Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
lebih galak


__ADS_3

Suasana hati Marissa kini berangsur membaik. Walau Ruby masih sering mengganggu nya namun kasih sayang Pa Hendra dan Dani membuatnya sedikit nyaman.


Apalagi Dani selalu memperlakukan Marissa sama seperti adik nya sendiri. Tak pernah membedakan walaupun kondisi itu sering menyulut emosi Ruby. Tapi Bu Rina sedikit lega karena melihat hal itu. Karena masih ada kasih sayang untuk Marissa di rumah ini.


" De.. kaka beliin sepatu nih buat kamu. Tadi si Ruby minta di beliin sepatu sekalian deh kaka beliin buat kamu. Di coba deh pas ga? "


" Marissa teroooossss..." teriak Ruby dari depan kamarnya. Marissa dan Dani hanya tersenyum kecil. Walaupun Ruby selalu menunjuk kan ketidak sukaan nya pada Marissa namun sikap ketusnya semakin hari semakin berkurang. Jika biasanya dia akan merebut apa pun dari Marissa kini ia tak pernah melakukan nya lagi.


" Terimakasih ka. " Marissa mencoba dan ternyata ukuran nya pas.


" Wah cukup ya, sukur deh. Awalnya kaka takut ga muat soal nya ga tau ukuran kaki kamu. " terang Dani.


" Sekali lagi terimakasih ka. " Marissa membungkukan sedikit tubuhnya dan langsung masuk ke kamarnya. Tadi ia berbicara dengan Dani di depan pintu kamarnya. Ia selalu menolak jika Dani ingin masuk ke kamar nya. Entahlah dia selalu merasa risih jika ada laki laki di kamarnya.


" Masih saja seperti itu. Kapan kamu bakal nganggap kaka ini sodaramu sendiri dek. Kamu selalu saja menjaga jarak. " lirih Dani frustasi. Usahanya untuk lebih dekat dengan Marissa selalu saja sia sia.

__ADS_1


Bukan apa apa. Dani hanya ingin mereka lebih dekat sebagai sodara. Ta ada kecanggungan lagi antara mereka. Walau bagaimana pun kini mereka bersodara.


Tapi Marissa selalu saja membatasi diri. Seolah ia tengah membangun benteng pertahanan sendiri. Dan itu membuat Dani merasa sedikit kecewa.


*


*


Walaupun sekarang hari minggu Davy masih menyempatkan diri berkunjung ke rumah Marissa. Sehari saja tak bertemu membuatnya tak tenang.


" Loh ka, ada apa? " Marissa sedikit heran karena tak biasanya Davy berkunjung pagi pagi.


" Sengaja mau ajak kamu jalan. Mau ngga? "


" Mau kemana? " bukan Marissa yang menjawab malah Dani yang bersuara. Ia mulai menjalankan peran nya sebagai kaka.

__ADS_1


" Biasa, jalan di sekitaran sini aja. " canggung Davy. Ia melihat wajah tak ramah Dani.


" Aku bilang ibu, terus siap siap. " girang Marissa mengabaikan sikap Dani. Davy hanya bisa menganguk.


Ya ampun de. Tambah lagi dah bodyguard kamu. Tapi masih sereman ka Galih sih di banging ka Dani. Berat nian perjuangan kaka de buat bisa sama kamu.


Davy hanya bisa tersenyum pasrah. Ia tau Dani pun menyayangi Marissa sama seperti nya.


Jangan sampai deh ka Dani suka sama Marissa.


Ia refleks geleng geleng kepala. Takut pikiran nya jadi kenyataan.


" Woy.... ngelamunin apa sih? sampe segitunya" suara Dani mengagetkan Davy. Dani sedikit kesal Davy seolah mengabaikan nya dan malah melamun.


" Ngga apa apa. " Davy jadi salah tingkah sendiri melihat raut wajah Dani yang makin tak bersahabat.

__ADS_1


Ayo dong de buruan. Selamatin kaka. Aku ralat ucapan ku tadi ternyata ka Dani lebih galak daripada ka Galih. ih.. ngeri.


__ADS_2