
Terduduk lesu itu lah yang bisa di lakukan pa Setiyawan. Ia sangat menyesal telah berkata kasar pada Marissa. Tanpa terasa air mata menetes dari sudut matanya. Bayangan bayangan saat ia menjaga Marissa kecil hingga remaja berputar bagai film di otak nya.
Kini ia tak pernah lagi melihat senyuman Marissa. Gadis yang biasa nya cerewet kini jadi pendiam jika berada bersama nya. Bahkan kini Marissa seperti membangun benteng dalam diri nya agar ta tejangkau oleh Pa Setiyawan.
Gadis manja nya kini telah berubah dingin.
Setelah lama merenung tanpa ba bi bu ia segera melajukan mobilnya untuk menyusul Marissa. Ia bahkan ta mengindahkan ucapan bu Ida.
" Mas mau kemana? awas aja kamu ya kalau berani nemuin anak kurang ajar itu. Mas.... " mengejar mobil pa Setiyawan sambil berteriak sesuka hati mengumpat sang suami tanpa memperdulikan sekitar. Bahkan kini teriakan nya sudah mengundang tetangga nya yang mulai berkerumun melihat tingkah bu Ida.
" Apa hah... ngapain liat liat? " ketus bu ida
" Huuhhh dasar pelakor. "
" Ya gitu deh tuh bu. Mana Ada maling berkah. Apalagi dia dengan bangga nya jadi pelakor. "
__ADS_1
" Huuhh dasar ibu ibu kurang kerjaan. Iri bilang bos.... " ketus bu Ida penuh tekanan.
" Sorry ya kita harus iri sama pencuri. " cibir ibu ibu komplek. " udah yu ah bu ibu mending kita pulang daripada nanti ketularan gatel ." bergidik melihat bu Ida.
Ta mau kalah bu Ida pun berlenggang pergi meninggalkan ibu ibu komplek dengan angkuh.
****
Disini lah sekarang Marissa di tempat yang menurutnya paling nyaman untuk melupakan segala emosinya. Suasana yang tenang semilir angin yang berhembus tiada henti. Hamparan padi yang menghijau, wangi khas padi yang menyeruak ke dalam hidung membuat Marissa sedikit tenang.
" Tapi ingat jangan pernah menunjukan kelemahan mu didepan ibu. Karena hanya kamu sekarang sumber kekuatan nya. "
Entah mengapa air mata terus saja menetes dari mata Marissa. Menggbarkan kekecewaan yang begitu besar akan sang ayah yang telah menjadi penyebab patah hati terbesar nya.
" Aku tak pernah meminta di lahirkan ka. Kenapa sekarang Ayah seolah tak pernah menginginkan kehadiran ku. Bukankah dulu dia yang selalu mengharap keberadaan ku di rahim ibu ku?. " suara Marissa bergetar beserta tubuhnya yang ikut bergetar.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Marisaa berkata seperti itu. Untuk mendapatkan Marissa Pa Setiyawan dan Bu Rina harus bejuang hingga 10 tahun. Setelah memiliki Silvy Bu Rina tak kunjung hamil lagi. Kesuburan kandungan dan kandungan lemah menjadi salah satu alasan. Entah karena ber KB atau entah karena apa mereka kurang faham.
Berbeda dengan kehamilan Silvy yang terbilang tanpa hambatan. Saat hamil Marissa bu Rina sampai harus bolak balik rumah sakit. Hingga suatu hari dokter menyarankan Bu Rina untuk melakukan kuretase karena sebuah alasan. Namun dengan kompak mereka tetap ingin mempertahankan kehamilan itu apa pun konsekwensi nya.
" Sebelum mengenal bu Ida ayah selalu memanjakan aku. Setiap keinginan ku selalu ia utamakan. Tapi kini..... " derai air mata Marissa semakin deras.
" Apa kaka tau? hari ini ayah dengan teganya ngusir aku. Dia lebih milih mereka. Hari ini juga pertama Kali ayah membentak ku. Aku tak sekuat itu ka.... " lirih Marissa tatapan nya tetap ke depan melihat hamparan sawah yang menghijau. Air mata masih setia keluar begitu saja tanpa tertahan.
" Sabar sayang, mungkin ayah hanya sedang emosi. "
" Emosi? hah aku bukan anak kecil ka. Aku mengerti semua. Hati anak mana yang tak sakit jika di bentak bahkan di usir dari rumah. Bahkan saat perempuan penyihir itu mengataiku pun dia tak bereaksi. Dia hanya diam. "
" Sabar sayang. Semakin berat Alloh menguji kita maka semakin sayang pula Alloh pada kita. Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya. Jadi kan ini semua pelajaran untuk kita kedepan nya. Agar kita tak melakukan hal serupa. " Davy segera memeluk Marissa dan mengelus punggung yang terus bergetar.
#####
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya ya