
Davy terus menelpon Marissa namun ta pernah di angkat. Dia kirim ratusan pesan namun pesan itu hanya di baca saja oleh Marissa.
Sudah hampir tiga hari Davy tak bisa menemui Marissa.Marissa seolah menghindar dari Davy. Saat Davy ke rumah Marissa pun hanya Ibu nya yang selalu menemuinya.
Bukan nya Marissa ingin egois namun ia ingin saat dia bertemu Davy suasana hati nya sudah baik-baik saja. Ia tak ingin sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Davy sakit hati karena emosinya.
Hari ini Davy sengaja menunggu Marissa di depan gerbang sekolah. Ia ingin segera menyelesaikan masalah mereka. Davy tak ingin masalah ini menjadi berlarut larut.
Bel tanda pulang berbunyi. Beberapa siswa sudah nampak keluar dari sekolah. Davy menunggu dengan harap - harap cemas. Beberapa menit berlalu tampak Marissa keluar kelas bersama sahabat nya Eca dan Lia di sana juga nampak Jaka bersama mereka.
Davy segera melambaikan tangan nya agar Marissa bisa melihat nya. Entah mengapa ia merasa sangat bahagia saat melihat wajah cantik yang sudah tiga hari ini tak ia lihat.
Marissa menoleh ke arah Davy ia juga sebenarnya sangat merindukan Davy. Namun rasa cemburu nya menguasai hati.
__ADS_1
" Dek... " Davy terus melambaikan tangan nya.
Marissa sengera mendekati Davy. Walau semarah apa pun dia kini, ia tak pernah menginginkan berpisah dengan Davy. Tanpa bicara Marissa langsung naik ke motor Davy setelah memakai helm nya.
" Dek kamu marah ya sama Kaka? Kaka mohon semarah apapun kamu tolong jangan jauhin dan diemin Kaka kaya gini. Kaka gak tahan Dek, asal kamu tau Kaka rasanya gak kuat kalo harus di diemin gini sama kamu. Kaka lebih baik di marahin aja sama kamu." Davy menghentikan motornya lalu menggenggam erat tangan Marissa.
" Kaka minta maaf, Kaka ngerti Kaka salah. Tapi kamu harus tau Dek wanita yang bersama Kaka kemarin itu Kristin saudara sepupu Kaka. Dia anak nya Paman Udin. Kristin bekerja di salah satu rumah sakit di ibu kota. Jadi kamu pasti baru melihat nya. Dia pulang karena ia ingin menghadiri acara reuni. Plis Dek jangan diemin Kaka kaya gini. "
" Iya Ka ga papa ko, harusnya aku yang minta maaf sama Kaka. Aku udah berburuk sangka sama Kaka. "
" Biarkan seperti ini dulu Dek, Kaka kangen banget sama kamu. " Davy malah mempererat pelukan nya.
Beberapa menit Davy memeluk Marissa. Dia begitu bahagia karena Marissa mau memaafkan nya. Dia tak tau akan jadi seperti apa dirinya jika harus benar-benar berpisah dengan Marissa.
__ADS_1
Tiga hari saja sudah seperti satu tahun untuk nya. Dia seolah kehilangan arah. Bahkan selama tiga hari itu Davy hanya makan sekali.
" Dek kita ke warteg dulu yu Kaka lapar banget."
" Jangan bilang selama tiga hari ini Kaka ga makan? " tanya Marissa curiga.
" Hehe iya Kaka ga sempet. Boro-boro mau makan Dek Kaka kepikiran kamu terus. Kaka ga tau harus apa kalo kamu benar-benar ninggalin Kaka. "
" Ah Kaka mah gombal. " Marissa mencubit pinggang Davy.
Tanpa lama-lama mereka langsung berhenti di warteg. Davy makan dengan lahapnya. Dia makan hampir tiga piring. Marissa sampai melongo melihat Davy makan seperti orang kesurupan.
Ternyata maaf dari Marissa dapat mengembalikan nafsu makan nya hingga berkali-kali lipat. Rasa bahagia itu membuat nya begitu lapar.
__ADS_1
" Ya ampun Ka pelan-pelan, nanti tersedak loh baru tau rasa. " Marissa merasa kenyang duluan melihat Davy makan dengan lahap nya.