
Marissa melihat Bu Rina yang sedang melamun di teras rumah. Dari raut wajahnya nampak jika ia tengah banyak pikiran.
Sebagai seorang anak Marissa ikut sedih melihat Ibunya yang akhir - akhir ini sering melamun.
" Ada apa Ca? " suara Kake mengagetkan Marissa. " Apa Ibu mu melamun lagi? "
" Iya Ke beberapa hari ini Marissa lihat Ibu jadi lebih sering melamun. Apa sebenarnya yang Ibu lamun kan ya Ke? "
" Entah lah Ca Kake juga tidak mengerti. Ibu mu yang biasanya cerewet sekarang jadi pendiam. Mungkin itu semua karena Ayah mu. " lalu Kake mendekati Bu Rina.
Kake merasa sedih melihat putri yang selalu ia banggakan kini tengah terpuruk. Begitu banyak beban di pundak Bu Rina yang harus ia tanggung.
" Nak... kamu kenapa? ayah lihat belakangan ini kamu melamun terus, apa Setiyawan masih belum memberimu kepastian? "
" huuuhh... " terdengar Bu Rina menghela nafas " Iya Yah, Rina bingung harus berbuat apa? setiap Rina bertanya Mas Setiyawan seolah terus menghindar. Dia itu lari dari tanggung jawabnya Yah"
" Kalau begitu kamu pergi temui pak ustad Tarkim minta pendapat nya tentang apa yang sebaiknya kamu lakukan. Minta antar Davy. "
Bu Rina menyetujui usul Ayah nya. Dengan cepat Bu Rina menyuruh Marissa menelpon Davy untuk minta bantuan nya. Marissa yang telah mengetahui usul Kake ia pun menyetujuinya.Davy tak menolak secepat mungkin ia menuju rumah Kake Marissa. Dengan senang hati Davy mengantar Ibu Rina.
Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit mereka sampai di rumah ustad Tarkim. Tanpa basa basi Bu Rina mengutarakan tujuan nya menemui beliau. Bu Rina menceritakan semua masalah yang tengah ia hadapi selama hampir 7 bulan ini tanpa menambah atau pun mengurangi cerita.
Ustad Tarkim mendengarkan cerita Bu Rina dengan cermat. Ia tak ingin salah memberi saran. Setelah mendengar cerita Bu Rina akhirnya Ustad Tarkim menyaran kan Bu Rina untuk mengajukan gugatan cerai.
Dengan beberapa alasan kuat yang membuat Bu Rina setuju untuk berpisah. Tindakan KDRT yang di lakukan Pa Setiyawan dan tidak di penuhi nya nafkah lahir ataupun batin serta menelantarkan anak nya.
Setelah mendapatkan pencerahan mengenai masalah nya akhirnya Bu Rina memutuskan untuk pulang.
" Davy terima kasih banyak atas semua bantuan dan pengorbanan kamu Nak. Selama ini kamu sudah banyak meringankan beban Ibu. Bahkan kamu rela memenuhi semua kebutuhan Marissa. Maaf jika Ibu merepotkan mu. Ibu merasa sangat terbantu Nak. " Ibu Rina mengelus punggung Davy.
" Ibu tidak perlu sungkan Bu. Masalah Marissa, Davy iklas Bu melakukan nya. Marissa adalah seseorang yang paling berharga buat Davy. Dengan sekuat tenaga Davy akan berusaha membahagiakan Marissa Bu. Davy akan terus membantu Ibu agar Marissa bisa menggapai semua cita - cita nya. "
Jawaban Davy membuat Ibu Rina begitu terharu. Begitu besar rasa cinta Davy untuk putrinya.
" Terimakasih Nak. "
🍃🍃🍃
__ADS_1
Kehidupan yang kita jalani memang ta selamanya mulus dan sesuai dengan yang kita harap kan. Banyak ujian yang harus kita lewati. Namun jika kita bisa melaluinya dengan iklas dan sabar semua akan berbuah manis.
Semua itu untuk menggembleng kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi kedepan nya. Bukan karena sang Maha Kuasa membenci kita namun itu semua untuk menaikan derajat kita.
Seperti hal nya Marissa yang di uji dengan kehancuran keluarga nya. Namun di sisi lain ia menemukan sosok Davy yang begitu bertanggung jawab dan menyayangi nya dengan tulus.
🍃🍃🍃🍃
Seperti biasa Marissa kesekolah diantar Davy. Davy sudah layaknya ojek pribadi Marissa kemanapun Marissa pergi Davy selalu mengantarnya.
Davy melihat teman - teman sekolah Marissa memakai tas yang tengah ngetren di antara para siswa. Hanya beberapa saja yang tidak memakainya termasuk Marissa.
Marissa memang termasuk anak yang tidak neko - neko. Dia memang pribadi yang cuek dengan hal - hal seperti itu. Jangan kan saat ini, dulu ketika orang tua nya masih bersama pun Marissa selalu berhemat.
Dia selalu mendahulukan apa yang menurutnya penting saja. Padahal Pa Setiyawan selalu memanjakan nya. Setiap apa pun yang Marissa inginkan jika Pa Setiyawan mengetahui nya ia selalu mewujudkan nya.
Apalagi untuk saat ini, Marissa hanya berpikir bisa lulus sampai SMA saja sudah termasuk hal luar biasa untuk nya. Hampir semua biaya sekolah dan hidupnya selalu Davy yang tanggung. Jadi dia tak pernah berpikiran untuk meminta hal - hal yang menurutnya tidak penting.
Davy merasa kasihan pada Marissa ia takut jika kekasihnya itu merasa minder. Dia memang sangat pengertian. Bahkan hal - hal kecil pun dia selalu memperhatikan nya.
" Aku tau kamu pasti menginginkan nya. Tapi kamu selalu saja menutupi semua keinginan mu. Aku harus membelikan Marissa tas seperti yang dipakai teman - teman nya. "
Seperti itulah Davy jika berurusan dengan kepentingan Marissa. Dia memang sudah berlaga seperti Ayah yang tak mau jika putri nya merasa sedih.
Dengan buru - buru ia pergi ke toko matrial ayah nya. Davy mengerjakan semua tugas nya. Padahal jika Davy mau masalah uang ia bisa langsung meminta pada Ayahnya tanpa harus bekerja keras.
Tapi Davy tak pernah mau jika ia harus meminta uang tanpa bekerja jika itu untuk keperluan Marissa. Dia ingin memberikan semua kebutuhan Marissa hanya dari hasil keringat nya.
" Davy ada apa lagi kamu kok kerjanya semangat amat? apa kamu lagi butuh uang? " Ayah Davy bertanya sambil tersenyum sebenarnya dia aga heran melihat Davy yang bekerja lebih giat akhir-akhir ini.
" Ayah bikin Davy kaget aja. Gini Yah sebenarnya Davy mau ngasih kejutan buat Marissa tapi uang Davy masih kurang. Jadi Davy kerja keras deh. " Davy menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Kamu itu ada - ada aja. Ayah bangga sama kamu Dav. Kamu sudah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Ya memang harus seperti itu, laki - laki memang harus bekerja keras biar bisa nyenengin orang yang kita sayang. "
Pa Eko tak ingin mempersulit Davy ia segera memberikan upah untuk Davy. Karena ia pun tau jika Davy begitu tulus menyayangi Marissa.
" Loh Yah ini kaya nya kebanyakan deh. " tolak Davy karena ia merasa upah nya terlalu banyak. Dia memang selalu meminta upah sesuai pekerjaan yang ia kerjakan. Semua karyawan toko tersenyum geleng-geleng kepala akan tingkah Davy.
__ADS_1
" Anggap saja itu bonus Dav. " Ayah Davy menepuk pundak anak bungsu nya itu. " Udah jangan kebanyakan mikir cepet jemput Marissa kasihan dia jika harus menunggu terlalu lama. Bukan kah ini sudah saat nya kamu jemput dia."
Dengan senang Davy bergegas mandi untuk menjemput Marissa. Saat ia melihat jam masih ada waktu sekitar lima belas menit sampai jam pulang Marissa.
Dia memutuskan untuk membeli sebuah tas dulu untuk Marissa. Dia begitu antusias memilih model tas yang menurutnya pas untuk Marissa.
Saat keluar dari toko tas Davy melihat-lihat cincin emas di toko emas yang bersebelahan dengan toko tas. Sudah sejak lama Davy ingin membelikan Marissa sebuah cincin. Setelah memilih model dan ukuran yang kira-kira pas untuk Marissa ia segera pergi menjemput Marissa.
Dari kejauhan Marissa sudah tampak menunggu Davy di depan gerbang sekolah.
" Maaf dek kaka telat ya? udah lama? " Davy merasa tak enak hati karena telah membuat Marissa menunggu.
" Ah nggak ko Ka. Aku baru aja keluar. " Mereka pulang mengendarai motor Davy.
" De kita mampir dulu ya ke warung bakso langganan kita. " ajak Davy. Marissa hanya menganguk.
Mereka makan baso dengan lahap nya. Hingga saat Marissa sudah selesai makan Davy segera memberikan hadiah nya.
" Apa ini Ka? " heran Marissa
" Buka aja. Kamu pasti suka" Marissa langsung membuka nya.
" Ka ini kan tas yang lagi ngtren itu. " Marissa tersenyum senang. " Kaka ngapain sih repot - repot aku kan jadi ga enak"
" Udah nggak papa. Kamu suka ngga hadiah nya? "
" Suka banget ka"
" Ada satu lagi nih. " Davy langsung menyematkan cincin itu di jari manis Marissa.
" Ah... Kaka, apa ini ga berlebihan aku malu Ka. Bukan aku menolak tapi Aku ga enak ka ini terlalu mahal. Aku ga mau di sebut cewe matre."
" Itu kan kalau kamu yang minta. Ini kan Kaka yang kasih. Udah terima aja ya, Kaka mohon mau ya? "
" Makasih ya Ka. Masf sudah banyak merepotkan. "
" Suut... apa pun untuk gadis kecil Kaka "
__ADS_1