
" Ca... apa kamu ada masalah? " tanya ibu Rina saat ia menghampiri Marissa di kamarnya.
" Masalah apa bu? nggak nggak ada ko. " bohong Marissa. Ia memang bersikap biasa saja di depan sang ibu.
" Kamu yakin na? tadi ada ayah ke rumah nanyain kamu. " lembut bu Rina
" Ayah....? mau apa ayah kesini. " Marisaa terus berpura pura tidak mengerti ia sama sekali tak mau ibu nya ikut sedih. Ia selalu mengingat perkataan Davy.
Ingat de.. kamu harus kuat demi ibu. Sesedih apa pun kamu ga boleh nangis di depan ibu. Cuma kamu yang dimiliki ibu saat ini. kamu sumber kekuatan nya.
" Ko kamu Malah bengong sih nak? "
" Ah.. iya bu maaf. Aku ga tau bu kenapa ayah kesini. Lagian ga penting juga bu bahas soal ayah sekarang. Aku mau belajar bentar lagi ujian. " Marissa berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Kamu tau tadi ayah datang mau minta maaf sama kamu katanya dia udah bentak sama ngusir kamu. Apa itu benar na? " mata bu Rina sudah berkaca kaca.
" Iya bu. Maaf. Tapi ga papa ko bu aku baik-baik saja. Ibu tenang saja aku kan kuat. Udah ibu jangan nangis ntar cantik nya ilang loh. " sambil mengusap lembut pipi sang ibu. Walaupun hati nya sakit tapi ia tahan. Marissa merasa lebih sakit jika sang ibu menangis apalagi dia lah penyebab nya.
" Aku ga mau ibu nangis apalagi karena aku. Beneran aku baik-baik aja. Sudah saat nya ibu bahagia. Karena ibu pantas bahagia bu." Marisaa segera memeluk sang ibu. Matanya mulai panas.
__ADS_1
" Sayang maafin ibu. Jika ibu mempertahankan ayah mu, kamu ga akan pernah ngalamin hal ini. Maaf sayang... maaf... "
" Ssstttt.... ibu jangan pernah berpikir seperti itu. Ini sudah takdir dari yang kuasa bu. Bukan ibu yang salah. Mungkin memang jodoh ibu dengan ayah hanya sampai disitu. Ibu tak perlu menyalahkan diri sendiri. Bukankah kemarin yang bersikeras menyuruh ibu untuk berpisah dengan ayah itu aku. Jadi jangan pernah ibu merasa bersalah bu. Ibu tidak salah apa apa. Ibu juga pantas bahagia bu... "
" Terima kasih kamu sudah mau mengerti sayang. Tapi sebagai orang tua ibu merasa telah gagal membahagiakan mu. Gagal memberimu keluarga yang utuh. "
" Tidak ada yang bisa melawan takdir bu. semua sudah menjadi ketetapan nya. Untuk apa ibu bertahan sendirian jika ayah sendiri tak ingin bertahan. Tak ingin berubah. Aku tau ibu juga tak pernah menginginkan ini semua terjadi pada keluarga kita. Tapi apa daya. Banyak hikmah yang bisa kita ambil."
" Kamu benar nak. Terima kasih sudah ada bersama ibu. Terima kasih sudah menjadi sumber kekuatan ibu sayang." mereka berpelukan semakin erat untuk menguatkan satu sama lain.
####
Jika Marissa tengah saling memberi kekuatan lain halnya dengan Davy ia tengah sibuk menghitung uangnya untuk membayar biaya sekolah Marissa.
" Ah.. ahirnya ketemu juga. "
Segera ia memecahkan celengan nya. Celengan yang ia kumpulkan dari SMP untuk membantu biaya kuliah nya. Namun ia memilih tak melanjutkan sekolah dengan berbagai alasan .
" Maaf celengan aku harus membuka mu sekarang. Lagian tujuanku tetap sama untuk membayar biaya sekolah. Apalagi untuk membiayai kekasih hati ku. " Ia tertawa sendiri memikir kan kebucinan yang lumayan akut pada Marissa sosok gadis yang sudah hampir empat tahun ini bersama nya.
__ADS_1
" Kamu harus tetap sekolah Ca apa pun dan bagai mana pun caranya. " Tekadnya begitu bulat unruk mbantu Marisaa ia tak ingin melihat sang kekasih kembali terluka. " Sudah cukup penderitaan mu dek. " lirih nya.
Lama ia menghitung uang dalam celengan nya. Karena uang yang terkumpul lumayan banyak. Hingga ketukan sang ibu menghentikan nya.
" Dav makan dulu nak. Dari tadi kamu belum makan. "
" Iya bu sebentar tanggung. " davy malah berteriak dari dalam tanpa membuka pintu untuk sang ibu. Karena penasaran Bu Yati membuka pintu perlahan.
" Ah ibu.... " malu Davy kedapatan tengah membobok celengan.
" Loh ko di buka katanya kamu mau kuliah? "
" Itu anu bu... " Davy menggaruk hidung nya yang tidak gatal.
" Buat Marissa? " tebak ibu.
" Ah iya bu. Kasihan dia. Lagian kan sama aja bu aku atau dia yang sekolah." ia nyengir kuda.
" Duh bucin nya anak ibu. Kamu yakin Dav mau kasih itu ke Marissa. Dia kan baru pacar kamu. Belum jadi istri kamu kalo nanti dia punya pacar lagi gimana? Kamu ko segitu nya sih... "
__ADS_1
" Ah.. ibu mah gitu. Ga mungkin Marissa hianatin aku bu. " Walau ada sedikit keraguan dalam hati Davy setelah mendengar perkataan sang ibu.
" Ya... iya percaya... kalian kan sama sama bucin. " Bu Yati tertawa melihat anak laki-laki nya yang kini mulai salah tingkah.