
Pagi pagi semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan. Tinggal menyisakan Marissa yang masih sibuk di kamar mencari buku pelajaran yang entah dimana.
" Ca ayo makan dulu. Yang lain udah nunggu nak. " lembut bu Rina.
" Duluan aja bu. Aku lagi nyari buku belum ketemu. " Bu Rina langsung pergi menghampiri pa Hendra untuk sarapan duluan. Setelah nya Bu Rina kembali menghampiri Marissa.
" Ibu bantu. Buku apa emang yang ga ada? "
" Buku paket kimia bu. Aku lupa naronya dimana. " Marissa terus saja mengobrak abrik meja belajarnya. " Apa ketinggalan ya di rumah kake. " Ia terus mengingat ingat.
"Ah... iya lupa semalam kan sebelum kesini aku belajar sama ka Davy. Pasti di rumah kake. "
" Ya udah makan dulu yu. Nanti sebelum ke sekolah mampir dulu ambil buku nya ke rumah kake. " Marissa mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan.
" Ahirnya keluar juga si biang onar. " ketus Ruby. yang berhasil mengundang tatapan tajam Ayah dan sang kaka.
" Ayo Marissa sini duduk di sebelah kaka. " ajak Dani. Ia menggeser kursi mempersilahkan Marissa untuk duduk.
" Marissa aja terus... "
__ADS_1
" Ruby!" bentak Pa Hendra. Ruby mendelik lalu berdiri hendak pergi dengan kemarahan nya. " Yang anak ayah itu aku bukan si Marissa tukang cari perhatian itu. "
Marissa hanya diam. Bukan tak berani untuk melawan namun ia harus belajar bersabar demi sang ibu. Ia tak mau ibu nya menjadi sedih.
Dan benar saja bu Rina menghampiri Marissa lalu memeluk bahu sang anak.
" Udah bu, Ica ga papa ko. " bisik Marissa namun masih bisa di dengar oleh bu Rina.
" Maafkan ica pa ka. Ica salah sudah membuat kalian menunggu. "
" Kamu ga salah Ca. Ga usah minta maaf itu mah si Ruby aja yang berlebihan. " celetuk Dani
" Tidak apa apa pa. "
Perasaan bersalah bu Rina semakin menjadi. Ia merasa benar benar menjadi ibu yang tak berguna. Ia tau jika Marissa pasti sakit hati oleh Ruby tapi ia hanya bisa diam saja menyaksikan anak kesayangan nya itu di hina di depan matanya.
Sekuat tenaga ia menahan air mata nya. Ia tak ingin menambah beban pikiran untuk Marissa.
Seandainya aku tidak menikah lagi pasti Marissa tak akan pernah mengalami ini semua. Maafkan ibu nak. Hanya demi kebahagiaan ibu kamu rela berkorban sebesar ini. Apa aku ahiri saja pernikahan yang baru beberapa hari ini ? Aku ga mau sampai Marissa lebih menderita.
__ADS_1
Bu Rina terus melamun sambil meremat ujung bajunya. Sikapnya itu tak luput dari perhatian Marissa.
" Bu.... Bu... ko bengong. Ayo makan" Marissa mengelus lembut tangan sang ibu yang masih sibuk meremat ujung bajunya.
" Ahh. ..i-ya." gagap bu Rina.
Seusai sarapan Marissa langsung keluar ia seperti mendengar suara deru motor yang begitu di kenalnya. Seorang pria tampan dengan senyuman khas nya sudah melambai di luar pagar.
" Tunggu ka aku pamit dulu ya. " Pamit Marissa.
Karena tak ingin sampai Davy menunggu lama ia segera berpamitan.
" Udah siap. " Marissa mengangguk " Ayo naik. "
" Ka boleh aku meluk kaka gini. " Marissa merapatkan kedua tangan nya di perut Davy. Kemudian menempelkan dahinya di punggung Davy. Jika sudah seperti itu Davy tau kalo Marissa pasti sedang ada masalah.
" Kenapa sayang? ada masalah? " Davy mengelus tangan marissa dengan sebelah tangan nya. Sementara tangan yang lain sibuk mengemudikan motor.
" Tidak. Aku hanya sedikit lelah. "
__ADS_1