
Walaupun hati nya begitu sakit namun Bu Rina merasa inilah keputusan yang benar saat ini. Karena dia ta mau jika harga diri nya terus di injak - injak.
Meski dengan berat hati dia harus segera menata kembali hati nya, agar Marissa ta menjadi korban kehancuran keluarganya.
" Ca kamu udah pulang?" saat Bu Rina masuk nampak Marissa tengah ngobrol dengan kake nya.
"Udah Bu ini baru nyampe. Ibu dari mana Bu tumben? "
" Habis ketemu ayah kamu Ca. Ayah udah minum obat? " Kake hanya mengangguk. Lalu Bu Rina membawa kake ke kamar untuk istirahat.
Marissa ta ingin bertanya lebih jauh karena dia takut menyakiti Ibu nya. Marissa dapat melihat raut wajah lelah Ibu nya. Marissa tau jika Ibu nya sedang ada masalah.
" Ada apa lagi dengan ayah? kenapa Ibu sepertinya begitu sedih. Pasti gara - gara nenek sihir itu. "
Karena merasa penasaran Marissa memutuskan untuk datang ke rumah ayah nya.
Dengan cepat Marissa pergi setelah pamit pada Ibu nya untuk bermain. Ya Marissa sengaja berbohong agar Ibunya ta merasa khawatir.
" Ayah.. ini Marissa yah. " Marissa mengetuk pintu setelah dia sampai di rumah Ayah nya.
" Kamu lagi ada apa? " Bu Ida keluar dengan wajah judes nya.
" Aku mau bicara sama Ayah. "
" Ayah kamu ga ada dia belum pulang. Bukan kah saya sudah pernah bilang jangan pernah kesini lagi! apa kamu begitu bodoh hingga ta mengerti ucapan saya. "
" Siapa yang datang Da? " Pa Setiyawan keluar dari rumah. " Oh anak Ayah ko ga masuk malah ngobrol di luar? "
__ADS_1
" Eh iya nih mas, Marissa nya ga mau di ajak masuk. " Bu Ida pura. - pura baik di depan Pa Setiyawan. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
" Kebetulan kamu kesini Ca Ayah tadi abis beli ayam kesukaan kamu ayo masuk kita makan bareng. " ajak Pa Setiyawan Marissa yang sudah lama ta di perhatikan ayah nya menjadi senang. Dengan senang hati dia mengikuti langkah ayah nya.
" Da ayam yang aku beli mana ko ngga ada?" teriak Pa Setiyawan dia merasa heran karena ayam yang dia beli seketika ta ada. Namun ta ada jawaban dari Bu Ida. Dengan kesal Pa Setiyawan mencari. Alangkah terkejutnya Pa Setiyawan saat dia menemukan ayam itu di lemari dengan kesal dia mengambilnya dan memberikan pada Marissa.
Pa Setiyawan merasa tidak enak hati pada Marissa akan kelakuan istri muda nya itu. Dia merasa telah melakukan kesalahan besar.
Walaupun enggan Marissa tetap memakan ayam itu bersama ayah nya. Air mata Marissa seolah ta bisa di tahan. Air mata itu jatuh begitu deras.
" Ca kamu menangis? " tanya Pa Setiyawan saat melihat air mata Marissa terjatuh.
" Apa ini yang ayah ingin kan yah? Apa kehidupan yang seperti ini yang ayah mau? kenapa ayah tega menghancurkan keluarga kita yah, kenapa? " tangis Marissa pecah.
" Maafkan ayah nak tapi ini semua bukan sepenuhnya salah Ayah. Ibu mu tetap ingin bercerai dengan Ayah. "
Bahkan saat Ayah ta pulang setiap malam aku tau Ayah berada dimana. Aku anak Ayah jadi aku tau sekecil apa pun perubahan Ayah.
Apa ayah tau Ibu setiap hari berbohong pada kami saat kami bertanya tentang keberadaan Ayah? Apa Ayah tau setiap malam aku dan ka Silvy mendengar Ibu menagis di kamar dan berpura - pura tegar di hadapan kami. Iya Yah Ibu sama sekali ta pernah memberitahukan tentang kebusukan Ayah dan tante Ida. Ibu selalu menjaga nama baik Ayah.
Dan sekarang baik Ka Silvy atau pun Marissa mendukung penuh keputusan Ibu untuk bercerai dengan Ayah. " Marissa bicara dengan emosi yang meledak ledak.
" Bagus jika Ibu kalian tau diri dan meminra cerai. Karena Ayah kalian lebih pantas hidup dengan ku. " suara Bu ida memperkeruh keadaan.
" Diam kamu Ida jika bukan karena kamu menjebak ku aku tidak akan mungkin menikahimu. " bentak Pa Setiyawan.
" Sudah lah Mas jangan pura-pura bukan kah kamu sendiri yang memintaku untuk menikah dengan mu. Bahkan kamu setiap malam menginginkan aku untuk tidur menemani mu dan meninggalkan istri mu di rumah sendirian."
__ADS_1
Karena sudah ta tahan Marissa segera pergi meninggalkan Ayah dan Ibu tirinya yang tengah berdebat. Marissa ta menghiraukan panggilan Ayahnya. Dia hanya terus berlari sambil menangis.
Marissa berlari menuju rumah kaka nya Silvy yang terletak ta jauh dari rumah Bu Ida. Hanya perlu berjalan beberapa meter dia sudah sampai. Nampak kaka nya tengah duduk di luar rumah bersama tetangganya.
" Ka... "
" Kamu kenapa Ca? " Silvy langsung menghampiri Marissa dan memeluknya.
" Aku bertengkar sama Ayah Ka." Silvy membiarkan Marissa menenangkan diri dulu. Dia membiarkan adik nya itu menangis mengeluarkan semua emosi kekesalan kekecewaan nya.
Karena merasa kasihan pada Marissa akhirnya Silvy menelpon Davy. Silvy tau hanya Davy yang bisa menghibur Marissa saat ini. Hanya menunggu setengah jam Davy telah sampai.
Marissa masih menangis ta henti - henti air mata nya seolah susah untuk berhenti. Silvy sudah berusaha membujuk Marissa namun semu nya sia - sia. Silvy tau betul perasaan Marissa karena dia pun merasakan hal yang sama. Namun kondisi Marissa yang masih labil membuat nya lebih tertekan. Berbeda dengan Silvy yang memang telah dewasa.
Hubungan Marissa dan Davy memang sudah di ketahui oleh keluarga masing-masing. Itu sebab nya Silvy ta sungkan meminta bantuan Davy.
" De kamu kenapa?" Davy langsung menghampiri Marissa setelah mendengar cerita Ka Silvy. Marissa hanya menangis karena ta tega melihat orang yang paling ia sayang terlihat begitu kacau Davy segera memeluk Marissa. Davy mengelus punggung Marissa untuk menenangkan nya.
" Kenapa De? cerita sama Kaka. Ga baik nyimpen masalah sendiri. Kamu masih inget kan ucapan Kaka kalau kamu itu ngga sendiri masih ada Kaka De. Kaka mungkin ga bisa bantu nyelesain masalah kamu tapi seenggaknya kamu bisa lebih lega kalo cerita sama Kaka."
Setelah kehadiran Davy Marissa menjadi lebih tenang. Dia mulai menceritakan kejadian yang dia alami. Silvy dan Davy mendengarkan cerita Marissa. Davy merasa sedih mendengar cerita Marissa bahkan Kaka nya Silvy sudah beberapa kali menyeka air mata nya.
Setelah mereka berbicara panjang lebar akhirnya Marissa memutuskan untuk pulang bersama Davy.
Davy sengaja ta langsung membawa Marissa pulang dia sengaja mampir di rumah makan yang menjual ayam kesukaan Marissa. Davy ingin membuat Marissa bahagia.
" De kita makan dulu ya Kaka laper soal nya belum sempat makan tadi." Marissa hanya mengiyakan saja. Karena dia juga lapar setelah menangis hampir satu jam.
__ADS_1
" Ka makasih ya sudah selalu ada buat Marissa. Marissa beruntung punya pacar yang pengertian kaya kaka. "