Pacarku Jadi Ayahku

Pacarku Jadi Ayahku
mandul


__ADS_3

Walau begitu malas Marissa tetap pergi ke rumah ayah nya untuk menghadiri acara empat bulanan anak pertama bu Ida.


Davy dengan setia menemani Marissa. Mereka tau jika nanti mungkin saja terjadi hal hal yang tak di inginkan, tapi karena menghormati sang ayah mereka tetap pergi juga.


" De jika nanti sesuatu yang buruk terjadi di sana dan apa pun yang mereka katakan nanti jangan sampai memancing emosi kamu ya. Lebih baik kamu ga usah ladenin mereka." Davy terus mewanti wanti agar Marissa tetap bersabar.


" Ia ka, jangan hawatir. Tapi aku mohon jangan pernah tinggalin aku ya nanti pas di sana. "


" Iya de kaka janji. "


Mereka kemudian berangkat dengan sepeda motor kesayangan Davy. Motor yang sering ia sebut si mocin (motor cinta) yang menjadi saksi bisu besarnya rasa cinta Davy untuk Marissa.


Setelah berkendara hampir lima belas menitan ahirnya mereka sampai. Sudah tampak banyak orang di sana. Mungkin tamu undangan bu Ida.

__ADS_1


" Ca kamu sudah datang nak. " Pa Setiyawan segera menghampiri Marissa dan Davy. Ia sangat bahagia karena putrinya itu mau hadir. Tak lama Silvy pun keluar bersama Galih. Rupanya mereka sudah sampai duluan.


" Aku kira kamu ga dateng de. " Silvy memeluk tubuh sang adik.


" Aku dateng ko ka, kasian ayah. "ia pun membalas pelukan Silvy.


Mereka sengaja duduk terpisah dari keluarga bu Ida karena hanya anak dan menantu dari pak Setiyawan saja yang tak memakai baju seragam sementara dari keluarga besar bu Ida semuanya memakai baju seragam yang di sediakan bu Ida. Dari itu saja sudah sangat ketauan jika bu Ida begitu membeda bedakan anak nya dengan anak Pa Setiyawan.


" Kamu datang juga Ca, kirain kamu ga dateng. Oh ia Ca kamu udah hamil belum tuh anak bibi aja udah hamil lagi masa kamu belum. " Bu Ida seolah sengaja meledek Marissa di depan semua orang.


" Keburu tua kamu Dav, awas periksain tuh istri kamu jangan jangan dia mandul. " songong bu Ida.


Davy segera menggenggam tangan Marissa di lihat nya wajah Marissa yang sudah memerah menahan amarah air matanya pun seolah akan segera tumpah.

__ADS_1


" Bukan mandul ya bi, orang mereka nikah aja baru sebulan ya wajar lah jika belum hamil. Karena adik saya ini gadis baik baik begitu pun adik ipar saya. Mereka selalu menjaga harkat dan martabat keluarga. Tida seperti anak bibi sudah janda ko masih aja hamil duluan. Baru nikah dua minggu ko kandungan udah empat bulan. " ketus Silvy. Ia sudah sangat geram akan tingkah bu Ida.


" Rebut suami orang lagi. Ck ck ck... memang ya buah jatuh tidak jauh dari pohon nya. " Silvy tersenyum smirk.


Bu Ida segera pergi dengan kemarahan nya setelah mendengar ucapan Silvy. Niat hati ingin mempermalukan Marissa malah dirinya sendiri lah yang di permalukan.


" Kamu ga papa De? " Lagi lagi Silvy memeluk Marissa. " Jangan di dengerin ya omongan nene sihir kaya dia mah. Kaka yakin sebenar lagi juga kamu bisa hamil. Jangan berkecil hati. Kalian nikahan nya aja baru ya wajar lah."


" Terimakasih ka. " ahirnya Marissa menangis di pelukan Silvy.


" Jangan hawatir de kaka aja enam bulan baru hamil." Marissa mengangguk.


Sebenarnya tak hanya Marissa yang sedih dengan ucapan Bu Ida Davy pun ikut merasa sedih. Mereka memang tak pernah membicarakan tentang anak karena Davy tak ingin membebani Marissa.

__ADS_1


Jika tuhan memberi mereka kepercayaan dalam waktu dekat ya alhamdulilah jika lama pun bukan masalah karena saat ini Marissa masih kuliah.


__ADS_2