
Suara ribut di rumah nene Yanti mengundang perhatian Marissa dan Davy yang tengah mengobrol santai. Terdengar sesuatu barang yang jatuh begitu keras. Jarak rumah yang bersebelahan membuat mereka dapat mendengar dengan jelas.
Dengan terburu buru mereka berlari menuju rumah nene Yanti. Mereka kawatir terjadi sesuatu yang buruk pada nene Yanti.
Beberapa kali Davy mengetuk pintu dan memanggil manggil nene Yanti namun tak ada sahutan dari sang empunya rumah.
Marissa segera menuju pintu belakang berharap pintu itu tak terkunci. Sementara Davy terus berteriak memanggil ne Yanti dari pintu depan. Beruntung dugaan Marissa benar pintu belakang rumah ne Yanti tak terkunci.
" Ka..... " teriak Marissa histeris saat melihat ne Yanti tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Davy segera menghampiri Marissa dan sama terkejutnya. Di raih nya tangan ne Yanti memastikan kondisi perempuan tua itu.
" Sepertinya ne Yanti pingsan de. Cepat cari bantuan de, kita bawa ne Yanti ke rumah sakit sekarang. "
Tanpa pikir panjang Marissa segera berlari meminta bantuan beberapa tetangga yang berada di sekitar rumah nya. Bahkan salah satu warga dengan sukarela bersedia membantu mengantar ne Yanti ke rumah sakit dengan mobil nya.
Setelah mobil siap Davy dengan sigap membawa ne Yanti ke mobil agar bisa segera di tolong. Marissa dan Davy turut mengantar ne Yanti ke rumah sakit. Bahkan saking paniknya mereka lupa mengabari anak anak ne Yanti.
__ADS_1
" Apa kalian sudah mengabari keluarga ne Yanti? " tanya pa Yanto, bapa bapa baik hati yang bersedia mengantar ke rumah sakit dengan mobilnya.
" Astaga, saya lupa pa. Akan saya hubungi mereka sekarang." Davy segera menelpon salah satu anak ne Yanti yang ia miliki kontak nya. Davy dan Marissa memang sengaja meminta salah satu kontak anak ne Yanti agar mudah menghubungi jika terjadi hal semacam ini. Usia ne Yanti yang tak lagi muda memang menjadi salah satu alasan mereka.
Di usia nya yang renta ne Yanti masih saja selalu menolak ajakan anak anak nya untuk tinggal bersama salah satu anak nya.
Setelah tiba di rumah sakit mereka segera membawa ne Yanti ke ruang IGD agar segera mendapatkan perawatan.
Karena merasa tugas nya sudah selesai Pa Yanto memutuskan untuk berpamitan pulang. Waktu yang memang sudah menunjukan pukul sembilan malam memaksanya untuk pulang. Rasa lelah dan ngantuk sudah pa Yanto rasakan setelah seharian bekerja.
" Nak Davy, nak Marissa maaf bapa tidak bisa menemani kalian. Bapa pamit ya pulang duluan. Tidak apa apa kan? "
" Sama sama nak Davy. Mari. " Pa Yanto pun berlalu pergi.
Davy dan Marissa masih menunggu di depan IGD. Mereka berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada ne Yanti.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit tampak keluar seorang dokter dari ruang IGD.
" Keluarga Bu Yanti? "
" Saya tetangganya dok, anak anak beliau mungkin sebentar lagi akan datang. Bagaimana keadaan ne Yanti Dok? " Marissa sangat mengawatirkan ne Yanti. Ia sudah menganggap Ne Yanti seperti nenek nya sendiri.
" Oh, ya sudah tidak apa apa. Bu Yanti sudah sadar, hanya saja tekanan darah nya cukup tinggi. Kondisi di usia Bu Yanti memang sangat rentan. Kalian bisa menjenguknya jika sudah di pindahkan ke ruang rawat. Saya permisi. "
" Terimakasih dok. "
Marissa dan Davy segera menemui ne Yanti saat perempuan tua itu sudah berada di ruang rawat nya.
" Terimakasih kalian sudah menolong nenek. " nenek Yanti menggenggam tangan Marissa.
" Iya ne sama sama. Apa yang terjadi ne? kami mendengar suara ribut tadi. " Davy dan Marissa duduk di tepi ranjang ne Yanti.
__ADS_1
" Tadi nene mau ambil minum di dapur untuk minum obat karena kepala nene tiba tiba pusing. Tapi nene tak sanggup menahan sakitnya agirnya nene jatuh. Setelah itu nene tak ingat lagi. Yang nene ingat seolah suami nene memeluk nene."
Davy dan Marissa hanya bisa saling melirik. Bahkan di saat orang yang ia cintai itu sudah tak ada ne Yanti masih saja merasakan cinta yang begitu besar untuk suaminya.