Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
penetapan waktu pernikahan


__ADS_3

Sesuai janjinya Pa Eko Dan bu Yati datang ke rumah pa Hendra untuk melamar Marissa. Di sana juga sudah nampak Pa Setiyawan, Silvy dan Galih.


Walau bagaimana pun Pa Setiyawan tetap hadir karena yang akan menerima lamaran adalah pa Setiyawan selaku ayah kandung Marissa. Namun bu Ida sama sekali tak menghadiri acara tersebut.


Pa Hendra menyerahkan semua keputusan pada Pa Setiyawan karena Pa Setiyawan lebih berhak atas Marissa. Ia hanya ikut mendampingi saja.


Acara lamaran di adakan cukup sederhana. Hanya keluarga inti dari masing masing keluarga saja yang hadir.


" Begini pa, maksud kedatangan kami kesini untuk melamar Marissa. " ucap pa Eko setelah berbasa basi beberapa saat. Keluarga Marissa tak kaget karena mereka memang telah mengetahui maksud kedatangan keluarga Davy Dari Marissa.


" Saya sebagai orang tua Marissa menyerahkan semua keputusan pada anak kami Marissa. Karena dia yang akan menjalani nya. Ca bagaimana nak? " sebagai orang tua Pa Setiyawan tetap menyerahkan semua keputusan pada Marissa. Walaupun pa Setiyawan tau bagaimana hubungan Marissa dengan Davy. Tapi ia tetap menyerahkan semua keputusan pada Marissa.


Marissa merasa kaget tiba tiba di beri pertanyaan seperti itu. Ia berpikir jika sang ayah akan langsung menjawabnya.

__ADS_1


" Hmmm... iya. " gugup Marissa. Walaupun awalnya dia yang meminta kejelasan hubungan pada Davy, tetap saja membuatnya gugup satengah mati.


" Iya apa nak? " Pa Setiyawan seolah tengah mengerjai Marissa. Tatapan semua orang tertuju pada Marissa yang tengah tertunduk malu. Dengan senyum yang merekah dari setiap orang yang seolah tengah meledek Marissa.


" I-ya aku mau terima lamaran ka Davy. " gugup Marissa ia masih saja menunduk.


" Alhamdulilah... " kompak semua orang.


Setelah berdiskusi cukup lama akhirnya mereka memutuskan Hari baik itu jatuh sekitar sebulan lagi. Bertepatan dengan hari ulang tahun Marissa yang baru genap sembilan belas tahun.


Sebenarnya itulah yang selalu menjadi pertimbangan Davy. Usia Marissa yang masih terbilang muda membuat Davy kasihan. Takut jika sang kekasih kehilangan masa muda nya.


Davy yang tidak ikut membuat ia mondar mandir tak jelas. Perasaan was was jika tiba tiba Marissa menolak lamaran nya itu terbersit begitu saja.

__ADS_1


" Ah... ko ibu belum ngasih kabar sih. " Ia terus menggerutu. Yogi Jaka dan Deni yang menemaninya hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah konyol sepupunya itu. "Apa begitu lama ya prosesnya. Udah hampir tiga jam belum ada kabar juga."


" Udah sih Dav. Lo tenang aja Marissa pasti nerima lamaran lo. " ucap Yogi.


" Iya tuh bener. " Sambung Deni. Hanya Jaka yang tak bersuara. Dalam hatinya ia tengah sedih namun berusaha tegar. Rasa suka nya pada Marissa tak bisa hilang begitu saja. Ada perasaan sedih kecewa bercampur dalam hati nya.


Yogi yang mengetahui perubahan sikap Jaka langsung menyenggolnya. Sudah beberapa kali Yogi memperingatkan Jaka untuk tidak menaruh hati pada gadis kesayangan sepupu mereka. Bahkan Yogi dan Jaka sempat berkelahi hanya gara gara masalah ini.


Dulu Jaka yang baru mengetahui jika Marissa adalah pacar Davy dari Yogi merasa sedikit putus asa. Hatinya yang sudah tertambat pada Marissa membuatnya susah membuka hati. Kalau sekedar suka mungkin iya. Tapi hati dan pikirin nya hanya seputar Marissa.


" Iya Dav, lo ga usah hawatir. Marissa pasti ga makan nolak lamaran lo ko. Apalagi dia sendiri yang minta kepastian. " ucapan Jaka aga sedikit gagap. Entahlah mungkin ia tengah menahan semua gejolak dalam hatinya.


Yogi segera menepuk bahu sang sahabat mencoba memberi kekuatan. Sebenarnya hanya Yogi yang tau tentang perasaan Jaka. Namun karena kepekaan Davy ia bisa melihat ada rasa lain dari tatapan Jaka pada Marissa tanpa ada yang memberitahu.

__ADS_1


__ADS_2