Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
drama ibu dan anak


__ADS_3

Setiap hari Bu Rina selalu menelpon Marissa meminta dia untuk kembali tinggal bersama. Namun untuk saat ini Marissa masih lebih memilih menyendiri. Ia selalu beralasan sayang rumah kakenya jika harus di biarkan kosong dan masih banyak lagi alasan lain nya.


" De sampai kapan kamu mau tinggal disini? Jujur aja kaka takut kamu kenapa napa kalo sendiri. Apalagi ujian sebentar lagi. Kaka ga mau kamu seperti ini terus. "


" Beri aku waktu ka. Ga mudah jadi aku. " Marissa mulai tertunduk.


" De... Maaf bukan nya kaka nyalahin kamu. Kaka tau ini sulit bahkan sangat sulit buat kamu. Kaka cuma hawatir sama kamu. Kaka ga bisa selalu ada buat jagain kamu saat ini. Kaka ga mungkin nginap di sini kan bareng kamu?"


" Coba kamu pikirkan perasaan Ibu, apa kamu yakin ibu tak akan sedih jika kamu terus seperti ini? Ibu pasti merasa bersalah de karena telah menikah lagi. " Marissa hanya diam mendengar kan perkataan Davy.


" Kaka tau ini berat tapi coba kamu jalani dengan iklas agar hatimu tidak lelah. Bukankah kamu pernah bilang ingin melihat ibu bahagia? Ini saat nya de. Jangan biarkan ibu berpikir jika ia telah salah mengambil keputusan. " Davy berbicara sehalus mungkin agar pikiran Marissa sedikit terbuka. Ia berbicara sambil terus mengelus bahu Marissa.


Semua perkataan Davy membuat ia sedikit tersadar. Ia telah egois. Walau bagaimana pun ia telah menyetujui pernikahan sang ibu. Tak seharusnya ia bersikap seenaknya seperti saat ini.

__ADS_1


" Maaf... " lirih Marissa sambil terus menunduk menyembunyikan air mata nya yang mengalir deras dari Davy.


" Maafkan kaka juga dek. Kaka takut kamu salah jalan. Kamu gadis kuat de, kaka juga ga tau bakal kuat apa ngga jika berada di posisi kamu sekarang. " Davy segera mendekap tubuh Marissa membawa gadis itu dalam pelukan nya.


Tanpa Davy sadari ia pun ikut menangis saat mendengar suara tangisan Marissa yang begitu menyayat hatinya. Lama mereka saling berpelukan untuk saling menguatkan.


" Kamu ga usah takut de kaka akan selalu ada buat kamu. Kaka ga bakalan ninggalin kamu. Kita pasti bisa melewati semua ini bersama. " dua jari Davy bergerak mengusap air mata di pipi Marissa.


Setelah mendapat nasehat dari Davy ahirnya Marissa memutuskan untuk pulang kembali ke rumah Pa Hendra. Waktu baru menunjukan pukul delapan malam sehingga Davy memutuskan untuk mengantar Marissa malam ini juga. Ia tak ingin menunda nya. Cukup tiga hari ini perasaan nya tak tenang karena harus meninggalkan Marissa di rumah kake seorang diri.


Jarak antara rumah kake dan Pa Hendra tidaklah jauh hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.


Suara deru motor di pekarangan rumah Pa Hendra mengundang Bu Rina untuk segera melihat siapa yang berkunjung.

__ADS_1


" Ica... " pekik nya terlihat begitu jelas wajah bahagia sang ibu saat melihat putri bungsunya pulang ke rumah. " Ahirnya kamu pulang nak. " Bu Rina segera memeluk sang putri.


" Maafin Ica bu. Ica sudah egois."


" Tidak nak. tidak. Kamu ga salah ini salah ibu. "


Ibu Rina terlihat meneteskan air mata namun segera ia hapus.


Deg


Marissa kembali mengingat ucapan Davy jija sang ibu pasti menyalahkan diri nya atas keputusan nya menikah lagi.


" Tidak tidak aku yang salah. Ibu tak salah. Aku yang egois bu. Maafkan kelakuan ica bu jika sudah melukai hati ibu. " Bu Rina mengangguk sambil terus memeluk putrinya. Sedangkan Davy ia hanya bisa diam menyaksikan drama ibu dan anak yang begitu menguras air mata.

__ADS_1


__ADS_2