Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
drama di pagi hari


__ADS_3

Seperti biasa pagi pagi Davy sudah bersiap menjemput Marissa. Namun suara telpon mengusik kegiatan bersiap nya.


(Hallo ka.. hari ini ga usah jemput ya. Aku di anter ka Dani soalnya. Katanya sekalian dia mau ke arah sana. Ka... ga papa kan? ka... hallo)


(Ah iya) Davy langsung menutup telpon nya. Ia sengaja bangun lebih pagi agar bisa segera bertemu Marissa.


Suara pintu kembali di ketuk bu Yati ia ingin membangunkan Davy untuk menjemput Marissa.


" Davy .. Bangun nak udah siang kasian Marissa nanti telat. "


"Aku ga nganter Marissa bu hari ini. Dia di anter kaka tirinya. " Davy mengeluarkan sedikit kepalanya di pintu karena ia belum selesai berpakaian.


" Oh... kamu kayanya udah mandi? " Davy hanya menggaguk. " Mau kemana katanya ga jemput Marissa? "


" Tidur. Dah ibu. " Davy kembali menutup pintunya. Ia sedikit kesal pada Marissa karena lebih memilih diantar kaka tirinya. Saking jesalnya ia memutuskan untuk tidur lagi. Ia tak ingin kemanapun hari ini.


#

__ADS_1


#


Marissa pun sebenarnya heran karena Davy memutus sambungan telpon nya begitu saja. Namun apa boleh buat waktu semakin siang ia harus segera pergi agar tidak terlambat.


" Ca berangkat bareng ka Dani? Davy udah tau?"


" Iya bu. udah tadi aku udah telpon. "


Terdengar suara ribut dari kamar Ruby. Entah apa yang sedang terjadi. Tampak Dani keluar dengan wajah kesalnya.


" Ayo Ca. " Marissa hanya mengangguk sambil mengikuti nya.


" Cukup Ruby. Biasanya juga kamu bawa motor sendiri. Kenapa sekarang kamu jadi manja? Lagian kaka antar Marissa karena kaka punya tujuan yang searah dengan arah sekolah Marissa.Kenapa kamu marah? " Suara Dani tak kalah tinggi.


Marissa dan Bu Rina yang menyaksikan perdebatan adik kaka itu hanya bisa diam. Apalagi jika di dengarkan Marissa lah sumber pertengkaran mereka.


" Ya sudah Ka aku berangkat sendiri saja. Lebih baik kaka antar Ruby saja. " Marissa berusaha memberanikan diri untuk melerai pertengkaran dua sodara itu.

__ADS_1


" Nah.. kaka dengar sendiri kan. Baguslah kalau kamu sadar diri. " ketus Ruby.


Marissa mencoba tersenyum agar sang ibu tak merasa sedih. Ia mengusap punggung tangan sang ibu. Sambil memberi isyarat jika ia baik baik saja.


" Apa yang kamu lakukan? " suara bariton pak Hendra terdengar mengagetkan semua orang yang ada.


" Ayah.... " Ruby segera bergelayut manja pada sang ayah. " Masa ka Dani lebih memilih anterin Dia dari pada aku adik kandungnya sendiri. " Ruby menunjuk Marissa dengan dagunya.


" Apa salahnya, sekarang kalian sodara. Ga usah sebut sebut sodara tiri atau adik kandung segala sekarang kalian semua sama anak ayah. Bukan kah kita sudah membahas hal ini Ruby? Biasanya juga kamu berangkat sendiri. "


" Tapi yah... "


" Ta ada tapi tapi. Kalau kamu tetap mau di antar biar ayah yang antar. " tegas pa Hendra. Ruby segera pergi sambil menghentak hentajan kakinya.


" Ca maafkan perlakuan Ruby ya. Dia itu memang seperti itu. Apalagi semenjak ibunya meninggal dia selalu mencari perhatian. Seolah dia takut kehilangan kasih sayang dari kami. "


" Tidak apa apa pah... "

__ADS_1


Segera Marissa pergi ke sekolah di antar Dani. Ia tak ingin terlambat. Walaupun hatinya sedikit was was akan perlakuan Ruby pada nya tadi. Ia tak takut Ruby memperlakukan Ibu nya seperti itu juga. Sepanjang jalan Marissa dan Dani hanya saling diam mereka bergelut dengan pemikiran masing masing.


__ADS_2