
Kehidupan berumah tangga antara Davy dan Marissa kini akan segera mereka jalani. Harapan dan doa terus terucap begitu kata "sah" telah di ucapkan. Mereka berharap ini menjadi pernikahan yang pertama dan terahir untuk mereka.
Davy selalu berdoa agar ia bisa menjadi imam yang baik untuk Marissa. Ia tak ingin sampai mengecewakan Marissa begitupun dengan Marissa, cukuplah rumah tangga orang tuanya yang kandas. Mereka akan menjadikan semua kejadian di masa lalu itu sebagai pelajaran berharga untuk mereka.
Setelah menikah Davy dan Marissa sepakat untuk mengontrak rumah. Bukan apa apa Davy berpikir itu akan lebih baik untuk mereka berdua. Jika tinggal di rumah Davy, mungkin Davy akan senang tapi bagaimana dengan Marissa begitupun sebaliknya.
Mereka ingin hidup mandiri. Walaupun hidup pas pasan asal selalu bersama itu akan lebih baik ketimbang hidup berkecukupan tapi ikut orang tua.
" De... kapan sebaiknya kita pindah? kaka sudah mengontrak rumah yang lumayan dekat dengan kampus dan kantor kaka. Tapi maaf belum sebagus rumah ini. " Davy mengajak Marissa mengobrol sebelum mereka tidur. Sebenarnya Davy merasa tak enak hati karena belum apa apa harus mengajak Marissa hidup susah.
" Aku terserah kaka, bukankah lebih cepat lebih baik. " Marissa tersenyum ia raih tangan Davy yang sedang duduk di sisinya.
" Aku ga akan mempermasalahkan itu ka. Dimana pun kita tinggal aku mau, asal itu bersama kaka. Justru aku bangga sama kaka walaupun kita baru menikah kaka sudah menunjukan tanggung jawab kaka pada ku. Jangan pernah mengganggap rendah diri kaka. Untuku kaka itu pacar, suami dan ayah yang hebat. Hidup bersama kaka justru membuatku merasa menjadi wanita paling istimewa. "
__ADS_1
" Apa kaka tau, tidak semua laki laki yang baru menikah berani mengambil keputusan seperti kaka. Banyak dari mereka yang lebih memilih tinggal bersama orang tua mereka tanpa memperdulikan perasaan pasangan nya dengan alasan lebih hemat sebelum mereka mempunyai rumah mereka sendiri." Davy mengangguk paham.
" De, apa kamu yakin siap hidup susah bersama kaka? apa kamu tidak akan menyesal. " kadang Davy merasa insekyur terhadap dirinya sendiri. Ketakutan terbesarnya jika ia tak bisa membahagiakan Marissa.
" Ka.. mari kita jalani semua nya bersama. Kata ibu dalam berumah tangga itu pasti ada suka dan duka nya asalkan kita selalu bersama kita pasti bisa melewati semua itu ka. " Marissa begitu yakin jika ia dan Davy akan bahagia.
" Terimakasih de." Davy memeluk erat Marissa sambil sesekali mencium rambut Marissa.
Mereka tidur bersebelahan sambil menatap langit langit kamar. Ta ada lagi pembicaraan diantara keduanya mereka hanya saling diam.
Meskipun mereka pacaran lumayan lama, hampir lima tahun. Namun tidur bersama merupakan pengalaman pertama mereka. Davy meraih tangan Marissa yang terasa dingin.
" Kamu sakit de? " pertanyaan bodoh yang selalu keluar begitu saja dari mulut Davy.
__ADS_1
" Ng-gak ko ka. " Marissa dengan cepat menggelenkan kepalanya. Suasana kembali hening.
Bukan nya Davy tak menginginkan sesuatu tapi ia tak tau harus memulai dari mana. Lagi pula ia tak memiliki cukup keberanian saat ini.
" Tidur de. Udah malam. " Davy kini tidur menyamping menghadap Marissa ia membelai lembut rambut Marissa yang membuat gadis itu diam membeku. Ia pun tau adegan apa yang biasa terjadi setelah menikah apa lagi ini merupakan malam pertama mereka.
" Ahm i-ia.." gugup Marissa ia pura pura memejamkan matanya.
" De boleh ga... " ucapan Davy terhenti saat ia melihat mata Marissa yang langsung terbuka mendengar ucapan nya. Marissa hanya mendongakkan wajahnya seolah bertanya kelanjutan ucapan Davy.
" Tidur sambil meluk kamu. " Marissa mengangguk.
'Ya buat sekarang peluk aja dulu sebagai perkenalan biar Marissa ga terlalu kaget.' batin Davy.
__ADS_1