
Setelah dirawat beberapa hari akhir nya Kake di perboleh kan pulang. Waktu libur Marissa di pakai bolak balik rumah sakit untuk menemani Ibu nya menjaga Kake.
" Ca hari ini kan Kake mu kan sudah pulang kamu sekarang boleh main. Kasihan liburan nya cuma ke rumah sakit. " Ibu Rina merasa kasihan pada Marissa.
Semenjak Pa Setiyawan memutuskan untuk berpoligami Pa Setiyawan seolah melupakan kewajiban - kewajiban nya pada mereka. Jangan kan untuk mengajak jalan - jalan untuk biaya sehari - hari pun dia ta lagi perduli.
Sebenarnya Bu Rina sudah acapkali meminta cerai namun Pa Setiyawan seolah enggan menanggapi. Bu Rina sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Pa Setiyawan yang tak berbuat adil dan ringan tangan. Setiap Bu Rina meminta kejelasan status nya, Pa Setiyawan akan menghadiahi Bu Rina sebuah pukulan.
Wanita mana yang mau terima jika dirinya di madu. Apalagi jika sang suami tak berbuat adil. Bukan nya Bu Rina tak mau menjalankan sunah nya namun Pa Setiyawan hanya memberikan Bu Rina status perkawinan saja tanpa mau menjalankan kewajiban nya.
Karena hal itu lah Kake jadi sering sakit - sakitan. Sebagai orang tua Bu Rina Kake merasa telah gagal menjaga putrinya. Walau bagaimana pun orang tua akan merasa lebih sakit jika anak nya menderita.
" Iya Bu. Oh iya Bu apa Ibu sudah menghubungi Ayah lagi? " ragu - ragu Marissa.
" Sudah Ca tapi jawaban Ayah mu tetap sama. Maafin Ibu ya Ca bukan Ibu tidak mau mempertahankan tapi mungkin kamu mengerti sendiri kondisinya sekarang. " Bu Rina menunduk dia mencoba menyembunyikan air matanya yang sudah siap meluncur.
__ADS_1
" Bu.... apapun keputusan Ibu Marissa yakin itu yang terbaik untuk kita semua. Marissa mengerti sekuat apa pun Ibu mempertahan rumah tangga jika hanya Ibu yang berjuang sendiri semua nya akan sia - sia. Marissa akan selalu mendukung keputusan Ibu apa pun itu. Kita pasti bisa melewati semua ini Bu. " Marissa menggenggam tangan Ibunya.
" Terima kasih Ca kamu sudah mengerti keadaan Ibu. Ibu ta menyangka sekarang anak manja Ibu sudah begitu dewasa. Terimakasih na.. Ibu sangat bangga dan beruntung punya anak seperti mu." Bu Rina segera memeluk Marissa.
Mereka begitu larut dalam kehangatan keluarga yang kini sudah ta utuh lagi. Banyak hal yang mereka ceritakan, membuat kedekatan mereka semakin dalam.
Karena merasa bosan di rumah terus Marissa akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Davy di toko nya. Marissa sengaja ta memberi tau Davy bahwa dia akan berkunjung. Marissa akan membuat kejutan untuk Davy sehingga dia naik ojek.
Marissa sengaja turun aga jauh dari toko Davy. Setelah melihat Davy dari kejauhan air mata Marissa ta bisa ia tahan. Marissa tengah melihat Davy yang bersusah payah untuk menaikan kusen pintu yang terbuat dari coran.
Marissa segera menghampiri Davy yang telah selesai dengan pekerjaan nya dan menyodorkan minuman dingin yang dia beli tadi setelah turun dari ojek di sebuah warung dekat toko Davy.
" Cape ya Ka... nih minum pasti Kaka haus. "
" Adek kamu sama siapa? ko ga ngasih tau mau kesini Kaka kan bisa jemput." sambil mengambil minuman yang di bawa Marissa.
__ADS_1
" Kan sengaja ka biar kejutan. Cape banget ya Ka sampe keringetan gitu? "
" Lumayan... sukur deh kamu kesini Kaka punya sesuatu buat kamu. Tapi nanti ya kaka mandi dulu kasihan kamu nanti kebauan nyium keringet Kaka. Tunggu di sini ya jangan kemana-mana oke!"
Davy langsung meninggal kan Marissa untuk mandi. Hanya butuh waktu sepuluh menit Davy sudah kembali. Badan nya sudah nampak segar.
" Duh seger banget kelihatan nya. "
" Iya lah udah wangi lagi kan mau jalan sama kamu. " Davy mencubit hidung Marissa gemas
" Mana hadiah nya? " Marissa langsung menyodorkan tangan nya.
" idih... ga sabaran banget deh. Nih buat kamu de. " Davy menyerahkan sebuah paper bag.
" Apa ya... " penasaran Marissa " Ah kaka ini kan sepatu yang aku mau" saking senanf nya Marissa sampai jingkrak - jingkrak
__ADS_1