
Marissa langsung masuk ke sekolah dengan Davy yang masih setia memperhatikan nya hingga punggung itu tak terlihat lagi.
Sebenarnya Davy merasa kasihan pada Marissa. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi sekarang.
" Davy. " suara pa Setiyawan membuyarkan lamunan nya akan Marissa. Ia sudah sangat hapal suara siapa itu.
" Iya om ada yang bisa saya bantu. Yah ica nya baru aja masuk om. " sesal Davy. Pa setiyawan menghampiri Davy. Ia sengaja menyusul ke sekolah berharap bisa bertemu Marissa.
" Bisa kita bicara sebentar Dav? " tatapan mata pa Setiyawan seolah penuh harap. Ia berpikir hsnya Davy yang bisa membantunya saat ini.
" Silahkan om. Ada apa? "
" Tentang Marissa. Mari ikut om. " Pa Setiyawan langsung masuk ke mobil nya tanpa menunggu jaeaban Davy. " Ikuti saya. "ia melajukan mobilnya ke sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah Marissa di ikuti Davy di belakangnya.
Tanpa basa basi Pa Setiyawan langsung mengutarakan keinginan nya pada Davy.
__ADS_1
" Sebenar nya saya ingin membicarakan masalah kemarin. Pasti kamu tau kan? "
deg
Pikiran Davy melayang ke kejadian kemarin saat ia hendak menc*um Marissa. Seketika wajahnya menegang. Ia tak tau harus berkata apa.
Astaga ka Galih gercep juga ya. Pasti dia udah bilang nih sama om Setiyawan. Gimana kalo om Setiyawan ngelarang gue ketemu lagi sama Marissa. Atau malah sengaja mau misahin kita secara terang terangan.
" I-iya om. "gagap Davy " Tapi saya bisa jelaskan ko om. " walau takut ia mencoba memberanikan diri.
"Saya tau Marissa marah sama saya. Jujur saja saat itu saya sangat emosi. Saya menyesal sudah mengusir Marissa. "
" Maksud om yang pas waktu itu ica nangis? " ia berusaha memastikan.
" Iya saya sangat menyesal. Saya tau kamu orang terdekat Marissa pasti dia cerita kan sama kamu. Saya sudah sangat merindukan nya. Saya sangat menyesali kejadian itu. Tapi berulang kali saya telpon Marissa dia tak pernah mau menjawab semua pesan saya pun hanya ia baca saja."
__ADS_1
" Iya om saya tau. Marissa memang cerita sama saya. Lalu apa yang bisa saya bantu? "Davy aga tak enak hati harus mengeyahui masalah keluarga Marissa itu.
" Apa kamu bisa bujuk Marissa agar dia mau menemui saya? Saya sangat merindukan nya. "
" Iya om akan saya usahakan. Saya pikir mungkin Marissa hanya butuh waktu om untuk menenangkan diri. Saya tau ica juga sangat menyayangi Om. Ia hanya kecewa saja om. Tapi saya yakin dia pasti memaafkan om. "
" Saya harap juga begitu. Sekali lagi saya mohon bantuan kamu Dav. "
Selepas bertemu Pa Setiyawan perasaan Davy makin ga menentu. Ia bingung jika harus membujuk Marissa yang keras kepala. Jika sudah sakit hati ia membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk melupakan nya.
" Astaga apa yang harus gue lakuin. Gue takut jika harus memaksa Marissa bertemu dengan Ayah nya justru membuat nya terpuruk lagi seperti kemarin. Atau lebih parah dia g as mau ketemu gue lagi. " ia mondar mandir di depan pa Eko yang tengah melihat pembukuan toko.
Niat hati ingin membantu sang Ayah namun apa daya pikiran nya terus saja tertuju pada pembicaraan nya tadi dengan pa Setiyawan.
" Kamu kenapa sih Dav? mondar mandir kaya gitu udah kaya gosokan aja. Ayah pusing liat kamu. Bukan nya bantuin malah bikin makin pusing. " cerocos pa Eko.
__ADS_1
" Maaf yah aku lagi bingung. Apa harus ya aku bujuk Marissa buat ketemu ayahnya yang udah ngusir dia? menurut ayah gimana? " Pa Eko memang telah mengetahui kejadian itu dari Davy. Davy selalu bercerita pada sang ayah untuk meminta nasehat.
" Sebaiknya kamu bujuk Marissa Dav. Pasti ada alasan tersendiri saat itu hingga pa Setiyawan bisa berbuat seperti itu. Lagian ga baik juga ayah dan anak bertengkar. Bujuk Marissa ajak dia bicara baik baik. Marissa gadis baik ia pasti bisa memaafkan apalagi itu ayah nya sendiri. "