
Perasaan Davy begitu bahagia saat ia berhasil di terima kerja. Walaupun gaji nya tak terlalu besar namun cukup untuk membiayai sekolah Marissa nanti.
" Alhamdulillah De. Benar kata ayah, ini mungkin rejeki kamu De. " Davy tiba tiba ingat perkataan sang ayah yang mengatakan jika rejeki saat menyekolahkan anak itu selalu ada. Sesulit apapun keadaan pasti biaya sekolah selalu terpenuhi.
Prioritas utama Davy saat ini hanya ingin menyekolahkan Marissa. Cukup ia saja yang tak mengenyam bangku kuliah. Ia ingin Marissa lebih berhasil dari pada dirinya. Biarlah dia sekarang yang susah asal Marissa jangan.
" Aku harus segera memberitahu Marissa agar ia bisa segera mempersiapkan semua berkas berkas untuk pendaftaran nanti. "
Dengan segera Davy menuju sekolah Marissa. Sudah tampak murid murid kelas XII yang sudah selesai menjalankan bakti sosial mereka.
Dengan wajah yang berseri Davy melambai ke arah Marissa yang tengah berjalan kearahnya. Tak seperti biasa Marissa berjalan sendiri. Entah kemana tiga bodyguard abal abal nya itu.
" Tumben dek sendiri? " sesaat setelah Marissa berada di dekatnya. Biasanya kemana pun Marissa pergi selalu di kawal mereka bertiga kecuali ke toilet ya.
"Mereka masih bantuin Pa Brata." jawab Marissa yang mengerti arah pembicaraan Davy. " Ko malah nanyain mereka sih bukan nanyain aku? " Marissa sedikit kesal.
__ADS_1
" Lah kamu kan ada de, ngapain kaka tanyain?" Davy mencubit hidung Marissa gemas.
" Oh ia ya." Marissa menepuk jidatnya.
Selepas itu mereka segera pulang ke rumah Pa Hendra. Bu Rina meminta Marissa untuk menemani Ruby di rumah selama mereka sedang di rumah sakit.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah Pa Hendra. Suasananya sedikit sepi karena hanya ada mereka berdua. Mungkin Ruby madih di sekolah atau sedang main Marissa tak tau.
" Ka gimana, di terima kerja ngga? " Marissa memilih mengobrol di teras. Bukan apa apa mereka hanya tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan apalagi kondisi rumah sedang sepi.
" Maaf aku ga bisa ka, soalnya Ruby di rumah sendiri. Dia pasti ngadu sama papa kalo aku tinggal. Lain kali aja ya. " lembut Marissa ia sebenarnya tak enak hati harus menolak ajakan Davy tapi ia takut jika ia meninggalkan Ruby sendiri maka akan menjadi masalah untuk sang ibu.
" Iya ngga papa kaka ngerti. Kita bisa pergi lain kali. " walau aga sedikit kecewa Davy mencoba mengerti keadaan Marissa. Itulah yang membuat Marissa semakin menyayangi Davy. Karena Davy tak pernah memaksakan kehendaknya.
" Makasih ya ka. " Davy hanya tersenyum mendengar ucapan Marissa.
__ADS_1
Mereka berbicara aga lama di luar sambil menunggu kedatangan Ruby yang entah dari mana. Davy tak ingin meninggalkan Matissa sendiri di rumah. Ia baru pulang setelah Ruby datang kerumah.
Sepeninggal Davy keadaan menjadi canggung. Walaupun beberapa hari ini mereka selalu di rumah berdua namun sikap Ruby yang tak ada ramah ramahnya membuat Marissa tak nyaman.
Marissa segera memasak alakadarnya karena sangat lapar. Setiap hari selama Bu Rina tak di rumah Marissa lah yang selalu masak untuk dirinya dan Ruby.
Walaupun aga sedikit canggung ia segera memanggil Ruby untuk makan bersama. Seperti biasa raut wajah Ruby sungguh tak bersahabat. Namun apa boleh buat Marissa tetap diam. Usia mereka yang seumuran tak membuat mereka bersahabat.
" Lo masak apa sih? " ketus Ruby.
" Cuma nasi goreng. Hanya itu yang ada dan bisa ku masak persediaan habis. "
Tanpa basa basi lagi mereka memakan nasi goreng masing masing. Ta ada obrolan selama mereka makan.
" Cuciin punya gue sekalian. " Ruby menyodorkan piring kotor bekas ia makan. "Jangan lo pikir gue udah bisa nerima lo ya! inget satu hal, lo di sini tuh cuma numpang. "
__ADS_1