Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
restu


__ADS_3

Perjalanan pulang sudah hampir sampai tapi Marissa tak kunjung membuka suara.


" De kamu kenapa dari tadi diem terus? biasanya juga cerewet banget. " heran Davy.


" Ka..... " Marissa tampak berpikir untuk bertanya. Ia aga ragu tapi juga penasaran dengan kenyataan sebenarnya. " Apa setelah kemarin kita ketemu sama Dwi, kaka udah ketemu dia lagi?"


" Ngga, nggak pernah hanya waktu itu aja. Emang kenapa Dek? " Davy sedikit berteriak takut suaranya tak terdengar Marissa.


" Tadi ada yang kirim foto kaka bareng Dwi ke nomer aku. Apa bener kaka pernah foto bareng dia? "


Ciitttt


Davy memberhentikan motor nya secara tiba tiba sampai kepala Marissa terbentur ke helm di kepala Dady.


" Aw.... " Marissa meringis memegangi dahinya.


" Maaf dek. " Davy langsung mengelus dahi Marisaa. Marissa hanya mengangguk.


" Dek apa kaka boleh lihat foto itu?" Marissa langsung menunjukan foto itu. " Apa kamu tau siapa yang kirim foto itu?" Marissa menggeleng.

__ADS_1


" Aku gak tau ka aku ga kenal nomornya baru. "


" Aku ingat foto ini kan diambil waktu kita makan di restoran kesukaan kamu. Aku pernah posting di sosmed mungkin dia ambil terus di edit. "


" Ah iya ini kan foto yang aku ambil saat itu. " Marissa menepuk jidatnya. Ia merasa bodoh karena sudah percaya begitu saja dengan foto yang di lihat sekilas. Karena cemburu berlebihan. " Ka maafin aku ya... aku udah berburuk sangka sama kaka. " Cengir Marissa.


" Iya. Aku tau ko pasti kamu benar benar marah hingga tak bisa ingat.Kamu cemburu kan? " Davy menaik turun kan alisnya.


" Ish.... "


####


Marissa sengaja tak ikut bergabung karena masih aga canggung. Marissa mengintip sang ibu di balik tirai. Terlihat jelas wajah Bu Rina yang begitu bahagia saat bersama Pa Hendra. Tawa yang sudah tak pernah lagi Marissa lihat kini kembali.


" Aku bersyukur bisa melihat ibu seperti ini. Tak ada lagi kesedihan. Ya ibu memang pantas bahagia walau bukan bersama ayah. Mungkin om Hendra lah orang yang tepat untuk ibu. "


Setelah melihat itu hati Marissa tiba tiba merasa tak tenang. Ia memang ikut bahagia untuk sang ibu tapi hati nya mendadak was was. Ada rasa takut yang cukup besar dalam hati nya.


Takut jika sang ibu tak memperdulikan nya seperti sang ayah jika kelak telah memiliki keluarga baru.

__ADS_1


Takut jika suatu saat sang ibu kembali terluka dengan pilihan barunya. Rasanya ia tak rela jika sang ibu kembali terluka.


" Nak... " Panggilan Bu Rina membuyarkan semua lamunan nya. " Kamu kenapa? ko sampe keringetan gini padahalkan cuaca ga panas sayang."


" Ah itu... anu... aku habis beresin kamar jadi keringetan. " gugup Marissa. Ia tak ingin sang ibu merasa hawatir.


" Ca... " Bu Rina menjeda ucapannya terlihat ada sedikit keraguan dari wajah nya.


" Ada apa bu? " Marissa mendongak melihat wajah tegang sang ibu yang begitu kentara.


" Apa kamu ada waktu jika om Hendra mengajak kamu bicara? " Bu Rina tampak menarik nafas dalam.


" Bisa bu, ayo. "


Sebenarnya Marissa sudah mengerti maksud sang Ibu tapi ia pura pura tak mengerti. Ia segera duduk berhadapan dengan Pa Hendra.


" Begini Ca, sebenarnya om mau minta ijin sama kamu.... " pa Hendra sengaja menjeda ucapan nya ingin melihat reaksi Marissa. Sedang Marissa masih fokus mendengarkan tanpa ekspresi. Wajahnya tak menunjukan penolakan ataupun menerima.


" Apa boleh jika om menikahi ibu mu? "

__ADS_1


__ADS_2