
Pulang sekolah Marissa sengaja minta di jemput Davy. Ia malas jika harus ada masalah lagi dengan Ruby.
Davy yang sedang tidur langsung bangun saat mendapat pesan dari Marissa. Baru beberapa jam tak bertemu sang kekasih pun membuatnya uring uringan tak jelas.
Dengan cepat ia bersiap. Davy ingin membeli sesuatu untuk Marissa sebelum ia menjemputnya ke sekolah.
" Mau kemana? " tanya bu Yati. Ia sedikit heran saat melihat Davy jika tadi pagi wajahnya begitu kusut kini ia terlihat sangat fresh dan bahagia.
" Jemput ayang. " Davy mencium punggung tangan sang ibu. " Dah ibu... " dia berjalan sambil bernyanyi ria. Bu Yati hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Davy.
" Huh... dasar bucin. "
#
#
Sesampainya di sekolah Davy sudah tak sabar menunggu Marissa di depan gerbang sekolah dengan sekeresek besar makanan yang ia beli tadi.
Marissa yang melihat keberadaan Davy segera menghampiri.
__ADS_1
" Udah lama ka? "
" Baru aja. Yu pulang. "
Baru saja hendak naik Marissa berhenti saat mendengar duo caper berbicara seolah mengatainya.
" Hey.. lihat deh tuh cewe sok cantik banget. Padahal dulu Davy kan ngejar ngejar lo Ta. Eh malah di pungut sama tuh cewe. "
" Iya lah ga level sama gue. "
Davy yang mendengar ikut menggeram. Iya cukup kenal perempuan itu.
" Heh... lo pikir gue beneran suka sama cewe kek ondel ondel kaya lo Sinta. Asal lo tau aja gue itu deketin lo dulu karena gue taruhan sama temen gue. Mana mau juga gue sama cewe modelan kaya lo. Lo inget kan setelah lo mau jadi cewe gue apa gue pernah hubungin lo lagi. Ga kan?" ketus Davy. " Dan lo" menunjuk Santi teman Sinta " kalo lo ga tau apa apa mending diem. Jaga tuh mulut. "
" Ayo sayang. " Davy menarik Marissa agar cepat naik ke motor nya. Mereka meninggalkan duo caper yang sedang syok menahan malu di hadapan teman teman nya. Apalagi kondisi saat ini tengah ramai banyak anak yang keluar melewati mereka untuk pulang.
Reputasi Sinta si gadis yang tak pernah ditolak pun mendapat cibiran dari teman teman nya yang lain.
" Iya lah ga pernah di tolak. Orang cuma jadi bahan taruhan doang. "
__ADS_1
" Ya kali mau sama ondel ondel. "
Niat hati ingin mempermalukan Marissa justru malah dirinya yang dapat malu. Dengan sekuat tenaga Sinta dan Santi segera berlalu pergi sebelum lebih banyak lagi orang yang mengatainya.
*
*
*
" Maaf ya De. Kaka udah buat kamu gak nyaman. Kamu tau sendiri kan kaka dulu suka main taruhan sama temen kaka si Edo. "
" Iya aku tau. Tapi baru kali ini aku lihat kaka kasar sama cewe. Aku jadi takut. "
" Hahaha... maaf. Kaka kesel sama mereka karena ngehina kamu. Kalo mereka cuma ngehina kaka, kaka ga peduli. Tapi lain hal nya jika mereka ngehina kamu dek. " Davy mengelus punggung tangan Marissa yang tengah berpegangan di pinggang nya.
" Kamu ga marah kan? " marissa menggeleng.
" Apa aku bukan salah satu dari perempuan taruhan kaka?" Davy segera memarkirkan motornya. Ia turun lalu menatap Marissa yang masih duduk manis di motornya.
__ADS_1
" Apa kamu pernah lihat kebohongan di mata kaka de? Apa kurang semua bukti cinta kaka sama kamu? Mungkin selama ini kaka cuma mainin cewe. Tapi kamu beda de. Kamu bukan cewe yang pantas buat kaka mainin. Ga pernah ada niatan dalam hati kaka buat nyakitin kamu. Kamu tau kan kenapa kaka ga pernah ngenalin kamu sama temen kaka. Karena kaka ga mau kamu sampai suka sama salah satu dari mereka. Kamu itu cewe yang istimewa buat kaka. "
Marissa hanya tersenyum mendengar ungkapan hati Davy. Antara senang dan sedih bercampur jadi satu.