
Tiga hari telah berlalu setelah proses lamaran hari itu. Marissa dan Davy masih tetap bersama seperti biasa.
Seperti hari ini Davy mengantarkan Marissa ke kampus karena Marissa ada kelas pagi. Sekalian ia pergi kerja.
Tak seperti hari biasanya Davy akan menunggu Marissa sampai gadis itu masuk. Hari ini tanpa berlama lama setelah sampai kampus Davy langsung pamit berangkat kerja karena waktu sudah cukup siang.
" Dah... hati hati. " teriak Marissa sambil melambaikan tangan nya. Davy hanya tersenyum sambil berlalu pergi.
Tubuh Marissa tiba tiba ditarik tangan kekar yang terus menyeretnya ke arah belakangan gedung yang sepi.
" Hey apa apaan sih. Lepasin. " Marissa mencoba memberikan perlawanan sehingga tangan nya terlepas dari cengkraman laki laki itu. Ia sama sekali tak mengingat Dan mengenal siapa sosok laki laki itu.
" Ca lo inget gue kan? " Laki laki itu kembali mendekat. " Gue yakin lo pasti inget gue. " tanpa permisi Ia merengkuh tubuh Marissa masuk kedalam pelukan nya.
__ADS_1
" Siapa lo? gue ga kenal. Lepasin gue" Marissa mulai menendang kaki laki laki itu. Tapi bukan nya terlepas pelican laki laki itu malah semakin erat.
" Lo yakin ga inget gue? apa setelah gue ngalamin kecelakaan banyak yang berubah di wajah gue? " ia mencengkram wajah Marissa agar melihat kearah wajahnya.
" Ka Adit..." lirih Marissa
" Iya ini gue. Lo kenapa lebih milih Davy dari pada gue. Gue udah tau kalo lo sama Davy udah tunangan. Kenapa Ca? lo anggap gue apa? "
" Maksud kaka apa? kita memang tak pernah punya hubungan apa apa. Aku memang mencintai Ka Davy lalu salahnya dimana jika kami tunangan. Tolong lepaskan aku ka. " Marissa kembali meronta.
" Maafkan aku jika aku menyakiti hati kaka. Tapi aku mohon lepaskan aku. " Marissa sudah mulai menangis. Kekuatan nya tak sebanding dengan tenaga Adit. Sekuat apa pun ia melawan tak membuat sekarang Adit melonggar.
Entah kerasukan setan apa Adit tiba tiba hendak mencium Marissa. Marissa yang tak kuasa melawan hanya bisa menghindar sambil berteriak minta tolong.
__ADS_1
buk
Satu bogem mentah mendarat di wajah Adit. Tatapan Jaka begitu nyalang pada Adit. Ia begitu marah melihat Marissa di perlakukan seperti itu. Sebesar apa pun cinta nya pada Marissa ia tak pernah melakukan hal itu pada Marissa. Ia cukup tau diri.
Bukan hanya Jaka Yogi dan Deni pun ikut memberikan pukulan mereka. Yogi dan Deni sibuk menghajar Adit. Sedangkan Yogi menenangkan Marissa. Ia tau bertapa takutnya Marissa saat ini.
" Ca lo ga papa kan? " Entah dorongan dari mana Jaka tiba tiba memeluk Marissa yang tengah terisak. Rambutnya acak acakan menandakan bertapa kacaunya keadaan Marissa.
" Udah ga papa. Ada kita. Lo a man sekarang." ia mengelus punggung Marissa yang sama sekali ta memberi respon.
" Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan lo yah!" geram Yogi yang sudah selesai menyelesaikan urusan nya dengan Adit. Ia menarik kerah baju bagian belakang Jaka hingga pemuda itu terhunyung. Deni hanya geleng geleng kepala akan tingkah kedua orang itu.
" Sorry gue cuma replek aja. " Jaka mengacungkan kedua tangan nya seolah menyerah.
__ADS_1
" Ca lo ga papa kan? " Tanya Deni " Sorry kita datang nya telat." Deni merasa tak enak hati saat melihat keadaan Marissa. Marissa hanya mengangguk. Kejadian yang begitu tiba tiba membuat jiwanya terguncang.
" Lo lebih baik pulang aja. Gue udah telpon Davy buat jemput lo." Yogi memang langsung menelpon Davy. Ia berpikir jika hanya Davy yang di butuhkan Marissa saat ini.