
Saat Davy merasa jika Marissa sudah tenang ia memilih kembali bekerja. Walaupun hatinya sedikit ta rela jika harus meninggalkan Marissa dalam kondisi nya saat ini. Tapi ia meyakinkan dirinya jika Marissa gadis yang kuat, apalagi Bu Rina berada di samping nya saat ini.
Davy berusaha menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat agar ia bisa pulang lebih awal. Walaupun waktunya tersita dua jam tadi tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan nya. Itulah yang membuat atasanya itu begitu mengagumi pekerjaan Davy.
Walau terbilang masih baru namun pekerjaan Davy sangat rapih. Ia termasuk pekerja yang jujur dan cekatan. Banyak nasabah yang puas dengan kerja cepat Davy bahkan kadang mereka tak segan memberi tips pada Davy. Walaupun ia sering menolak tapi mereka tetap memaksa, sebagai ucapan terimakasih katanya.
Waktu hampir menunjukan pukul lima sore sudah waktunya ia pulang. Ia membereskan berkas berkas nasabah yang akan melakukan pencairan besok. Ia kemudian menyerahkan nya pada atasan nya.
" Apa sudah selesai Dav? " Tanya pa Brata sang atasan.
" Iya Pa. Maaf saya telat. " Davy tak enak hati karena ia memberikan berkas berkas itu mepet jam pulang.
" Tidak apa apa. Saya bisa membawanya kerumah. Oh ia bagaimana keadaan calon istrimu? Apa terjadi hal yang serius? " Pa Brata memang orang yang ramah ia tak segan untuk menanyakan kondisi karyawannya. Itulah sebabnya banyak yang betah kerja bersamanya. Dari banyak nya cabang hanya disinilah peningkatan pendapatan nya yang terbilang menonjol. Mungkin karena suasana kantor yang di ciptakan pa Brata begitu nyaman.
" Dia tidak apa apa pak, hanya ada masalah sedikit. Terimakasih atas perhatian bapa. " sungkan Davy. Is aga sedikit menunduk memberi hormat pada sang atasan.
" Syukur lah jika begitu. Tidak perlu sungkan seperti itu. Ah iya kamu boleh pulang. "
__ADS_1
" Terimakasih pa. Saya permisi. " Davy langsung undur diri. Ia ingin segera menyelesaikan urusan nya dengan Adit.
🌹🌹🌹🌹🌹
Jarak kantor dengan tempat Adit dan teman teman nya biasa nongkrong tidaklah terlalu jauh sehingga Davy hanya memerlukan waktu sekitar sepuluh menit saja untuk sampai di lokasi.
Davy buru buru masuk kedalam rumah yang sering mereka sebut basecamp. Sebelum mengenal Marissa ia pun sering berada di tempat ini namun sekarang sekarang ini Davy lebih sering menghabiskan waktunya bersama Marissa.
" Bang si Adit mana? " Tanya Davy pada Arif yang memang usianya lebih tua darinya.
" Gue ada urusan sedikit bang. Tadi gue mampir ke rumahnya ga ada. " Davy turut duduk di sebelah Arif. Memang sebelum ia ke base camp ia mampir di rumah Adit yang kebetulan satu arah dengan arah base camp.
" Dia bikin ulah lagi? " Tanya Arif serius. Memang di antara mereka Adit lah yang paling sering membuat masalah. Davy hanya mengangguk lemah.
" Ulah apa lagi yang di buat tuh anak. Dia gangguin lo?"
" Bukan gue bang tapi calon bini gue. Dia nyamperin cewe gue ke kampus. Ia hampir ngelecehin Cewe gue untung Yogi, Jaka sama Deni buru buru bantuan cewe gue. " dada Davy bergemuruh jika mengingat kembali kejadian itu.
__ADS_1
" Kurang ajar. " Arif pun ikut kesal mendengar cerita Davy. Ia memposisikan dirinya yang berada di posisi Davy saat ini. " Gue pasti bantuin lo. Biar kita bikin pelajaran buat dia. Dia sudah bikin malu geng kita." Beberapa teman yang ada di sana pun ikut mengangguk.
Melupakan sejenak kemarahan mereka, mereka memilih kembali bernyanyi sambil menunggu Adit datang.
Davy menyanyikan lagu melepaskan lajang sambil menepuk gitar. Suasana hati yang kacau tiba tiba mereda saat ia mengingat akan segera menikahi Marissa. Semua teman nya bersorak mendengar nyanyian Davy.
...Oh, mungkin saat ini ku akan melepas masa lajang ku...
...Kan ku persunting dirimu...
...Jadilah pasangan ku dan hidup menua bersamaku...
...Terimalah cintaku......
Bait terahir yang dinyanyikan Davy membuat teman nya bersorak. Ada beberapa yang memvideokan bahkan ada yang mengadakan live di akun medsosnya saat Davy bernyanyi. Davy begitu menghayati lagu itu.
Ada beberapa teman Davy yang berteman dengan Marissa mentag akun medsos Marissa.
__ADS_1