
Pagi hari yang cerah telah datang. membangunkan setiap insan Dari peraduan nya. suara cicit burung menambah indah Suasana pagi.
Hari ini marissa sekolah seperti biasa walaupun wajah nya aga memar bekas tamparan ayahnya kemarin namun ta mengurangi semangat Marissa. saking kerasnya tamparan itu hingga membuat pipi marissa aga membiru.
" bu ica berangkat dulu ya ka Davy sudah menunggu di depan, oh iya bu apa ayah tidak pulang? "
" tidak ca mungkin ayah sibuk. udah Sana berangkat nanti telat! kasihan na Davy menunggu lama"
" ah iya bu ica berangkat dulu ya"
"kasihan ibu... " batin Marissa
sebenarnya Marissa bersukur Ayah nya tidak pulang malam ini. Karena marissa ta mau ibu dan ayahnya bertengkar lagi.
" Tumben lama dek? eh wajah kamu kenapa ko memar gitu? " Davy merasa khawatir
" ah... ini kemarin kepentok pintu ka, tapi ga papa ko udah di obatin sama ibu. "
" oh sukur deh, makanya de kalo jalan itu hati -hati" Davy mengacak rambut Marissa
" ka... ih berantakan nih "
" iya deh maaf, ya udah yu nanti kamu telat"
sejak Marissa masuk SMA Dia sudah berpacaran dengan Davy. Muhammad Al Davy adalah putra dari sodara jauh ayah Marissa. walaupun jarak usia mereka hampir Lima tahun namun hubungan mereka berjalan lancar.
__ADS_1
Davy selalu menomor satu kan Marissa. untuk nya kebahagiaan Marissa adalah hal utama. sebenarnya Davy sudah sejak lama mengetahui perselingkuhan pa setiyawan. namun dia memilih diam Karena bingung harus bagaimana.
sejak saat itulah Davy lebih mengutamakan Marissa. Dia ta mau orang yang ia sayang merasa sedih. Davy yang notabene adalah anak manja setelah mengenal Marissa dia berusaha menjadi laki - laki mandiri Dan dewasa.
jika anak seusianya tengah asik bermain maka lain hal nya dengan Davy. Dia habiskan walau nya untuk membantu sang Ayah yang memiliki toko martial. ta jarang Dia membantu ayahnya mengantarkan pasir pesanan pelanggan.
perubahan Davy membuat kedua orang tuanya bahagia sekaligus bangga. Davy yang dulunya sering marah - marah Minta uang Dan taunya main terus, semenjak mengenal Marissa dia berubah 180 derajat.ta ada lagi Davy yang pemarah.
🍃🍃🍃🍃
saat bel pulang sekolah Davy sudah menunggu Marissa di depan gerbang sekolah. ta hanya teman - teman sekolah Marissa yang mengetahui hubungan mereka namun para guru pun telah mengetahuinya. para guru juga memalumi asalkan tidak sampai menggangu sekolah Marissa.
" ka udah lama? ko udah disini aja "
" ya lumayan lah. mau langsung pulang atau ikut ke toko dulu? Hari ini kaka lagi banyak kerjaan dek "
" kerjaan kaka emang penting tapi buat kaka kamu lebih penting dek"
" ah gombal deh mulai.... ya udah yu katanya banyak kerjaan Marissa langsung pulang aja ya ga papa kan" Davy hanya mengangguk Dia mengerti mungkin Marissa cape jadi Dia ta memaksa nya.
hanya butuh waktu Lima belas menit untuk sampai di rumah Marissa. saat sampai rumah Marissa di suguhkan pertengkaran orang tuanya lagi.
" mmm... maaf ka sebaiknya ka Davy langsung pulang aja ya " sebenarnya Marissa merasa malu Karena Davy mengetahui orang tuanya tengah bertengkar.
" oh ya ga papa lagian kaka juga banyak kerjaan" Davy selalu pergi Dia mengerti perasaan Marissa.
__ADS_1
pertengkaran ayah Dan ibu Marissa makin menjadi yang membuat Marissa khawatir. dengan langkah seribu Marissa segera memasuki rumahnya.
kamar yang selalu bersih Dan rapih kini sudah seperti Kapal pecah. Marissa diam mematung di ambang pintu kamar.
Hatinya begitu sakit melihat orang - orang yang Dia sayang tengah bertengkar. anak mana yang rela jika orang tuanya berpisah. dilema terbesar seorang anak saat orang tua memutuskan untuk berpisah adalah saat harus memilih salah satu dari mereka.
perasaan itu sama seperti halnya kita harus minum racun yang di berikan orang yang paling kita sayang.
" aku ga mau tau pokonya kamu harus pergi dari rumah ini sekarang juga aku sudah menjualnya "
" mas apa yang kamu lakukan? rumah ini adalah rumah pemberian orang tuaku jadi kamu tidak berhak menjual rumah ini "
"iya ini memang rumah pemberian orang tuamu tapi surat - surat rumah ini atas namaku, jadi aku bebas menjualnya dengan atau tanpa ijin dari mu Rina ! "
" dasar lelaki ba*in*an kamu setiyawan hanya Demi Kerikil kau tega mengorbankan aku Dan anak - anakmu.
ingat baik - baik setiyawan Hari ini kau boleh mengusir kami tapi ingatlah satu saat kau akan merasakan sakit yang lebih dari yang kurasakan sekarang.
silahkan kau kejar cinta butamu itu tapi ceraikan aku sekarang juga"
" dengan senang hati aku akan menceraikan mu "
Marissa sudah ta tahan lagi ingin rasanya dia menjeerit. bumi yang luas seakan menjadi sempit. langit seakan runtuh bersama runtuhnya air Mata yang berusaha dia tahan. Tubuh nya mulai Bergetar hebat kakinya ta dapat lagi menopang berat tubuhnya. marissa terkulai lemas mendengar keputusan kedua orang tuanya.
perasaan sakit itu terlalu dalam baik itu untuk bu Rina ataupun Marissa. namun bu Rina selalu mencoba tegar di hadapan putri - putri nya. ia ta mau membuat putri nya hawatir .
__ADS_1
Selama tiga tahun belakangan ini bu Rina selalu menyembunyikan setiap kesedihan nya. dia ta pernah mengeluh meskipun pa setiyawan sering Berbuat kasar padanya namun dia tetap bertahan untuk kebahagian putri - putrinya terutama marissa yang masih butuh biaya besar.
namun apa boleh buat sekuat apapun bu Rina mempertahankan rumah tangganya pa setiyawan tatap enggan melanjutkan pernikahan nya