
Meski Marissa selalu menolak untuk melanjutkan sekolah Davy tetap memaksa. Hingga hari ini ia sengaja menyempatkan mengantar Marissa daftar kuliah di sela sela kesibukan kerjanya.
" Ka aku ga usah lanjutin aja deh, aku ga mau kaka susah ntar gara gara aku loh. "
" Sttt... udah jangan nolak de. Pendidikan itu penting. Walaupun kata orang ahir ahirnya cewe kerja di dapur juga tapi kamu calon ibu dari anak anak ku De. Semakin cerdas seorang istri maka semakin cerdas juga generasi penerus kita. " Davy terus meyakin kan Marissa agar tetap mau sekolah.
" Ya sudah kalo kaka maksa. Tapi jika suatu saat kaka merasa keberatan tolong bilang sama aku Ka jangan membebani kaka sendiri. "
" Ya de, kamu percaya aja sama kaka. Kalo kaka udah ga sanggup pasti kaka bilang. Kita jalanin dan usahain bersama. Kamu usahain belajar yang bener kaka usahain biayanya. Ok. "
Ahirnya Marissa memilih mendaftar jurusan keguruan. Ia berpikir jika ia mengambil jurusan itu tak akan terlalu memberatkan untuk Davy. Selain itu ia berpikir jika menjadi seorang guru ada kesempatan menjadi PNS. Taukan kalo jadi PNS walaupun gajihnya ga terlalu besar tapi bisa seumur hidup.
" Kamu yakin de mau ambil jurusan keguruan? "
" Iya ka aku suka apalagi jurusan sejarah. Kaka doain ya biar aku bisa selesai tepat waktu. Semoga kaka di beri kesehatan dan kelancaran dalam usahanya."
__ADS_1
" Aamiin sayang.... " Davy mencubit hidung Marissa. Davy langsung memasang wajah serius nya " Tapi ingat ya, jangan nakal. "
" Siap kapten. " Marissa memberi hormat seperti tengah menghormat bendera.
Mereka berbincang di area parkir kampus sebelum melanjutkan untuk pulang.
" Ka... ade nya cantik banget loh. Boleh kenalan ga? " tanya seorang laki laki yang di yakini dia seorang mahasiswa di kampus tersebut karena memakai jas almamater kampus.
" Boleh kalo berani. " tantang Davy. Matanya sudah menatap tajam pemuda itu. Aura dingin Davy begitu keluar saat menatap tajam pemuda itu sampai sampai sang pemuda tak lagi sanggup berkata kata. Ia langsung melengos tanpa berani menatap Marissa lagi. Mungkin dia takut dengan tatapan Davy.
" Aku jadi takut de. " tatapan Davy berubah menjadi sendu saat menatap sang kekasih hati.
" Takut apa? "
" Belum apa apa sudah ada yang berusaha menggoda kamu di depan aku de. Aku takut kamu bakal tergoda. Apalagi kebanyakan laki laki disini kayanya orang kaya ga kaya aku. " kini Davy langsung tertunduk lesu.
__ADS_1
" Ka..." Marissa memberanikan diri untuk menangkup wajah Davy agar bisa melihat ke arah wajahnya.
" Walaupun banyak yang lebih ganteng lebih kaya dari kaka ngga bakal ngerubah perasaan aku ke kaka. Kalau ada yang pasti untuk apa mencari yang mungkin. Kaka percaya kan sama aku?" Davy hanya diam ia masih merasa ragu.
" Ya udah kalo kaka ragu sama aku, lebih baik aku ga lanjut sekolah aja. Daripada hubungan kita yang rusak. Aku ga mau gara gara aku kuliah kaka jadi mikir yang macem macem. Aku ga mau pisah sama kaka... " lirih Marissa.
" Jangan de, kamu harus tetap lanjutin kuliah. Maaf ya kaka udah egois. Gara gara kaka kamu jadi berubah pikiran lagi. " Davy merasa bersalah.
" Udah ah yu ka kita pulang kaka harus kerja lagi kan. Nanti telat loh. Jangan banyak pikiran kalo memang kaka ragu lebih baik aku ga usah kuliah aja ga papa." Marissa memasang senyum termanisnya. " Kita nikah aja. " kekeh nya.
" Serius kamu mau de? "
" Dua rius malahan. "
" Iya kita nikah tapi nanti ya kalo kamu udah mulai kuliah. Kaka nyari modal dulu buat nikahan. "
__ADS_1