saya harap om bisa membahagiakan ibu saya. Saya pamit om. " Marissa langsung melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan bu Rina dan Pa Hendra.

__ADS_1


Ia sudah tak kuasa lagi menahan air matanya yang hampir terjatuh. Perasaan nya tak karuan antara senang dan sedih. Ia sengaja mengunci pintu dari dalam tak ingin ibu nya masuk aebelum dia benar benar tenang.


__ADS_2