
Selepas kepergian Davy suasana mendadak canggung. Baik Marissa ataupun Pa Setiyawan tak ada yang bersuara.
" Ca.. tolong maafin ayah. " Hingga suara pa Setiyawan terdengar terlebih dulu. Entah mengapa suaranya sedikit bergetar. Mungkin ia benar benar menyesali perbuatan nya.
" Ayah tau mungkin ini sulit buat kamu, tapi ayah mohon maafkan segala kesalahan ayah. "
" Meminta maaf itu mudah yah. Tapi berusaha untuk tidak mengulangi nya lagi yang susah. " Ketus Marissa entah mengapa hatinya yang tadi mulai tenang saat bersama Davy kini mulai panas lagi. Bayangan pengusiran nya dari rumah saat itu kembali menenuhi memori nya.
" Ayah tau kamu kecewa ca. Ayah akan terima apa pun hukuman kamu. Tapi ayah mohon jangan jauhi ayah. Ayah sangat sayang sama kamu Ca. Kamu boleh marah kamu boleh benci sama ayah tapi ayah mohon jangan jauhi ayah." air mata Marissa keluar begitu saja. Ia juga tak menginginkan hal itu. Tapi keadaan yang memaksanya.
Dengan segera pa Setiyawan mambawa Marissa kedalam pelukan nya. Ia tau jika Marissa juga sangat menyayangi nya. Mereka tak memperdulikan sekitar yang melihat mereka menangis bersama.
" Maafkan ayah ca.. maaf... "
__ADS_1
Setelah puas mereka menangis mereka melerai pelukan nya.
" Maafkan ayah nak. Ayah sungguh menyesal. "
" Tidak apa apa yah. Aku mengerti. Aku juga minta maaf sama ayah. "
Tak hanya hati Marissa dan Pa Setiyawan yang tengah bahagia. Davy yang juga memperhatikan mereka dari jauh ikut tersenyum. Ia senang karena Marissa dapat berbesar hati memaafkan ayah nya.
" Kamu memang istimewa de. Ga semua orang bisa seperti kamu. Banyak orang yang lebih memilih hidup dalam kebencian yang akan menghancurkan diri mereka sendiri. Jika aku berada di posisi mu pun aku ga tau bakal sanggup atau ngga seperti kamu. " Davy tersenyum sambil tetus menatap ayah dan anak yang tengah berbincang itu.
Waktu sudah menunjukan jam empat sore pa Setiyawan pamit pulang. Davy segera menghampiri Marissa dengan sebotol air mineral dan beberapa makanan ringan.
" Gimana lega. " ia menyodorkan botol minuman itu. " Nih minum biar otak bekerja dengan maksimal. "
__ADS_1
" Aku kega ka. Benar kata kaka hidup dalam kebencian hanya akan menghancurkan diri sendiri. Aku berharap ayah benar benar berubah dan menepati janjinya." Marissa langsung meneguk air itu hingga tinggal setengah nya. Ia begitu haus.
" Astaga de. Haus apa rakus? "
" Issshh... haus sambil rakus. " Marissa terkekeh. Ia langsung merebut makanan ringan yang di bawa Davy. Nafsu makan nya tiba tiba bertambah berkali lipat. Mungkin karena pertemuan nya tadi dengan sang ayah begitu menguras emosi. Ia langsung melahap nya.
" Heran deh de sama kamu. Makan di depan pacar ga ada jaim jaim nya. " Davy terkekeh dengan tingkah Marissa yang selal yg apa adanya.
" Biarin. Lagian buat apa berusaha jadi orang lain bikin cape. Kalo emang pasangan kita itu suka ya dia pasti bakal nerima kita apa adanya. Ngga perlu jadi orang lain biar terlihat menarik." Ua berbicara sambil makan. Tanpa perduli tanggapan Davy.
" Iya kamu bener. " Davy melihat makanan yang hampir habis. " Buset de. Kamu kecil kecil rakus juga. Tapi heran badan mu ga gendut gendut. "
" Ya gini deh kalo badan model. " Davy ikut tersenyum. Ia bahagia kekasihnya itu tak lagi murung.
__ADS_1