
Marissa bahkan tak menghiraukan panggilan Davy. Yogi Deni dan Jaka yang berada di tengah lapang melihat Marissa di rangkul kedua teman nya langsung berlari menghampiri. Mereka juga berpikir sama jika Marissa tak lulus.
Tanpa ba bi bu ketiga cowo itu langsung ikut memeluk Marissa dan dua teman nya. Jadilah mereka seperti teletubies *berpelukan*.
Davy jadi semaki heran dengan tingkah anak anak ABG itu. Padahal ia belum berbicara apa apa. Setelah kesadaran nya pulih ia sedikit kesal saat Marissa di peluk para sepupunya. Walau bagaimana pun mereka adalah laki laki. Ia segera menarik Marissa dan membuat pelukan diantara mereka terurai.
" Kamu kenapa nangis de? " Davy mengusap air mata Marissa yang dengan mudahnya jatuh tanpa alasan menurut Davy.
" Aku ga lulus ya ka? " suaranya nyaris tak terdengar.
" Kata siapa kamu ga lulus de? " Davy mengernyit.
" Ituh tadi pa Brata ngomong gitu karena aku ga lulus kan? " suara nya terengah engah di barengi isakan.
" Tuh kan udah kaka bilang jangan suka mikir yang macem macem. Kalo apa apa tuh di tanya dulu. " Davy terus mengusap wajah Marissa.
" Jangan suka ngambil kesimpulan sendiri. Sayangkan tuh air mata di buang buang. "
__ADS_1
" Terus gimana ka? Marissa lulus kan? " tanya Eca yang di angguki teman temannya.
" Iya Marissa lulus. "
Marissa kembali berpelukan dengan teman teman nya. Yogi dan kedua sahabat nya pun hendak memeluk Marissa namun urung saat melihat tatapan tajam Davy. Mereka malah berpelukan bertiga.
" Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya." ketus Davy pada ketiga sepupunya itu. Mereka bertiga hanya garuk garuk tak gatal.
Setelah mereka mengetahui jika Marisaa lulus, mereka bergegas menuju lapangan untuk melaksanakan doa bersama. Beruntung angkatan tahun ini dinyatakan seratus persen lulus.
Seorang guru agama memimpin mereka berdoa. Tangis bahagia mereka pecah. Usaha mereka selama ini tak sia sia.
Semua antusias karena ini pengalaman pertama mereka. Mereka lebih memilih melakukan bakti sosial karena di rasa lebih bermanfaat dari pada konfoi dan coret coret seragam. Seragam bekas mereka bisa mereka sumbangkan untuk orang yang membutuhkan.
*
*
__ADS_1
*
Keesokan harinya Davy tak bisa mengantar ia ada panggilan kerja. Atas keinginan Davy Marissa berangkat bersama Yogi. Karena Davy merasa Yogi dapat ia percaya untuk menjaga Marissa.
" Kamu ga papa kan de betanfkat sama Yogi? " tanya Davy sedikit hawatir jika Marissa ngambek.
" Ngga dong ka aku ga papa. Udah sana berangkat nanti telat. Biar aku sama Yogi aja.
Kaka semangat ya biar bisa kerja. " Marissa mengangkat kedua tangan nya yang mengepal berusaha memberi semangat pada Davy.
" Udah sana. Marissa aman sama gue. "
Walau aga berat untuk meninggalkan Marissa dengan Yogi, tapi ia juga tak ingin menyia nyiakan kesempatan agar bisa bekerja dan menyekolahkan Marissa nantinya.
Marissa dan Yogi berangkat bersama setelah Davy meninggalkan mereka.
" Ca lo beruntung punya Davy. Awas aja kalo lo sampe nyakitin dia. Gue ga bakal tinggal diem. "
__ADS_1
" Iya gue tau gue beruntung mana mau gue ngecewain apa lagi ngehianatin ka Davy. Bersama ka davy gue jadi cewe paling istimewa. "