Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
dilema anak broken home


__ADS_3

Mereka terbangun saat hari sudah malam tepat nya pukul sepuluh malam. Marissa merasa perut nya begitu lapar ditambah perjuangan keras tadi sore yang membuat Marissa semakin lapar.


Davy yang masih tidur memeluk Marissa dapat merasakan pergerakan Marissa. Perlahan ia membuka matanya. Wajah gadis kesayangan nya yang pertama kali ia lihat.


" Kamu udah bangun de? " sesekali ia mengeluh pipi Marissa.


" Iya ka, aku later.. " cengir Marissa


" Ya ampun de kaka lupa. " seketika Davy terbangun saat melihat jam yang menggantung di dinding" Kamu belum makan ya dari tadi siang. Marissa mengangguk pelan.


" Pake baju mu de, kita cari makan di luar ya ." lembut Davy. Marissa yang baru sadar tak memakai baju seketika menoleh karena malu. Wajahnya sudah merah seperti tomat. Buru buru ia mengambil baju dan memakainya begitupun dengan Davy.


" Wah.. kita ga mandi ka. " Karena terlalu lelah mereka tertidur sampai melewatkan mandi sore dan makan malam.


" Ga papa kamu tetap cantik dan wangi ko. Ayo.. " Davy segera mengajak Marissa pergi mencari makanan.

__ADS_1


Beruntung di depan gang kontrakan mereka ada beberapa penjual makanan seperti martabak, sate dan gorengan. Davy memilih membeli sate lontong untuk nya dan Marissa.


Mereka memakan nya dengan lahap.


" Kamu mau tambah lagi de? atau mau yang lain? "


" Ngga ka, kenyang. " ia mengelus perut nya.


" Ya udah, pulang yu. " mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan. Bahkan sesekali Davy menciumi punggung tangan Marissa. Suasana sudah sedikit sepi karena kebanyakan orang telah larut dalam mimpi mereka.


" Ada apa sayang? " Davy yang baru selesai mengunci pintu langsung menghampiri Marissa yang tengah duduk di ruang tamu. "Ga bisa jauh jauh dari kaka ya. "


" Isshhh.. " Marissa mencubit lengan Davy.


" Ada apa sayang, katakan? " kini Davy sudah mulai serius.

__ADS_1


" Jika suatu saat nanti ternyata aku ga bisa hamil bagaimana? " Davy mengerutkan alisnya. Pikirin Marissa sudah kesana sini. Ia takut jika itu terjadi maka sikap Davy akan berubah padanya.


" Apa kaka akan meninggalkan ku dan menikah lagi dengan perempuan lain? "


" Kamu ini ngomong apa sih de, buat aja belum udah mikir sampe ke situ. " Davy gemas sendiri.


" Aku serius ka. " kini mata Marissa mulai memerah. Ia sangat takut karena yang ia punya saat ini hanyalah Davy.


" Sayang dengar ucapan kaka baik baik. " Davy menangkup wajah Marissa "Jika pun itu terjadi kaka ga akan pernah ninggalin kamu. Kita masih bisa angkat anak. De, kaka udah pernah bilang kan sama kamu jangan suka overthingking terus ga baik buat kesehatan. "


" Maaf, semoga kaka menepati ucapan kaka. " Davy hanya bisa memeluk Marissa di usai nya rambut sang istri. Ia tau mengapa Marissa bisa berkata seperti itu. Perceraian orang tua nya sedikit banyak menyisakan trauma dalam hati nya. Sehingga membuat Marissa selalu memikirkan hal hal buruk yang belum tentu terjadi.


Dalam hati kadang Davy merasa kasihan pada Marissa. Walaupun gadis itu terlihat tegar di luar tapi hatinya sangat rapuh. Ia pun tak bisa menyalahkan Marissa. Perjalanan hidup Marissa memang sangatlah berat, diabaikan di sana sini kadang membuat nya rendah diri.


Kadang Davy berpikir apa memang semua anak korban broken home sama seperti Marissa. Menyimpan kesakitan nya dalam hati.

__ADS_1


Tapi Davy merasa beruntung karena Marissa ta melampiaskan kekecewaan nya pada hal hal yang negatif. Kedua orang tua Marissa bercerai saat Marissa tengah membutuhkan bimbingan saat mencari jati diri nya. Itu lah yang membuat Davy sedikit lega, sesakit apa pun perasaan nya Marissa masih bisa berpikir jernih.


__ADS_2