
Hari-hari berlalu seperti biasa bahkan tak ada yang istimewa bagi Marissa. Perpisahan kedua orangtua nya sedikit banyak membuat perubahan sikap Marissa.
Marissa menjadi pendiam dan dingin. Bahkan ia seperti nya sulit untuk percaya pada orang baru. Tak jarang membuat Davy aga kerepotan dengan sikap nya itu.
Marissa bahkan tak pernah mau menginap di rumah ayah nya. Hubungan Marissa yang tadinya begitu dekat dengan Pa Setiyawan kini mulai renggang seperti ada jarak yang memisahkan mereka.
Beberapa kali Pa Setiyawan mengajaknya untuk menginap di rumah nya namun Marissa tetap menolak dengan berbagai alasan. Ia tak ingin menyakiti hati Ibunya. Karena Marissa berpikir jika ia menginap dengan ayah nya berarti ia telah menghianati Ibu nya. Dengan menginap berarti sama saja dia menerima pernikahan ayah nya dengan Bu Ida.
Seperti hari ini ia mengunjungi rumah Ayah nya. Ia hanya ingin sekedar meminta uang untuk biaya sehari-harinya. Walaupun Marissa sendiri tak yakin sang ayah akan memberikan nya uang. Marissa langsung mengetuk pintu berharap irang yang pertama muncul adalah ayah nya.
Namun sayang harapan nya harus sirna saat yang nampak di balik pintu adalah orang yang paling ia ingin hindari. Ya wajah itu milik Bu Ida, wanita yang telah menghancurkan keluarga nya.
" Oh kamu! ada apa kesini? mau minta uang ya?" bengis Bu Ida. Wajahnya sudah menampakan ketidak sukaan nya pada Marissa.
" Iya, aku mau minta uang sama ayah. "
__ADS_1
"Enak aja minta-minta emang kamu pikir ini panti sosial. Heh Marissa asal kamu tau yah Ayah kamu itu udah bangkrut showroom nya aja udah mau di jual. Dia itu cuma jadi beban aja buat saya tau ngga! jadi kamu ga usah minta-minta kesini lagi. "
"Hahaha... pantes sih ya soalnya kan mana ada rejeki maling berkah. Oh iya terserah Bu Ida mau ngasih atau ngga aku cuma mau ngingetin aja karena Ayah aku masih punya kewajiban atas biaya hidup ku. Kalo ga mau ngasih juga ga papa sih soal nya aku yakin walaupun kalian ga ngasih masih ada rejeki aku dari orang lain. " Marissa nemasang wajah paling menyebalkan nya.
" Oh iya aku cuma mau nitipin ayah aku. Jangan sampai di buang sayang susah-susah dapetin nya sampe harus ngerusak rumah tangga orang. Upssss... maaf keceplosan. " Marisaa tertawa jahat. Ia sengaja berkata seperti itu karena merasa geram pada Bu Ida. Dia langsung melenggang pergi tanpa memperdulikan omelan Bu Ida.
Marissa memang tak seperti Ibu Rina yang selalu bersikap lembut dan sabar. Bahkan saat harga dirinya di injak-injak Bu Ida pun Bu Rina selalu diam. Ia tak pernah menginginkan pertengkaran ia selalu mengalah.
Hal itulah yang membuat Marissa sedikit jengkel pada Bu Rina. Marissa selalu meminta Ibu nya untuk melawan namun Bu Rina selalu diam dan mengalah. Bu Rina selalu meminta Marissa untuk tetap berprilaku sopan pada Bu Ida walau pun Bu Ida telah menyakitinya.
____________
Dengan jengkel Marissa pulang ke rumah nya. Dalam hati nya dia masih mengeluarkan ribuan umpatan untuk ibu tiri nya itu.
Marissa aga bingung saat sampai di rumah ada wanita cantik yang tengah duduk di teras rumah. Ia tampak sedang berbicara dengan Ibu nya.
__ADS_1
" Eh Ca sukur kamu udah pulang ini ada yang nyariin kamu. Tante tinggal ya nak. " Bu Rina langsung masuk karena masih ada pekerjaan.
Marissa merasa bingung karena dia tidak mengenal wanita itu. " maaf siapa yah? "
" Hai... kenalin aku Kristin aku sodaranya Davy. Aku kesini mau minta maaf sama kamu soal foto itu. " Kristin sengaja datang menemui Marissa untuk berkenalan sekaligus minta maaf pada Marissa.
" Marissa..Hmmm" Marissa tampak berpikir ia sedang mengingat wajah itu. " oh yang kemarin foto bareng ka Davy yah? "
" Iya, soal itu maaf yah. Aku ga tau kamu bakal semarah itu sama Davy. "
" Ga papa Ka, kemarin Ka Davy juga udah bilang ko. "
" Oh ia aku kesini di suruh Davy buat ajak kamu ke rumah. Soal nya Davy nya lagi sibuk berkemas. "
" Berkemas? emang Ka Davy mau kemana? "
__ADS_1