Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
nasehat Davy


__ADS_3

Sebagai seorang ayah Pa Setiyawan sudah sangat merindukan Marissa. Sejak kejadian pengusiran hari itu Marissa selalu menghindarinya. Tak ada telpon yang di jawab meskipun hampir setiap hari ia menelpon Marissa.


" Angkat Ca. Ayah menyesal ayah minta maaf. " dengan perasaan yang tak menentu pak Setiyawan terus menelpon Marissa berulang ulang.


" Angkat sayang jangan abaikan ayah seperti ini. " ia berjalan mondar mandir yang berhasil memancing perhatian Bu Ida.


" Telpon terus sampe bengek mas. Ngapain sih tiap hari buang buang waktu cuma buat nelpon anak ga tau diri kaya dia. Noh dia juga udah lupa sama kamu! " ketus bu Ida.


Pa Setiyawan sama sekali tak menggubris ucapan Bu Ida. Ia tetap fokus pada benda pipih nya berharap sang putri kesayangan nya kali ini menerima panggilang dari nya.


" Punya anak ko lupa sama ayah nya heran. Dasar didikan si Rina itu ga bener. Pasti dia yang suruh si Marissa buat aibaiin kamu mas. " Bu ida terus saja bicara menjelekan Marissa dan Bu Rina yang berhasil memancing emosi pa Setiyawan.


" Berhenti menjelekkan putri ku dan Rina. Mereka jauh lebih baik dari kamu. " dengan amarahnya pa Setiyawan memutuskan untuk pergi menemui Marissa secara langsung.


*


*

__ADS_1


Ta seperti biasa Davy hari ini datang aga telat. Marissa yang sudah siap berangkat harus menunggunya beberapa saat.


Suara deru motor yang semakin mendekat membuat Marissa berdiri seketika. Ia sudah sangat hafal suara motor siapa itu.


" Tumben ka telat? " saat Davy sudah berada di depan gerbang.


" Iya, kaka kesiangan bangun nya.Ini juga belum mandi. " cengirnya.


" Astaga ka. Bau dong. " Marissa langsung mendekat menghampiri Davy.


" Udah ah yu telat. Dandan mulu. "


Baru akan naik Marissa melihat mobil Pa Setiyawan dari kejauhan. Ia masih sangat hapal mobil itu.


" Ayo ah ka cepetan. " Marissa buru buru naik. Ia tak ingin bertemu sang ayah. Sebagai seorang anak ia merasa sangat merindukan ayah nya itu. Tapi sakit hati nya membuat dia tak ingin menemui sang ayah. Anak mana yang tak sakit hati jika di usir dari rumah oleh ayah nya sendiri.


Davy yang ta tau keberadaan Ayah Marissa karena dia terus saja sibuk dengan kaca spion pun langsung menurut. Pa Setiyawan datang dari arah berlawanan sehingga ia tak berpapasan dengan Marissa.

__ADS_1


Marissa sedikit meremas baju Davy saking kesal nya saat mengingat kejadian tempo hari. Rasa kecewa nya pada sang ayah kini sudah berkali kali lipat.


Davy membenarkan spion nya agar dapat melihat wajah Marissa.


" Kamu kenapa de ko wajahnya di tekuk gitu masih pagi loh ini? " Heran Davy " Apa karena kaka telat jemput kamu? Maaf ya udah buat kamu nunggu. Kaka janji besok besok ga telat lahi deh. Kamu jangan marah ya... "


" Ih ngga ko ka aku ga marah cuma aga kesel aja. " Marissa sedikit menjeda ucapan nya.


" Kaka lihat ga tadi mobil ayah? " Davy menggeleng. Ia memang tak melihatnya karena terlalu sibuk memperhatikan penampilan nya.


" Aku masih males ketemu ayah ka. Aku kecewa. "


" Kamu yang sabar ya. Tapi menurut kaka lebih baik kamu bicara deh sama Ayah kamu selesaikan masalah kamu. Lagian ga baik juga kan marah sama orang tua. Walau bagaimana pun beliau ayah kamu. Maaf bukan nya kaka ga ngerti perasaan kamu. Tapi kaka tau kamu juga sayang kan sama ayah kamu. " perkataan Davy yang serius membuat Marissa terdiam ia juga membenarkan hal itu. Seberapa benci dan kecewanya dia pada Pa Setiyawan. Ia tetap menyayangi nya.


"Lagian kalo kamu ga baikan sama ayah kamu terus ntar siapa coba yang bakal nikahin kita? " pertanyaan Davy mampu membuat Marissa kembali tersenyum ia mencubit pinggang Davy. Inilah yang Marissa suka dari Davy ia selalu bisa membuat suasana hati Marissa yang sedang sedih menjadi gembira seketika.


Hanya bersama Davy ia bisa berbagi keluh kesah nya. Davy selalu memberi nasehat tanpa menggurui. Membuat Marissa nyaman.

__ADS_1


__ADS_2