
Davy yang baru sampai di kantornya sangat terkejut dengan kabar yang di dengarnya dari Yogi. Ia benar benar tak habis pikir dengan tingkah Adit.
Setelah mendapatkan ijin dari atasan nya Davy segera menyusul Marissa ke kampus. Perasaan nya sudah tak karuan. Setelah memarkirkan motornya ia segera berlari ke tempat yang telah di sebutkan Yogi tadi.
Tampak Gadis nya tengah duduk tertunduk di lantai masih dengan airmata yang mengalirkan dan rambut acak acakan. Marissa sama sekali tak mengubah posisinya sejak tadi. Yogi dan kedua sepupunya masih setia menemani Marissa di tempat itu. Tapi tak seorang pun dari mereka yang berhasil membujuk Marissa.
" De... " lirih Davy ia langsung berlari mendekati Marissa.Di rapihkan nya rambut Marissa yang terlihat acak acakan. " Kamu ga papa kan de? "
Tanpa sepatah kata Marissa langsung berhambur ke pelukan Davy. Ia menangis sejadi jadinya. Bersukur suasana masih sangat sepi karena waktu masih pagi.
Ta ada lagi kata yang keluar dari mereka. Davy sangat marah saat ini. Namun ia harus lebih mengutamakan Marissa dulu Diana's kemarahan nya. Biarkan ia selesaikan urusan nya dengan Adit nanti sepulang kerja.
Davy memang hanya di beri ijin selama dua jam saja. Tapi itu sudah cukup untuk nya asal bisa segera bertemu dengan Marissa dan mengetahui keadaan sang gadis.
__ADS_1
Setelah dirasa Marissa sudah aga tenang ia mengajak Marissa pulang. Ia tak mau Ada yang melihat Marissa kacau seperti ini.
" Gue bawa Marissa pulang dulu. Thanks ya kalian udah jagain cewe gue. " pamit Davy.
" Iya. Sorry seharusnya kejadian kaya gini ga pernah terjadi. Ini salah kita kita udah lalai jagain Marissa. " Mereka bertiga merasa telah gagal menjaga Marissa.
" Iya ga papa gue ngerti. " Davy menepuk punggung Yogi yang berada di dekatnya. "Gue balik ya. " Davy langsung membawa Marissa pergi.
Sepanjang perjalanan Marissa hanya diam. Bahkan ia tak menjawab pertanyaan Davy. Entah apa yang sedang di pikirkan gadis itu .
" Kita makan dulu ya. " lembut Davy sedang Marissa hanya mengangguk. Davy tak pernah melepaskan tangan nya dari tangan Marissa. Ia segera memesan makanan tanpa bertanya pada Marissa dulu karena ia sudah sangat hapal apa yang di suka dan tak di sukai kekasihnya itu.
Davy tak ingin bertanya pada Marissa untuk saat ini. Ia akan membiarkan Marissa tenang dulu.
__ADS_1
" Dimakan ya, kaka tau kamu pasti lapar. " Seperti tadi Marissa hanya mengangguk. Is tau jika sang kekasih tadi belum sempat sarapan. Davy merasa beruntung sesedih apa pun Marissa ia masih bisa makan. Mereka makan tanpa berbicara sedikitpun. Bahkan Marissa makan sambil terus menunduk.
" Maaf.." Davy yang baru selesai makan langsung memilih ke arah Marissa.
" Kenapa minta maaf de. Ini bukan salah kamu. Kalau boleh tau apa kamu kenal Adit? "
" Maaf karena tak bisa menjaga diri. " air mata Marissa kembali menetes. " Iya aku kenal dia. Dulu sebelum aku mengenal kaka dia sempet deketin aku. Tapi aku ga pernah kasih respon ke dia. Aku hanya anggap dia teman biasa. Aku ga pernah tau jika dia memiliki rasa lebih. Kami memang sudah lama tak bertemu. Dulu aku sengaja mengganti nomor telponku karena aku malas berhubungan terlalu dekat dengan laki laki. " Marissa menghela nafasnya berat.
" Maaf Karena tak pernah cerita pada kaka. Karena aku berpikir itu tidaklah penting. "
" Tidak apa apa sayang, kaka ngerti. Kamu juga berhak cerita apapun yang ingin kamu ceritakan pada kaka begitupun sebaliknya. Jika kamu tak ingin bercerita itu hak kamu.Oh ia apa kamu tau jika Adit itu teman kaka? " Marissa menggeleng.
" Tapi apa boleh jika kedepan nya kamu menceritakan apa pun pada kaka? Kaka tak ingin ada rahasia di antara kita. " Davy tersenyum sebenarnya ia malu mengatakan nya. " Bukan apa apa kaka hanya ingin menjadi tempat ternyaman kamu dalam membagi suka dan duka. "
__ADS_1
" Pasti. Terimakasih ka selalu ada di setiap keadaan ku. "