
Sudah hampir enam bulan setelah pernikahan Pa Setiyawan dan Bu Ida namun Pa Setiyawan seolah enggan untuk menceraikan Bu Rina.
Berulang kali Bu Rina meminta kejelasan statusnya. Namun Pa Setiyawan selalu saja menghindar, hingga membuat Bu Rina emosi. Padahal awalnya Pa Setiyawan lah yang ngotot ingin bercerai. Dengan egoisnya Pa Setiyawan menggantungkan status Bu Rina.
Keadaan itu berdampak buruk untuk Marissa. Marissa yang dulu selalu ceria kini dia menjadi lebih tertutup dan pemurung. Bahkan nilai sekolah nya pun turun drastis. Yang awalnya Marissa digadang - gadang untuk mengikuti olimpiade matematika kini rencana itu tinggal rencana.
Marissa seolah kehilangan semangat hidup nya. Ayah yang dulu selalu memanjakan nya kini dia seolah melupakan Marissa. Ta ada lagi jatah uang jajan untuk Marissa. Jangan kan uang jajan sekedar telpon menanyakan kabar anak nya pun Pa Setiyawan ta pernah melakukan nya. Hal itu membuat Marissa kehilangan sosok ayah nya.
Hal itu membuat Marissa banyak pikiran sampai - sampai Marissa jatuh pingsan di sekolah. Karena Marissa tak kunjung sadar hingga harus di rawat di rumah sakit.
Pihak sekolah berulang kali menghubungi nomer Pa Setiyawan namun ta kunjung di angkat. Hingga wali kelas Marissa memutuskan untuk menelpon Davy. Kebetulan saat Davy mengambil rapot Marissa beliau meminta nomor Davy.
Setelah mendapat kabar Davy bergegas menuju Rumah sakit. Davy begitu khawatir dengan keadaan Marissa hingga dia lupa untuk memberitahu Ibu Rina.
" Bagaimana keadaan Marissa Pa? " tanya Davy sesaat setelah dia sampai di Rumah Sakit pada wali kelas Marissa yang masih menunggui Marissa.
" Alhamdulilah sekarang Marissa sudah sadar tapi dia harus di rawat dulu beberapa hari karena kondisinya belum stabil. Asam lambung nya naik."
" Terima kasih Pa. Bapak sudah menjaga Marissa. "
__ADS_1
" Iya Dav tidak apa - apa itu sudah kewajiban saya. Kalau begitu saya pamit. "
Davy segera mendekati Marissa yang tengah terbaring wajahnya begitu pucat. Di belainya wajah itu penuh kasih. Davy meraih tangan Marissa yang tengah terpasang jarum i)nfus.
" De kamu sebenar nya kenapa Dek? maaf kaka ga bisa jaga kamu dengan baik. Bangun De.... kaka ga mau lihat kamu seperti ini. Mana Marissa si gadis kecil kaka yang periang. Mana Marissa yang kuat yang Kaka kenal? "
Davy ta kuasa menahan air mata nya. Hatinya begitu sakit saat harus melihat orang yang paling ia sayang terbaring lemah. Dia terus menggenggam tangan Marissa. Ta sedetik pun ia meninggalkan Marissa.
" Ka Davy.... " lirih Marissa saat matanya telah terbuka.
" De kamu kenapa hem? Bukan kah Kaka sudah pernah bilang kalau kamu ada masalah cerita sama Kaka. Jangan di pendam sendiri. Apalagi kamu sampai ga makan. " Davy menciumi tangan Marissa. Marissa hanya tersenyum melihat perhatian Davy.
Hanya sekali panggil panggilan itu telah terhubung. Bu Rina kaget mendengar kabar Marissa. Dia buru - buru menyusul ke rumah sakit setelah mengetahui kabar itu.
" Ca... maafkan Ibu nak" Bu Rina menangis dia sedih melihat kondisi Marissa.
" Aku ga papa Bu aku baik - baik aja ko. Mungkin cuma kecapean aja. Soalnya lagi banyak kegiatan di sekolah. "
Selama tiga hari Marissa di rawat di rumah sakit. Selama itu pula Davy selalu menjaga Marissa. Bahkan untuk makan dan kebutuhan Davy lain nya pun Ibunda Davy yang mengantar ke rumah sakit. Davy selalu menolak jika di suruh pulang untuk sekedar istirahat oleh Bu Rina.
__ADS_1
Davy ingin selalu berada di samping Marissa. Dia ingin memastikan keadaan Marissa sendiri. Kadang Davy merasa sedih saat Marissa tengah terbaring sakit sang ayah ta pernah sekali pun menjenguknya.
Bahkan saat Davy menelpon nya Pa Setiyawan hanya menjawab jika dia tengah sibuk, tanpa ingin tau bagai mana kondisi putri nya saat itu. Namun Davy ta berani memberi tshu Marissa tentang masalah itu. Dia menyimpan nya sendiri.
Karena hal itulah Davy enggan untuk meninggalkan Marissa. Ia ta ingin Marissa merasa sedih karena ta ada sosok ayah yang selalu memanjakan nya.
Dengan sekuat tenaga Davy selalu memenuhi semua kebutuhan dan keinginan Marissa. Davy sudah berperan layaknya seorang ayah pada putrinya. Mungkin saat ini di hati Davy bukan lagi cinta yang dia rasakan, melainkan kasih sayang yang tulus.
Marissa bersyukur memiliki Davy yang selalu berusaha menjadi sosok pacar, sahabat, kaka dan ayah yang baik untuk Marissa. Dengan kehadiran Davy Marissa tak pernah merasa kehilangan sosok ayah.
Apapun kebutuhan Marissa dia selalu memberikan nya walaupun Marissa ta pernah meminta apa pun namun Davy sudah sangat mengerti kebutuhan kekasihnya itu.
Davy sudah menunjukan jika dia benar - benar serius terhadap Marissa. Tak hanya kata - kata yang Davy berikan namun Davy selalu memberi bukti nyata akan cinta nya yang besar untuk Marissa.
💐💐💐💐
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Dukungan kalian sungguh sangat berarti.
Aku mohon jangan jadi pembaca gelap ya 😀😀
__ADS_1