
Walaupun acara belum selesai Davy, Marissa Silvy dan Galih memutuskan untuk pulang lebih dulu. Niat awal mereka memang ingin tetap menjaga silaturahmi, walau bagaimana pun mereka harus berusaha menerima kenyataan.
Tapi apa boleh buat jika si empunya hajat saja seperti itu. Mereka tak ingin menambah masalah. Biarlah orang orang berbicara seperti apa, toh mereka tadi juga bisa mendengar sendiri ucapan bi Ida saat menghina Marissa. Bahkan tak sedikit dari mereka ikut mengelus dada, menyayangkan perlakuan bu Ida.
" Nak apa kalian akan benar benar pergi sekarang, bahkan acara nya pun belum di mulai. " Pa Setiyawan yang memang tak tau menahu tentang kejadian tadi karena sedang berbincang bersama tamu nya di dalam, ia sedikit kecewa karena kwdua putri dan para menantu nya kompak untuk segera meninggalkan acara.
" Ia pah maaf, ada acara yang lebih penting untuk kami hadiri daripada kami di sini hanya di permalukan. " ketus Silvy. Ia benar benar geram saat ini. Ia baru selesai bicara saat tangan Galih meremas tangan nya.
" Iya yah, maaf kan kami kami harus pergi. Permisi. " Galih menyudahi percakapan mereka dan segera membimbing kedua adik beserta istri nya untuk segera pergi dari sana sebelum suasana semakin runyam.
Mereka memutuskan untuk menjenguk Bu Rina. Jarang jarang mereka bisa berkumpul bersama seperti itu setelah Marissa menikah.
__ADS_1
💞💞💞💞
Kekawatiran Marissa semakin menjadi. Ucapan bu Ida sungguh melukai hatinya. Wanita mana yang rela di sebut mandul, itu sungguh beban terberat untuk para wanita. Menyandang predikat mandul.
Bahkan dalam tidur pun Marissa tak nyenyak. Mimpi buruk itu membuatnya terus terusan terbangun.
" Sayang kamu kenapa dari tadi aku liat kamu terbangun terus. " Davy yang merasa terusik karena Marissa terus saja bergerak.
" Kaka bangun? maaf ya ka tidur kaka jadi terganggu karena aku."
" Aku terus terusan mimpi buruk ka. " di genggam nya tangan Davy yang tengah sibuk memijit punggung nya. Posisi mereka yang memang tengah berhadapan sambil berbaring membuat mereka bisa melihat wajah masing masing. Davy dapat melihat kecemasan dalam ekspresi Marissa.
__ADS_1
" Apa kamu masih memikirkan ucapan bi Ida tadi? " Marissa hanya mengangguk lemah air matanya sudah mengalir begitu saja.
" De, dengar kaka sayang. " di tangkupnya wajah Marissa " Apa pun yang terjadi kaka tak akan pernah ninggalin kamu. Dengan atau tanpa anak. Jika Allah memang menakdirkan kita tidak memiliki anak pun kita masih bisa memiliki anak dengan jalan mengadopsi. Lagian de kita kan menikah baru sebulan lebih ya wajar lah kalau kita belum mendapatkan nya. Kita nikmati saja dulu de. Jangan terlalu overthingking. Kamu ingat kan kalau ucapan itu doa. "
" Maafkan aku. Aku terlalu takut ka. " Ia memeluk Davy erat.
" Tenang lah sayang kita serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Bagaimana jika besok kita ke rumah sakit untuk konsultasi? "
" Apa boleh? "
" Tentu sayang. " di kecupnya kening Marissa hangat
__ADS_1
Davy memang sering kali di repotkan dengan pemikiran pemikiran Marissa yang kadang membuatnya sedih sendiri. Terlalu banyaknya bayangan ketakutan dalam diri Marissa kadang membuatnya hilang kontrol.
Walau begitu Davy selalu dengan sabar menemani dan mendukung Marissa. Ia selalu ada untuk menenangkan sang istri.