
Setelah melewati persidangan yang cukup menguras tenaga dan pikiran akhirnya Bu Rina telah resmi bercerai. Sikap Pa Setiyawan yang telah menelantarkan istri dan anaknya selama beberapa bulan ini mempermudah proses perceraian.
" Maafin Ibu ya Ca.. " lirih Bu Rina.
" Bu Ibu tak perlu minta maaf, ini semua bukan salah Ibu. Mungkin ini ujian dari Alloh untuk keluarga kita Bu."
" Benar kata Marissa Rin, kamu sudah mati-matian mempertahankan rumah tangga mu, tapi tetap saja Setiyawan tak pernah menunjukan itikad baik nya. Kamu berhak bahagia nak. Kamu wanita yang kuat, ayah yakin kamu pasti bisa melewati semua cobaan ini. Kami akan selalu berada di sampingmu." Kake memeluk putri kesayangan nya itu ia menumpahkan semua kasih sayang nya untuk Bu Rina.
" Terima kasih Ayah Marissa. Kalian sudah mendukung semua keputusan ini. "
" Iya Bu kita jalani semua ujian ini bersama. Kita pasti bisa Bu. "
Tanpa terasa air mata mereka keluar dengan sendirinya. Bu Rina sangat sedih karena rumah tangga yang di bangun nya selama hampir dua puluh lima tahun bersama Pa Setiyawan harus hancur begitu saja.
Ia berjanji pada dirinya sendiri ini terakhir kalinya dia menangis gara-gara Pa Setiyawan. Ia ingin melupakan semua kesedihan nya dan menata kembali hidupnya.
Bu Rina kembali ke kamar nya setelah berpamitan pada ayahnya dan Marissa. Ia ingin menenangkan pikiran nya. Mulai sekarang ia harus siap menyandang status janda nya. Status yang membuat beberapa wanita merasa rendah. Karena banyak yang menuding jika status janda itu wanita nakal.
Memang seperti itu lah kebanyakan orang menganggap jika seorang janda itu wanita gampangan. Meskipun mereka selalu menjaga kehormatan nya ada saja yang berani menggoda bahkan melecehkan nya.
Mungkin sebagian janda ada yang gampangan. Tapi banyak juga wanita yang berstatus janda itu wanita terhormat.
Dengan sedih Bu Rina menatap foto pernikahan nya dulu dengan Pa Setiyawan. Di usap nya wajah tampan yang sudah menghiasi hari-hari nya selama dua puluh lima tahun ini.
__ADS_1
" Mas... mengapa kamu begitu tega menghianati ku mas. Dulu kita selalu bisa melewati semua ujian yang datang bersama-sama. Kehilang anak bungsu kita yang masih ku kandung, kehilangan orang tua, bahkan jatuh bangun usaha kita bisa melewati semua nya bersama mas. Tapi kenapa sekarang dengan mudah nya kamu meninggalkan ku mas..
Apa salah ku mas? hingga kau berani berbuat kasar pada ku setelah mengenal dia. Dulu kita hidup begitu harmonis, aku sungguh sangat bersyukur karena memiliki suami yang pengertian dan perhatian seperti dirimu.
Semoga kau bahagia mas dengan pilihan mu sekarang. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu." Bu Rina mengambil foto itu dan memeluknya untuk yang terakhir kali lalu ua menyobek foto Pa Setiyawan.
" Seperti foto ini lah hati ku mas, hancur.. " Bu Rina langsung menyeka air mata nya. " Aku pastikan mas ini air mata terakhir ku untuk mu." dengan penuh keyakinan Bu Rina kembali mencari semua barang yang memiliki kenangan dengan Pa Setiyawan untuk membuang nya dan semua kenangan manis nya selama berumah tangga.
Dengan cepat Bu Rina memasukan semua barang itu ke dalam karung lalu membuang nya ke tempat sampah. Kake dan Marissa hanya melihat saja tanpa bertanya karena mereka takut akan melukai hati Bu Rina dengan pertanyaan nya.
" Selamat tinggal mas. "
Itulah ucapan terakhir Bu Rina setelah membuang semua barang-barang itu. Lalu dia tersenyum, pandangan nya menatap jauh kedepan. Bu Rina yakin meski hidup tanpa Pa Setiyawan ia akan sanggup melewati semua nya dengan baik.
" Bu, sedang apa? Ada yang bisa Davy bantu? "
" Astaga nak Davy bikin Ibu kaget aja. Oh ngga nak ini Ibu lagi buang sampah. Soalnya sampah udah numpuk belum sempet di buang." Bu Rina menjawab dengan gugup.
" Oh begitu, jika Ibu perlu bantuan bilang saja Bu tak perlu sungkan. Oh iya bu Marissa nya ada?"
" Ada nak mari masuk" Bu Rina dan Davy masuk bersama.
Akhirnya Davy, Bu Rina dan Kake mengobrol bersama beberapa saat di ruang tamu. Bu Rina sudah tak terlihat begitu sedih lagi namun mata nya masih nampak merah dan sembab akibat menangis tadi.
__ADS_1
" Bu apa boleh saya mengajak Marissa jalan-jalan? "
" Iya silahkan nak asal jangan sampai malam saja main nya. "
Setelah mendapatkan ijin dari Bu Rina Davy dan Marissa langsung pergi. Davy sebenarnya sudah mengetahui kabar jika ibu Rina sudah resmi bercerai dari Marissa. Untuk itulah dia datang untuk menghibur Marissa.
Davy sengaja membawa Marissa ke tempat favorit nya yaitu sawah. Ya Marissa memang sangat menyukai sawah yang terhampar luas dengan aroma khas padi yang menghijau. Seolah aroma itu dapat menenangkan hati nya.
Sesampainya di tempat tujuan mereka, Marissa langsung menghirup udara dalam dalam. Seolah ia ingin memenuhi semua paru-paru nya dengan aroma itu. Ia memejamkan mata sambil menikmati semilir angin yang berhembus menerpa tubuh nya.
Cuaca panas tak pernah menyurutkan niat nya untuk mendatangi sawah. Davy membiarkan dulu Marissa untuk menikmati pemandangan sawah yang hijau membentang. Ia ingin Marissa lebih tenang.
" Ka.. makasih ya udah ajak aku kesini. Aku merasa lebih tenang sekarang. "
" Apapun untuk putri kecil Kaka yang cantik. "
Marissa duduk di bawah pohon pinggir sawah. Ia duduk termenung melihat padi yang bergerak kekiri dan ke kanan di tiup angin. Rasa sakit akibat perpisahan orang tua nya sedikit berkurang.
Buliran air mata terjatuh di pipi nya yang putih. Entah seperti apa hatinya saat ini Marissa pun tak bisa menggambarkan nya.
" Dek semua pasti baik-baik saja. Kaka akan selalu menemani mu. Jangan pernah merasa sendirian di dunia ini ya masih ada kaka yang akan selalu ada buat kamu. "
" Iya Ka, terima kasih untuk semua hal yang telah kaka lakukan untuk ku. Aku sangat bersukur memiliki kaka di hidup ku yang tidak mudah ini. "
__ADS_1