Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
jangan berkecil hati


__ADS_3

Waktu begitu terasa cepat bagi Marissa. Waktu pernikahan sang ibu yang telah di tentukan saat lamaran telah tiba. Srgala persiapan sudah hampir selesai.


Acara nya cukup sederhana hanya di hadiri keluarga dekat dari Bu Rina dan pa Hendra. Tampak sepasang anak dari pa Hendra dan seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalah sang kaka yang ikut mengantar. Sedangkan dari pihak ibu Rina semua kaka dan adik nya turut hadir. Kaka tertua Bu Rina yang akan menjadi wali.


" Selamat ya bu... " Marissa dan Silvy bersamaan memeluk sang ibu.


" Ca... apa kamu yakin nak? ibu tidak mau kamu kembali terluka. Jika memang kamu terpaksa masih ada waktu untuk membatalkan nya sebelum ijab kobul dilaksanakan. " Bu Rina menatap manik mata Marissa.


" Ibu ini bicara apa. Aku bahagia bu... jadi jangan pernah berpikir aku tidak setuju dengan pernikahan ini. "


" Benar bu, kalau Marissa gak suka pasti dia sudah menolak om Hendra dari dulu. Kami bahagia melihat ibu bahagia. Percayalah. " Silvy ikut meyakinkan sang ibu. Ia tak ingin melihat ibunya kembali bersedih. " Ibu terlihat sangat cantik hari ini."

__ADS_1


" Tentu seperti aku... " bangga Marissa. " Udah yu ah sepertinya acara akan segera di mulai. "


Tak berapa lama suara menggema memenuhi ruang tamu. Bu Rina dan Pa Hendra melaksanakan ijab kobul di rumah bu Rina. Terdengar suara pa Hendra yang begitu lantang dan tegas saat mengucap ijab kobul.


Sah...


Bu Rina bersyukur kini dia telah resmi menjadi seorang istri. Ada rasa bahagia dan sedih dalam hatinya. Ia merasa sedih karena harus membawa Marissa kembali pada patah hatinya. Bu Rina tau betul jika sekarang Marissa pasti sedang bersedih. Namun gadis itu selalu berhasil menutupi semua kesedihan nya.


Aku tak pernah berpikir akan menjadi saksi mata pernikahan ibuku sendiri. Keluarga ku yang dulu sangat bahagia kini sudah tiada. Di sisi mereka kini sudah ada orang lain. Orang asing yang menjadi keluarga ku. Aku tak tau akan seperti apa jalan hidup kami kedepan nya saat ini. Aku memang tak boleh egois. Ibu memang pantas bahagia.


Davy yang juga hadir melihat kesedihan dari Marissa. Ia segera memeluk sang kekasih tak peduli pandangan orang pada mereka saat ini. Ia hanya ingin memberikan kekuatan untuk Marissa.

__ADS_1


" Dek... jangan nangis. " bisik Davy. Marissa hanya mengangguk lalu mereka melerai pelukan.


Silvy pun merasakan yang Marissa rasakan namun dia bukanlah sosok perempuan cengeng. Ia selalu bisa menata hatinya sebelum air mata itu jatuh. Marissa memang seorang gadis perasa. Jadi tak jarang ia menangis tanpa sebab. Namun ia selalu berusaha menyembunyikan kesedihan nya dari semua orang kecuali Davy.


" Hapus air mata mu Ca... " lirih Silvy sambil memberikan tisu pada Marissa ia tak ingin sampai sang ibu tau jika Marissa menangis.


Marissa langsung mengambil tisu dan melap air matanya.


Davy tak sedikitpun melepaskan tangan nya dari tangan Marissa. Tangan mereka saling bertautan erat. Seolah tengah saling mendukung.


" Sabar sayang. Kamu pasti kuat. Ini semua demi ibu. Ingat kamu ga sendiri ada aku yang akan berada bersama kamu. Jangan berkecil hati "

__ADS_1


" Iya ka.. "


__ADS_2