
Ke esokan harinya kelas Marissa di hebohkan oleh kedatangan Davy. Bagaimana tidak jika siswa lain di wakilkan oleh orang tuanya Marissa justru oleh pacarnya.
Banyak teman Marissa yang kagum pada Davy. Dia bahkan ta malu untuk mengambil laporan hasil belajar kekasihnya. Karena Davy memang dulu sekolah di SMA yang sama dengan Marissa jadi sebagian besar guru di SMA itu mengenal Davy.
Tak hanya jadi pusat perhatian teman - teman Marissa. Davy pun menjadi pusat perhatian para guru. Jika wali murid lain menerima lapor di ruang kelas lain hal nya dengan Davy. Dia di minta ke ruang guru oleh wali kelas Marissa.
Walaupun Davy merasa ragu - ragu tapi dia memberanikan diri untuk Marissa. Perasaan malu deg degan campur aduk di hati Davy.
Davy dulu waktu sekolah memang termasuk anak yang cukup terkenal di mata siswa dan guru - guru nya. Bukan hanya karena dia pernah menjadi seorang ketua OSIS namun Davy pun cukup terkenal sebagai siswa yang sering bermasalah. Bahkan Davy sudah termasuk langganan BP.
Para guru sengaja ingin mengerjai Davy. Sehingga dia harus menghadap ke ruang Guru. Wali kelas Marissa sengaja ta kunjung memanggil Wali Marissa di kelas hingga wali murid yang lain telah pulang.
" Selamat pagi Pa Bu " Sapa Davy setelah mengetuk pintu.
" Oh ada Davy, mari masuk "
Semua guru yang mengenal Davy sengaja duduk di hadapan Davy seolah - olah hendak menyidangkan nya. Davy merasa heran dengan keadaan itu. Namun dia berusaha sesantai mungkin.
" Davy ini kan pengambilan rapot, seharusnya di ambil oleh orang tua siswa atau wali nya? lantas kamu mau apa? setahu Bapa kamu tidak punya adik? " wali kelas Marissa pura - pura tidak tau mengenai hubungan Davy dan Marissa. Sedangkan guru yang lain menahan tawa mereka saat melihat wajah Davy begitu tegang.
" Ah Bapa memang saya kan tidak punya adik kandung. Tapi kalo cuma jadi wali boleh kan"
wajah Davy sudah memerah.
__ADS_1
Jika dulu biasanya Davy yang mengerjai para guru itu, sekarang mereka seolah ingin membalas dendam.
" Memang ada hubungan apa kamu sama yang namanya Marissa? Apa dia istri mu? Lalu kemana orang tua nya? " heran wali kelas Marissa.
" Bukan istri Pa tapi masih calon istri. Kata orang kalau kita ingin mendapatkan istri yang baik kita harus membantu merawatnya. Sebenarnya saya terpaksa Pa mewakili orang tua Marissa karena mereka sedang sibuk. Kakenya Marissa masuk rumah sakit jadi Ibu nya tidak bisa hadir. Begitu pun Ayah nya Pa."
" Saya sebagai pacar yang baik tidak mungkin membiarkan pacar saya sedih Pa. Ya walaupun saya harus di sidang seperti ini " ledek Davy
" Astaga Davy ternyata kamu masih sama saja ngeselin. " ujar Bu Maria seorang guru sejarah yang selalu kena rayuan Davy saat sekolah dulu. Bu Maria memang lah guru tercantik saat itu statusnya yang masih singel membuat banyak murid laki - laki yang menggodanya ta terkecuali Davy. Bu Maria merupakan guru termuda saat itu. Sehingga dia sering di sebut bunga sekolah.
" Maaf ya Bu Maria tidak usah cemburu. Saya harap ibu bisa menerima keputusan saya dengan lapang dada. Dulu saya memang menyukai Ibu tapi maaf sekarang ada hati yang harus saya jaga Bu. Jadi saya tidak bisa memilih Ibu" tengil Davy. Sontak Bu Maria melongo mendengar ucapan Davy yang tidak tahu malu itu.
Jika Bu Maria tengah kesal setengah mati lain hal nya dengan para guru yang lain yang tengah tertawa terbahak - bahak mendengar ucapan Davy.
"Hey apa yang kamu katakan. Enak saja kamu pikir saya nungguin kamu. " ketus bu Maria.
" Ih.... kamu ko makin ngeselin sih! " gemas Bu Maria.
" Ngeselin tapi ngagenin kan Bu? saya yakin pasti Ibu kangen sama saya. Pasti setelah saya lulus Ibu merasa kesepian. Iya kan bu... " Davy menaik turun kan alisnya.
" Kamu salah, justru saya sangat senang ga usah meladenin kamu Dav." ketus bu Maria.
" Ah ibu ketauan banget deh bohong nya.... "
__ADS_1
" Astaga kalau kamu masih sekolah udah Ibu hukum kamu." geram Bu Mira " Saya permisi Pa jika saya terus disini saya bisa gila karena ulah anak ini."
Semua guru yang ada di ruangan itu tertawa terbahak - bahak dengan tingkah konyol dua manusia di hadapan nya.
" Jadi begini Dav, saya sebagai wali murid Marissa hanya mau mengingatkan saya tau kalian pacaran tapi tolong ya jangan sampai mengganggu sekolah Marissa. Bapa lihat beberapa bulan ini nilai Marissa menurun. Kira - kira ada apa? apa kamu tau? "
" Sebenarnya Marissa sedang memiliki masalah keluarga Pa. Tapi maaf saya tidak bisa memberi tahu lebih detailnya karena itu masalah pribadi. Saya merasa tidak punya hak untuk memberitahukan masalah ini Pa. "
" Tidak apa-apa Dav saya mengerti. Saya sangat menyayangkan jika anak seperti Marissa tidak bisa mempertahan kan prestasinya. Jadi saya mohon sama kamu Davy tolong bantu dia kembalikan semangatnya."
" Iya pa saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menghibur Marissa. Saya yakin Marissa wanita yang kuat dia pasti bisa mengatasi masalahnya. "
" Iya Dav seberat apa pun masalahnya tolong bilang sama Marissa kalau sekolah itu nomor satu. Dia itu salah satu anak berprestasi. Jika terus seperti ini dia akan gagal mengikuti olimpiade matematika. Bukankah itu sangat di sayangkan."
" Ternyata Marissa akan ikut olimpiade matematika Pa? saya baru tau, dia tidak pernah cerita. "
" Iya di sekolah dia itu memang anak yang tertutup. Hanya beberapa saja teman dekat yang dia punya. Tapi dia termasuk anak yang baik. "
" Iya saya juga aga heran akhir - akhir ini Marissa sering melamun. Bahkan saat sedang kuis pun dia seperti tidak fokus. Sepertinya masalah nya sangat berat. Nampak dari wajahnya yang sering murung. " Guru matematika ikut angkat bicara.
" Tadinya saya mau membicarakan ini dengan orang tuanya. Berhubung kamu yang dateng ya mau ta mau saya bicarakan ini dengan kamu. Kamu kan salah satu orang terdekat Marissa saya yakin kamu bisa di andalkan." wali kelas Marissa menepuk bahu Davy.
" Iya Pa walaupun saya anak nakal tapi saya yakin Bapa tau bagaimana saya. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Bapa. " ucap Davy dangan mantap.
__ADS_1
Setelah berbicara panjang lebar ahirnya Davy di persilahkan pulang. Davy sangat srdih mendengar perkataan guru - guru Marissa. Perpisahan orang tuanya seperti pukulan berat untuk Marissa. Ditambah perubahan Ayah Marissa yang begitu drastis.
Davy memang sangat mengenal sosok Pa Setiyawan yang begitu memanjakan Marissa. Namun ta membuat Marissa menjadi anak yang tak tau diri. Jangan kan Marissa Davy pun dapat merasakan perubahan Pa Setiyawan semenjak menikahi Bu Ida.