
Bu Rina yang baru mengetahui jika Marissa akan kuliah ia sangat sedih. Sedih karena tak bisa berbuat banyak untuk Marissa. Keputusan untuk menikah lagi tak sesuai dengan harapan nya.
Pa Hendra hanya memenuhi kebutuhan sehari hari Marissa tanpa memperdulikan pendidikan nya. Ia hanya peduli pada pendidikan Ruby. Bahkan kini Pa Hendra tengah sibuk mengurus keperluan Ruby di kampus barunya.
" Ca... maafin ibu ya. Ibu ga bisa bantu kamu buat kuliah. Maaf sayang.. " air mata bu Rina sudah tak terbendung lagi harapan hidup bahagia yang ia impikan saat akan menjalani rumah tangga bersama pa Hendra sirna seiring berjalan nya waktu.
Memang semua kebutuhan nya terpenuhi namun tidak dengan sang anak. Jika tak ada Davy maka entah apa yang akan terjadi dengan Marissa. Si gadis malang yang harus selalu di sia siakan.
" Bu kenapa menangis? " Marissa mengusap air mata sang ibu yang kini telah mengalir menganak sungai. " Jangan sedih, ibu doakan saja agar Marissa bisa kuliah dengan lancar. Doakan juga ka Davy agar ia selalu sehat mendapat rejeki yang berkah dan mengalir seperti air agar bisa menyekolahkan Ica bu. "
" Pasti sayang ibu akan selalu mendoakan kalian. Ibu tak tau harus berterimakasih dengan cara apa pada Davy karena ia dengan sukarela mau membiayai sekolah kamu Ca. Bahkan hampir semua kebutuhan mu saat ini di tanggung Davy. Ibu malu nak. "
__ADS_1
" Ibu tak usah malu. Marissa tak pernah meminta itu semua keinginan ka Davy. Marissa sudah sering menolak bu tapi ka Davy kekeh mau aku terusin sekolah. "
" Sayang ibu mohon jangan sia sia kan laki laki seperti Davy. Jaga kepercayaan nya. Dia laki laki baik nak. Ibu ngga mau kamu sampai mengecewakan Davy. Walau bagaimana pun ia adalah orang yang berjasa dalam hidup kamu. Ia mau menerima kamu dengan segala kekurangan kamu. Jarang nak ada laki laki yang mau berjuang seperti Davy."
" Iya bu Insyaalloh Marissa akan ingat semua nasehat ibu. "
*
*
*
__ADS_1
" Nsk apa kamu yakin akan menyekolahkan Marissa? Apa itu tak berlebihan? "
" Iya bu Davy yakin. Davy akan berusaha sekuat tenaga. Davy janji tidak akan merepotkan ayah dan ibu. " Suara Davy begitu tegas menandakan keseriusan nya.
" Tapi nak, hubungan kalian baru sebatas pacaran. Kalau suatu saat setelah Marissa selesai kuliah ia berpaling pada laki laki lain apa kamu tidak rugi nak? "
" Bu... aku percaya pada Marissa. Jika kejadian terburuk seperti itu terjadi aku sudah lapang dada bu. Soal jodoh maut rejeki siapa yang tau bu. Ibu doakan saja aku berjodoh dengan Marissa. "
" Aamiin. Apa tak sebaiknya kamu resmikan dulu hubungan mu dengan Marissa nak? agar ibu tidak was was. Ibu takut kamu kecewa. Hati manusia bisa sedetik berubah. " Davy hanya tersenyum.
" Terimakasih ibu sudah menghawatirkan aku. Itu juga yang selalu Marissa ingin kan bu. Bahkan berulang kali ia meminta meresmikan hubungan kami. "
__ADS_1
" Lalu apa masalahnya Nak? " Bu Yati sungguh hetan dengan pemikiran anak bungsunya itu.
" Aku ga mau Marissa sampai kehilangan masa mudanya hanya karena keegoisan ku bu. Aku ingin ia bisa merasakan kuliah tanpa harus terbebani dengan status pernikahan kami. Aku akan menikahinya hanya jika ia sudah siap. Bukan hanya karena keterpaksaan oleh keadaan. "