
Marissa sibuk dengan pikiran nya sendiri sampai lupa untuk meminta Davy berhenti di rumah Kake. Ia tersadar saat Davy berhenti di depan pagar sekolah.
" De... hey... udah sampe loh. "
" Ya ampun ka ko ga berenti dulu di rumah kake? aku kan mau ambil buku paket. "
" Kamu ga bilang de mau ambil buku. Mana kaka tau. Jam ke berapa emang? "
" Jam ke 3 ka habis istirahat. " lesu Marissa. Jika harus kembali waktu sudah siang bel masuk sebentar lagi berbunyi. Buku itu sangat penting karena sang guru kimia yang terkenal kiler pasti akan menghukumnya dan berpikir dia tak niat belajar.
" Jangan sedih. Nanti kaka antar deh pas istirahat. Mana kunci rumah kake nya? "
" Makasih ya ka. Maaf selalu merepotkan. " sambil memberikan kunci rumah pada Davy. Davy hanya mengangguk sambil mencubit hidung Marissa gemas.
" Udah sana gih masuk. Kaka pulang dulu ya"
*
*
__ADS_1
Seperti janjinya pada Marissa Davy datang tepat waktu saat bel istirahat pertama berbunyi ia sudah ada di depan gerbang.
" Ka.... " teriak Marissa girang. Ia lalu berlari menghampiri Davy.
" Nih buku nya. Jangan sedih lagi. "
" Makasih ya ka. "
" Hem.. semangat sekolah kesayangan nya kaka." Davy menyemangati.
" Siap bos! " Marissa langsung berlari kembali masuk setelah melambaikan tangan pada Davy.
Kamu benar benar gadis istimewa de. Hanya kamu yang mampu membuat kaka seperti sekarang. Rela bangun pagi hanya untuk mengantarmu ke sekolah. Kadang kaka seperti orang bodoh saat tak bisa bertemu kamu De. Semoga selamanya kita bersama.
Semenjak mengenal Marissa Davy banyak berubah. Ia jadi bisa bangun pagi hanya untuk mengantar sang pujaan hati. Ia pun tak lagi bermain main dengan wanita. Bahkan kini ia bisa bekerja keras untuk Marissa. Ia lebih belajar bertanggung jawab.
Kadang ia merasa heran sendiri kenapa ia sesayang itu pada Marissa. Gadis sederhana yang selalu berada dalam pikiran nya. Marissa jauh dari kata feminim ia selalu tampil cuek dan apa adanya. Namun itu justru menjadi daya tarik tersendiri untuk Marissa.
Jika kebanyakan gadis yang pernah dekat dengan Davy selalu menjaga image nya jika di depan Davy lain hal nya dengan Marissa. Semua tingkah laku dan perbuatan nya selalu apa adanya. Sehingga Davy merasa nyaman berada di dekat Marissa.
__ADS_1
Ya mungkin itulah cinta. Ta ada alasan saat kita mencintai seseorang. Rasa itu mengalir begitu saja.
*
*
*
Jika Davy tengah heran dengan dirinya sendiri lain halnya dengan bu Rina. Tengah terjadi pergolakan batin dalam dirinya. Ahir ahir ini ia lebih sering melamun.
" Rin kamu kenapa? aku lihat dari kemarin kamu banyak melamun. " Bu Rina diam sejenak memikirkan kata apa yang pas untuk di katakan pada pa Hendra.
" Hemm" bu Rina menormalkan kegugupan nya.
" Mas, apa keputusan kita untuk menikah ini salah? "
" Maksud kamu apa Rin? " Pa Hendra nampak kaget mendengar ucapan bu Rina.
" Aku gak tega mas jika setiap hari anak anak kita selalu berdebat seperti ini. Aku ga mau sampai ada yang terluka mas. "
__ADS_1
" Ngga Rin. Mereka hanya butuh waktu aja untuk menyesuaikan. Percayalah... Beri kesempatan pada mereka Rin. "