Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
pertanyaan Marissa


__ADS_3

Sebulan telah berlalu Marissa mulai di sibukan dengan berbagai kegiatan begitupun dengan Davy. Ahir ahir ini pekerjaan Davy begitu menumpuk sehingga membuatnya harus kerja lembur. Namun tak membuat hubungan mereka merenggang. Walau hanya dengan bertukar kabar melalui hand phone masih membuat mereka saling terhubung.


Bahkan hanya dengan pesan singkat saja membuat Davy kembali bersemangat seolah semua beban hilang menguap begitu saja. Perhatian perhatian kecil dari Marissa sungguh berarti untuk nya.


Hari ini Davy mendapat gaji pertama nya. Ia menyisihkan sedikit untuk sekolah Marissa dan sisanya untuk biaya sehari hari juga tak lupa ia memberikan sedikit untuk sang ibu.


Sebesar apa pun cinta Davy pada Marissa tak membuatnya lupa pada sang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan nya.


Sepulang kerja Davy menemui Marissa. Rasa rindu yang menumpuk setelah beberapa hari tak bertemu membuatnya sudah tak tahan lagi.


" De... mau ga kaka ajak jalan?" ajak Davy setelah ia sampai di rumah Pa Hendra. Mereka selalu asik mengobrol di teras rumah. Bukan apa apa Marissa selalu tak enak hati jika ada Ruby di rumah maka ia akan selalu mengeluarkan kata kata pedasnya unyuk mengingatkan posisi Marissa yang hanya menumpang. Davy pun telah mengetahuinya dan ia cukup mengerti keadaan Marissa.


" Emang kaka ga cape apa pulang kerja loh? " Marissa merasa kasihan pada Davy karena wajahnya terlihat begitu lelah.

__ADS_1


" Ngga. Kaka senang malah. Hari ini kaka gajihan. Kamu beli baju ya buat ke kampus. Kemarin kemarin kaka belum sempet beliin kamu baju."


" Ga usah ka... itu juga masih banyak ko. Kaka pakai aja uang nya. " Marissa merasa tak enak hati. Ia tak ingin terlalu membebani Davy dengan segala kebutuhan nya. Cukup ia di sekolahkan saja sudah membuat Marissa berhutang budi.


" Ga ada penolakan! " tegas Davy. " Lagian De ga setiap hari ini kan kaka beliin. " Davy kekeh memaksa Marissa ia ingin sang kekasih tak merasa minder saat di kampus. Dengan berat hati Marissa menuruti Davy. Jika Davy telah berkata seperti itu maka Marissa sama sekali tidak bisa menolak.


Mereka pergi setelah meminta ijin pada bu Rina. Karena hari sudah sore jadi Davy memutuskan membawa Marissa ke pusat perbelanjaan terdekat agar mereka tidak pulang terlalu larut nanti.


Sesampainya di pusat perbelanjaan Marissa hanya melihat lihat saja tanpa memilih satu pun.


" Ga ada yang aku suka ka. " Marissa beralasan agar ia tak perlu membeli baju baju itu.


" Ah masa ga ada ini kan bagus. " Davy menunjukan beberapa potong baju pada Marissa. Sebenarnya Marissa suka tapi saat melihat bandrol ia tak enak hati.

__ADS_1


" Aku ga suka ka. Udah yu ah kita makan aja aku laper belum makan dari siang. " kini Marissa berusaha semanja mungkin pada Davy agar Davy mengurungkan niatnya untuk membeli baju baju itu dan mengajaknya makan. Karena hanya itu yang bisa Marissa lakukan agar Davy tak membuang buang uang.


" Ya ampun de, kamu laper? " benar saja dugaan Marissa jika sudah beralasan lapar maka Davy akan dengan segera memberinya makan. Marissa yang mempunyai riwayat mag membuat Davy selalu hawatir jika sang kekasih telat makan. " Ayo kita makan dulu nanti lanjut lagi belanjanya. " Davy langsung menuntun Marissa.


" Kamu mau makan apa? " lembut Davy.


" Nasi padang boleh? " pinta Marissa. Tentu Davy segera menuruti keinginan sang kekasih.


Seusai makan Davy kembali mengajak Marissa untuk kembali berbelanja. Namun Marissa segera menggeleng.


" Ka aku mau ngomong dulu " sebelum Davy berhasil menarik tangan nya.


" Mau ngomong apa sayang? " Davy sudah mengerti jika Marissa hanya sedang berusaha mencari cari alasan agar Davy melupakan tujuan nya mengajak Marissa untuk membeli baju.

__ADS_1


" Kapan kaka nikahin aku? "


__ADS_2