
Hampir dia nunggu sudah mereka tinggal di kontrakan berdua. Sedikit banyak mereka telah merasakan manis nya berumah tangga.
Setiap membuka mata wajah Davy yang selalu Marissa lihat. Wajah yang selalu memberikan kenyamanan dan ketentraman. Marissa sangat beruntung karena Davy tak pernah sedikit pun meninggikan suaranya pada Marissa.
" Ka bangun yu.. udah siang " di kecupnya kelopak mata Davy yang masih setia terpejam. Marissa tak pernah bisa bangun duluan karena pelukan Davy begitu erat. Sehingga ia mau tak mau harus membangunkan Davy terkekeh dulu.
" Masih ngantuk de " rengeknya seperti anak kecil dan makin mengeratkan pelukan ke tubuh Marissa yang menjadi candu baginya.
" Ka... aku ga bisa napas loh kalo kaka erat gini meluknya. Ayo ih bangun aku kebelet nih." Marissa tak kalah merengek.
" Mau pipis ya? " senyum Davy yang seketika langsung membuka matanya. " Ya udah sana." mau tak mau ia harus melepas Marissa.
Suara gemericik air membuat Davy tersenyum tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke kamar mandi ia tau jika Marissa kini tengah mandi. Alhasil setiap pagi mereka mandi bersama karena Davy selalu memaksa dengan alasan takut telat.
Selesai mandi Marissa menyiapkan sarapan. Hanya ada satu mi instan yang tersisa, ma'lum sudah tanggal tua.
" Yah tinggal satu... " Marissa membolak balik mi instan itu seolah olah dia bisa menggandakan nya. " Ya udah deh buat ka Davy aja. " ia pun segera memasak mi satu satunya itu.
__ADS_1
"Ka ayo makan" saat ia melihat Davy menghampiri nya sudah tapi dengan baju kerjanya.
" Ko cuma satu de? buat kamu mana? " heran Davy.
" Aku belum laper ka, kaka aja makan duluan. Aku kan ke kampus nya nanti aga siangan jadi makan nya nanti aja sebelum ke kampus. Oh iya ka, boleh ga nanti aku berangkat bareng Yogi?"
"Kita makan bareng aja ya. Nanti kamu bohongi lagi malah ga makan. Ga mau kaka anter aja de ke kampusnya?" Marissa menggeleng
" Ga usah ka kasihan harus bolak balik, Yogi katanya mau lewat ke arah sini jadi aku ikut Dia boleh? "
" Ya udah boleh, ayo makan."
" De, kaka berangkat ya. Kamu hati hati ya. Awas jangan lupa makan. " Marissa mengangguk sambil mencium punggung tangan Davy. " Dadah cantik nya kaka... " di kecupnya dahi Marissa. Baru beberapa langkah ia kembali lagi lalu memeluk Marissa dan mencium bibirnya sekilas. " Jadi males kerja deh. " sambil mengeratkan pelukan nya.
" Udah siang ka, ntar telat dimarahin lo sama bos nya kaka. "
" Iya deh iya. " ia akhirnya pergi sambil melambaikan tangan nya. Marissa hanya tersenyum setiap pagi ada saja yang membuat Davy seolah enggan berangkat kerja.
__ADS_1
Kruyuk
Suara perut Marissa seolah tengah demo minta di isi.
" Astaga ini perut bikin malu aja." Ia segera masuk ke rumah di ambil nya nasi. " Ah sama garem aja enak kalo udah laper mah. Alhamdulilah segini juga masih bisa makan banyak orang lain yang belum tentu bisa makan. " ia mengaduk ngaduk nasi dengan garam.
Marissa makan sambil nonton tv sehingga ta menyadari kedatangan Davy. Davy kembali lagi karena ada berkas yang tertinggal. Bertapa sakit nya hati Davy saat melihat sang kekasih hati tengah makan hanya berlaukan dengan garam. Ia diam mematung di ambang pintu.
"Ya tuhan apa yang sudah ku lakukan. Berarti tadi ia sengaja menolak makan bersama karena memang ta ada lagi lauk yang tersisa. Mungkin itu tinggal mi yang terahir. "
"Ka... " Marissa tak kalah kaget saat melihat Davy. Ia segera menyembunyikan piring nya di belakang punggung nya. " Ko pulang lagi ada apa?"
" Ada berkas yang tertinggal de, kamu lagi apa? " Davy pura pura tak melihat.
" Oh aku lagi nonton TV. Di mana biar aku ambilkan." tawar Marissa.
" Tidak usah de, kaka ambil sendiri. " sebenarnya Davy sudah tak tahan ia begitu sedih melihat Marissa. Kondisi keuangan mereka memang belum lah stabil. Ia tak menyangka jika Marissa bisa sesabar itu.
__ADS_1
Marissa segera menyimpan piring yang masih terisi nasi itu. Ia tak mau Davy menjadi sedih dan merasa bersalah.