
Kedatangan Marissa membuat Davy sedikit lega. Ia bersukur sang kekasih bukan lah gadis yang ribet dalam berdandan. Sehingga tak perlu lama ia menunggu bersama Dani yang menurut Davy lebih menyeramkan.
" Ayo ka. Aku siap. "
" Jangan malam malam pulang nya. Kalian pergi dari pagi." Nada suara Dani ta selembut biasa. " Dav jaga adik gue. " Davy hanya mengangguk paham lalu pergi bersama Marissa.
" Dek... kaya nya nambah lagi deh tuh bodyguard kamu. "
" Siapa? " heran Marissa. " maksud kaka ka Dani? "
" Iya. Kayanya dia sayang sama kamu. "
" Kayanya. Ka Dani ga pernah bedain aku sama Ruby. Kemarin aja aku di beliin sepatu nih... aku pake sekarang. "
Dengan segera Davy memberhentikan motornya. Ia melihat tak suka ke arah sepatu Marissa.
" Buka De!"
" Loh kenapa ka? " Marissa merasa tak ada yang salah dengan sepatu itu.
" Kaka ga suka ya kamu pake barang yang di beliin sama orang lain. " Davy melepas sepatu Marissa.
__ADS_1
" Ka..." protes Marissa. " kalo aku buka terus aku pake apa? Lagian ka Dani itu kaka aku ka sekarang bukan orang lain. " Marissa mencubit gemas pipi Davy.
" Kamu pake punya kaka. Nanti di depan kita beli." ketus Davy ia masih melepas sepatu Marissa yang sebelah lagi.
" Jangan bilang kaka cemburu ya? " tebak Marissa yang membuat Davy makin salah tingkah.
" Nggak. " dia melepas sepatunya yang kebesaran untuk di pake Marissa. Dengan sigap memasangnya pada kaki Marissa.
" Turun dulu kaka simpen sepatu kamu. " Karena dari tadi Marissa masih duduk di motor Davy. " Tadinya mau kaka buang tapi takut kaka kamu itu nanyain ntar jadi masalah lagi buat kamu. Pokonya ini terahir kali ya kamu pake sepatu ini. "
Marissa hanya tersenyum. Wajah Davy yang sedang cemburu sangat menggemaskan di mata Marissa.
Tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi ada sebuah toko sepatu mereka berhenti di sana. Davy yang sangat tau selera Marissa bisa dengan mudah menemukan sebuah sepatu untuk nya.
" kamu suka de? " sambil memperlihatkan sepatu pilihan nya. Beberapa pengunjung menarap heran Davy yang bertelanjang kaki. Namun saat mereka melihat Marissa mereka tersenyum senyum sendiri.
" Banget ka. " girang Marissa. " Emang kaka punya uang. ini mahal loh ka? " bisik Marissa yang hanya bisa di dengar Davy.
" Stttt... "
Davy pergi meninggalkan Marissa sebentar untuk membayar setelah mendapat ukuran yang pas.
__ADS_1
Tanpa ragu Davy kembali memasang sepatu pada kaki Marissa.
" Ka... aku bisa sendiri. " Marissa ta enak hati dengan perlakuan manis Davy. Namun Davy seolah tuli ia tak mendengar apa perkataan Marissa. Ia terus saja melanjutkan pekerjaan nya.
" Udah ayo jalan. " mereka berjalan beriringan keluar. Mereka ta sadar jika seseorang tengah memperhatikan mereka.
Baru akan naik ke motornya Davy di kejutkan oleh kedatangan Dwi yang tiba tiba menarik tangan Marissa dengan begitu kasar. Wanita itu masih belum menyerah untuk mendekati Davy.
Api cemburu di hatinya semakin menjadi saat ia melihat perlakuan manis Davy tadi.
" Dasar perempuan penggoda. Kamu masih berani ya deketin Davy! lo ga takut sama ancaman gue. "
Marissa yang kaget dengan perlakuan kasar Dwi ia hanya bisa diam. Tak tau harus berbuat apa. Orang orang sudah mulai berdatangan melihat kegaduhan dari suara Dwi.
Banyak yang mengira Marissa yang telah merebut kekasih Dwi. Davy yang mulai jengah langsung mendorong tubuh Dwi. Ia melihat pergelangan tangan Marissa yang memerah karena ulah Dwi.
" Berhenti ngatain cewe gue wanita penggoda. Dia itu ga kaya lo! jangan pernah ganggu dia. Lo pikir gue bakalan suka sama cewe kaya lo. Mimpi. " bentak Davy kesabaran nya sudah habis menghadapi perempuan itu.
Dwi semaki marah saat melihat Marissa memeletkan lidah nya di belakang Davy. Marissa sengaja karena ia merasa Davy lebih menyayanginya. Bahkan tubuh Davy seolah sengaja menjadi benteng untuk menutupi tubuh Marissa dari amukan Dwi.
" Lo inget perkataan gue baik baik. Jauhin gue sama cewe gue. Jangan pernah lo nunjukin muka lo lagi di hadapan gue. Gue ga bakalan pernah maafin lo kalo sampe terjadi sesuatu sama cewe gue. Camkan itu." Davy pergi meninggalkan Dwi yang masih diam mematung sambil menggenggam tangan Marissa untuk naik ke motor nya.
__ADS_1
Bahagia tentu saja Marissa bahagia. Perempuan mana yang tak bahagia jika mendapat perlakuan seperti Marissa. Davy benar benar menunjukan rasa cinta nya di depan Marissa.