Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
bukan wanita bodoh


__ADS_3

Dengan tergesa - gesa Bu Rina turun dari taxi. Ia ingin menemui Pa Setiyawan dan Bu Ida di rumahnya. Bu Rina ingin minta kejelasan status nya.


Sudah beberapa kali Bu Rina mengetuk pintu, namun belum juga ada tanda - tanda pintu itu akan terbuka. Walaupun sangat kesal Bu Rina mencoba menunggu karena ia tau bahwa Pa Setiyawan sedang berada di rumah.


Itu ia yakini karena ia melihat mobil suami nya terparkir di depan rumah. Demi menuntut kejelasan statusnya Bu Rina menepikan dulu ego nya. Karena dia sudah sangat kesal di bilang janda bukan karena Pa Setiyawan belum menceraikan nya. Di bilang bersuami bukan karena Pa Setiyawan sudah ta pernah memberikan nafkah nya baik itu lahir maupun batin.


Jangan kan nafkah untuk Bu Rina bahkan untuk putri mereka Marissa pun ta pernah ia penuhi lagi semenjak menikah dengan Bu Ida. Pa Setiyawan seolah melupakan keberadaan mereka.


Setelah Bu Rina menunggu hampir bosan dan menyerah tampak pintu bergerak terbuka. Sosok Pa Setiyawan yang terlihat berjalan keluar di susul Bu Ida di belakang nya.


" Rina... " lirih Pa Setiyawan


" Ada apa kamu kesini Rin? " ketus Bu Ida


" Kita harus bicara mas. "Bu Rina tanpa memperdulikan Bu Ida ia langsung menarik tangan Pa Setiyawan. Bu Rina membawa Pa Setiyawan naik mobil nya. Tanpa penolakan Pa Setiyawan mengikuti Bu Rina.


" Aku ikut mas. " Bu Ida tak mau ditinggal.


" Diam! aku harus menyelesaikan masalah ku dulu berdua dengan Rina. " bentak Pa Setiyawan.


" Tapi mas aku ini istrimu aku juga harus ikut. Masalah mas itu masalah ku juga." egois Bu Ida.


Pa Setiyawan segera mengunci mobil nya agar Bu Ida ta bisa masuk. Kemudian dengan cepat dia melajukan mobil nya tanpa memperdulikan Bu Ida.

__ADS_1


" Mas tunggu aku Mas! " teriak Bu Ida " Awas kamu Rina berani - berani nya menggoda Mas Setiyawan. " dengan ta tau malu nya Bu Ida.


Dengan perasaan kesal Bu Ida memaki - maki Bu Rina yang telah pergi dengan Pa Setiyawan. Hingga teriakan nya mengundang para tetangga untuk melihat nya.


" Dasar pelakor. Ya wajar aja Pa Setiyawan milih Bu Rina orang Bu Rina sabar gitu."


" Iya ya bu ibu. Kalo saya jadi Bu Rina udah saya bejek - bejek tuh pelakor. "


" Iya dasar perempuan ga tau malu. Ih amit amit. Udah gila kali tuh orang. "


Bu Ida menatap tajam para tetangga nya yang tengah berkerumun melihatnya teriak - teriak tidak karuan.


Sementara Bu Ida tengah kesal setengah mati karena ditinggal Pa Setiyawan. Lain hal nya Pa Setiyawan dan Bu Rina situasi canggung menghinggapi mereka. Sampai mereka tiba di sebuah cafe sama sekali tak ada pembicaraan antara mereka. Keduanya seolah larut dalam pikiran masing - masing.


" Mas aku ingin kamu segera mengurus perceraian kita. " Bu Rina memulai pembicaraan.


" Iya aku juga sudah memikirkan nya Rin. Tapi apa kamu sudah ta mau hidup dengan ku lagi Rin? " dengan egoisnya Pa Setiyawan mengajukan pertanyaan bodohnya.


" Seharus nya aku yang bertanya seperti itu Mas. Kamu sekarang tidak seperti Mas Setiyawan yang aku kenal. Sudah cukup aku bersabar selama tiga tahun ini Mas. Apa kamu pernah mengerti perasaan ku mas?


Apa kamu pikir hidup tanpa status itu enak mas? Aku hanya wanita biasa yang punya perasaan. Aku memang selalu berusaha kuat dan tegar untuk Marissa tapi aku cuma manusia yang mempunyai batas rasa mas.


Jadi aku mohon dengan sangat Mas mau mengurus perceraian kita secepatnya! aku juga ingin bahagia tanpa bayang - bayang kalian. "

__ADS_1


Pa Setiyawan diam dia mencoba mencerna setiap ucapan Bu Rina.


" Tapi Rin apa dihati mu sudah ta ada cinta sedikit pun untuku? "


" Cinta kamu bilang Mas? Kenapa kamu bertanya mengenai cinta sekarang. Asal kamu tau Mas cinta ku sudah musnah oleh pengkhianatan mu. Kamu fikir aku wanita bodoh yang mau mencintai orang yang telah menyakiti ku? Tidak Mas kamu salah. Jika kemarin aku bertahan dan mau memaafkan mu itu semua hanya demi Marissa putri ku. Tapi sekarang apa yang harus aku pertahan kan? kau bahkan sudah ta memperdulikan Marissa. " Bu Rina berdiri dan melangkah pergi.


Namun baru beberapa langkah Bu Rina membalikan lagi tubuhnya.


" Oh iya satu lagi segera ceraikan aku Mas! aku tunggu kabar bahagia itu secepatnya. "


Pa Setiyawan begitu syok dengan perubahan Bu Rina. Bu Rina yang selalu bersikap lembut dan ta pernah membantah nya kini Bu Rina bahkan bisa membentak nya.


Seperti itulah perempuan jika ia terus di sakiti maka lambat laun hatinya akan menjadi keras. Itu semua merupakan bentuk pertahanan diri nya. Semakin dia di sakiti maka semakin kuat dia bertahan dan mencoba bangkit. Tak akan ada yang akan sanggup menyelami hati wanita.


Bu Rina memang terkenal dengan kesabaran nya, namun jika harus berurusan dengan masalah anak dia akan begitu serius. Bu Rina ta ingin Marissa menjadi korban ke egoisan ayah nya.


Pa Setiyawan hanya bisa menatap punggung Bu Rina yang semakin menjauh. Ada rasa penyesalan di hati Pa Setiyawan ia merasa telah salah langkah namun sekarang sudah terlambat nasi sudah menjadi bubur.


Mungkin penyesalan itu lah yang akan menemani sisa hidup Pa Setiyawan sekarang. Bagaimana tidak hanya demi menolong janda dia tega menjadakan istri nya sendiri. Bahkan menghancurkan keluarganya sendiri.


Hanya demi kenikmatan sesaat Pa Setiyawan seakan lupa segalanya dan di saat dia mulai menyadari nya semua sedah terlambat.


Meninggalkan Bu Rina untuk memilih Bu Ida yang sifat nya berbanding terbalik tiga ratus enam puluh derajat dengan Bu Rina merupakan keputusan terbodoh yang diambil Pa Setiyawan

__ADS_1


__ADS_2